Jokowi dan Prabowo, Tokoh Sentral Politik Indonesia 2014

 Jokowi dan Prabowo, Tokoh Sentral Politik Indonesia 2014
Jokowi dan Prabowo Subianto ( Foto: Istimewa )
Yeremia Sukoyo / FER Jumat, 2 Januari 2015 | 21:41 WIB

Jakarta - Politisi Partai Nasional Demokrat (NasDem), Taufik Basari, mengakui, sepanjang 2014 ada dua tokoh sentral yang paling banyak dibicarakan orang, yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Keduanya merupakan tokoh sentral yang sedikit banyak telah membawa perubahan dalam proses pemilu yang dramatis.

"Kedua sosok ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan yang berada pada titik paling ujung," kata Taufik yang juga Ketua Bidang Hukum, Advokasi & HAM DPP Partai NasDem, Jumat {2/1).

Jokowi, kata dia, masyarakat melihatnya sebagai sosok yang sederhana, merakyat, simpel, dan lugas. Publik melihatnya seperti keseharian kebanyakan orang. Tidak heran ketika saat mendukung pencalonannya, Partai NasDem ikut menyuarakan tagline “Jokowi adalah Kita” karena memang yang dirasakan Jokowi adalah rakyat juga.

"Yang dirasakan ya Jokowi adalah kita-kita ini. Jokowi punya kesempatan maju sebagai presiden, mulai dari Walikota dan Gubernur. Tetapi pembawaannya dalam memimpin seperti keseharian kita-kita ini. jauh dari soosk kebanyakan orang," ucap pria yang akrab disapa Tobas ini.

Sedangkan sosok Prabowo masih dilihat orang sebagai tokoh yang seperti pejabat. Bisa dilihat dari ketika berbicara, ketika menyampaikan sesuatu itu berjarak karena memang karakternya adalah karakter pemimpin yang ada sejak dari zaman orde baru.

"Benar-benar harus ditempatkan sebagai orang yang dihormati sehingga menimbulkan jarak," ujarnya.

Dalam hal keunggulan Prabowo, dikatakan, Mantan Danjen Kopassus itu dinilainya sebagai sosok yang cerdas, punya kemampuan bahasa dan berbicara, sehingga masyarakat melihat yang bersangkutan sebagai tokoh yang mampu menjelaskan apa yang menjadi pokok pikirannya dengan baik.

"Kemudian gaya berbicaranya (Prabowo) yang kharismatik. Pada akhirnya ketokohan model seperti ini ternyata juga banyak disukai publik," kata Tobas.

Dari sisi rekam jejak, menurutnya kedua tokoh tersebut juga berada di titik paling ujung. Jokowi dianggap sebagai harapan baru karena tidak punya keterkaitan sama sekali dengan orde baru (Orba), tidak pernah terlibat di sebuah cacatan memori publik. Karena orang baru, maka menimbulkan harapan baru.

Sebaliknya Prabowo, ketika orang mempelajari rekam jejaknya, pasti akan melihatnya saat menjabat di petinggi militer yang penuh dengan catatan-catatan. Beban masa lalu dianggap merupakan kekuarangan besar Prabowo.

Kemudian terkait dengan ide dan gagasan, dua-duanya dinilai memiliki kesamaan ingin membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, namun caranya yang yang berbeda. Jokowi ingin membawa suatu perubahan mental publik yang dipercaya akan memberikan kemajuan bagi bangsa.

Sementara prabowo juga sama-sama punya keinginan memajukan Indonesia, namun bedanya Prabowo lebih mengutamakan soal kemandirian dan membangkitkan semangat bahwa kita bisa. "Semangat positif kedua tokoh yang semakin dikagumi," ujarnya.

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE