Kasus Gizi Buruk di Jambi Cukup Tinggi

Kasus Gizi Buruk di Jambi Cukup Tinggi
Ilustrasi anak penderita gizi buruk. ( Foto: Antara/Lucky R )
Radesman Saragih Rabu, 8 Juli 2015 | 15:00 WIB

Jakarta - Kasus gizi buruk di Provinsi Jambi cukup tinggi akibat masih rendahnya konsumsi makanan bergizi di kalangan anak-anak keluarga miskin di daerah itu. Jumlah anak yang mengalami gizi buruk di dua kota dan sembilan kabupaten di Provinsi Jambi kurun waktu Januari–Juni 2015 sebanyak 49 orang. Data kasus gizi buruk tahun ini sudah mencapai 48,58 persen dibandingkan dengan total kasus gizi buruk di daerah itu tahun lalu, yakni sebanyak 101 orang.

Demikian dikatakan Kepala Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Provinsi Jambi, Hartono pada Rapat Koordinasi Ketahanan Pangan se-Provinsi Jambi di aula kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Jambi, Kota Jambi, Rabu (8/7). Rapat yang dibuka Sekretaris Daerah (Sekda) Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jambi, Ridham Priskap tersebut dihadiri sekitar 200 orang jajaran dewan dan badan ketahanan pangan se-Provinsi Jambi.

Menurut Hartono, kasus gizi buruk di Jambi terdapat di dua kota dan sembilan kabupaten. Kasus gizi buruk yang cukup banyak terdapat di Kabupaten Merangin, sebanyak 12 kasus dan di Kota Jambi sebanyak 10 kasus. Sedangkan kasus gizi buruk di Kabupaten Tebo sebanyak sembilan kasus, Sarolangun, Batanghari masing-masing empat kasus dan Bungo tiga kasus.

Kemudian kasus gizi buruk di Kabupaten Muarojambi, Kerinci dan Kota Sungaipenuh masing-masing dua kasus dan di Kabupaten Tanjungjabung Timur satu kasus. Satu-satunya daerah yang bebas gizi buruk di Jambi hanya Kabupaten Tanjungjabung Barat.

Hartono mengatakan, selain masalah gizi buruk, jumlah anak-anak bayi lima tahun yang kekurangan gizi atau berada di bawah garis merah di Jambi juga cukup banyak. Balita yang mengalami kekurangan gizi atau di bawah garis merah di daerah tersebut Januari–Juni lalu mencapai 605 orang atau 47,08 persen dibandingkan jumlah balita kurang gizi di Jambi tahun lalu sekitar 1.285 orang.

Dikatakan Hartono, kasus gizi buruk di Jambi terutama dialami anak-anak dari keluarga miskin. Anak-anak keluarga miskin mengalami gizi buruk karena orangtua mereka tidak memiliki kecukupan pangan. Akses keluarga miskin terhadap pemenuhan kebutuhan pangan rendah karena faktor ekonomi. Kemampuan ekonomi keluarga miskin untuk memberikan asupan makanan bergizi kepada anak-anak sangat rendah karena mereka tidak memiliki penghasilan yang mencukupi.

“Warga masyarakat yang rendah dalam mengakses pangan berasal dari golongan masyarakat miskin. Jumlah warga miskin yang rawan pangan bergizi dan mencukupi di Jambi mencapai 281.750 orang atau 8,39 persen dari penduduk Jambi. Mereka tersebar di dua kota dan sembilan kabupaten di Jambi,” katanya.

Selain itu, lanjutnya, warga masyarkat di Jambi masih banyak yang belum memiliki pemahaman baik terhadap pangan, gizi dan kesehatan yang baik. Hal tersebut tercermin dari banyaknya keluarga yang tidak memberikan asupan pangan dan gizi yang cukup serta berimbang sesuai kebutuhan.

Untuk mengatasi masalah gizi tersebut, tambah Hartono, jajaran dewan ketahanan se-Provinsi Jambi berupaya terus meningkatkan produksi pangan di setiap daerah. Peningkatan produksi pangan diintensifkan agar harga kebutuhan pangan lebih murah. Dengan demikian keluarga miskin lebih mampu membeli kebutuhan pangan dengan harga murah untuk memenuhi kebutuhan pangan bergizi bagi keluarganya.

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE