Budi Ditunjuk Jadi Kapolri, Ini Kata Senior Polri

Komjen Pol Budi Gunawan (wikipedia)

Oleh: Farouk Arnaz | Sabtu, 10 Januari 2015 | 05:54 WIB

Jakarta - Kendati merupakan hak prerogratif presiden, penunjukan Komjen Budi Gunawan sebagai calon tunggal untuk menggantikan Kapolri Jenderal Sutarman tak urung mendapatkan sejumlah tanggapan pro-kontra.

Mantan Wakapolri Komjen (pur) Nanan Soekarna misalnya mengatakan jika pergantian dan penunjukan Budi merupakan hal lumrah karena selama ini proses pergantian Kapolri lebih politis dibanding profesional.

"Toh selama ini begitu. Lebih politis dibanding profesional kan ? Jaman Pak Dibyo Widodo dan Pak Da'i Bachtiar kan juga begini, jenderal (bintang empat diganti sebelum waktunya) tapi lalu nganggur," sambung lulusan Akpol 78 ini.

Dimasa lalu Nanan memang pernah dinominasikan sebagai Kapolri namun presiden saat itu, Susilo Bambang Yudhoyono, lebih sreg dan memilih Jenderal (pur) Timur Pradopo sebagai Kapolri.

Jika proses pergantian Kapolri berjalan mulus dan Budi memegang tongkat Tri Brata 1 maka otomatis Sutarman memang akan non job, nganggur, tidak memegang jabatan Kapolri kendati masa aktifnya sebagai polisi masih sampai Oktober nanti.

Lain Nanan, lain pula pendapat mantan Wakapolri Komjen (pur) Oegroseno. Mantan rekan seangkatan Nanan di Akpol 78 ini mengatakan jika pergantian dan penunjukan Budi adalah proses yang fatal.

"Ini fatal banget," kata Oegroseno singkat saat dimintai tanggapan soal proses penunjukan dan pemilihan Budi menjadi orang nomor satu di tubuh korps baju coklat itu.

Sementara baik Budi maupun Sutarman belum bisa dimintai tanggapan soal proses regenerasi yang terkesan mendadak ini.

Mendadak karena Irwasum Polri Komjen Dwi Priyatno pun saat dimintai komentarnya mengaku belum tahu perihal penunjukan Budi, yang merupakan peraih Adi Makayasa alias lulusan Akpol terbaik 83 itu, sebagai calon Kapolri.

"Maaf mas, saya sendiri belum tahu," kata Dwi saat ditanya apakah dirinya sebagai Pati bintang tiga sempat mengetahui proses penunjukan nama Budi sebagai calon Kapolri.

Nama Kapolri yang ditunjuk presiden ghalibnya memang setelah presiden mendengar sejumlah pertimbangan. Misalnya pertimbangan dari Ketua Kompolnas dan Kapolri yang akan diganti.

Kapolri yang akan diganti umumnya juga telah membicarakan soal siapa penggantinya dirinya dalam proses "Wanjak" (dewan jabatan dan kepangkatan tinggi) di internal Polri dimana Dwi dan Pati Polri lainnya terlibat.

Komjen Boy Salamudin, yang kini menjabat Sestama Lemhanas, mengatakan jika mudah-mudan Kapolri yang baru punya komitmen merevolusi mental personil Polri.

"Insya Allah harus begitu," katanya.

Seperti diberitakan, Jokowi menunjuk Budi sebagai calon Kapolri dalam suratnya tertanggal 9 Januari 2015 yang ditujukan kepada ketua DPR RI.

Dalam surat yang menggunakan kop Presiden Republik Indonesia bernomor R-01/Pres/01/2015, Jokowi meminta DPR memberi persetujuan atas pengangkatan Budi sebagai Kapolri.


Sumber:
ARTIKEL TERKAIT