Pemilik Nama Asep Sepakat Membantu Indonesia

Pemilik Nama Asep Sepakat Membantu Indonesia
Konperensi Asep Asep
Adi Marsiela Minggu, 25 Oktober 2015 | 16:08 WIB

Bandung - Sedikitnya 350 orang pemilik nama Asep berkumpul dan sepakat mengorganisir diri untuk membantu Indonesia. Kesepakatan itu mereka resmikan dalam Konperensi Asep Asep (KAA) di De Tuik, Bandung, Jawa Barat, Minggu (25/10).

Presiden Paguyuban Asep Dunia 2015-2020, Asep Kambali, mengatakan, pertemuan itu bukan sekedar silaturahmi semata.

“Kami ingin para pemilik nama Asep ini bisa memberikan kontribusi pada Indonesia lewat berbagai cara,” ujar Kambali.

Kehadiran para pemilik nama Asep ini melebihi ekspektasi Kambali. Awalnya, panitia memperkirakan pertemuan itu hanya akan diikuti sedikitnya 50 orang. Namun pada perkembangannya, peserta yang membayar registrasi dan hadir di Konperensi Asep Asep melebihi 300 orang.

Panitia akhirnya memindahkan tempat pertemuan mereka. Rencana semula di Rumah Makan Ampera lantas dipindahkan ke tempat yang lebih besar di De Tuik.

Kambali memaparkan, silaturahmi para pemilik Asep ini awalnya berlangsung secara informal. Penetapan hari jadi Paguyuban Asep disepakati pada 9 Mei 2009 lewat sebuah grup di media sosial Facebook.

“Tujuan kami mau mengidentifikasi kekuatan Asep di seluruh dunia. Potensinya besar, beragam latar belakang dan kemampuan. Ini jadi sebuah alat untuk connecting opportunity, wadah silaturahmi,” ujar Kambali.

Dia memberi contoh, pemilik rumah makan Asep Strawberry yang namanya sudah terkenal secara nasional lewat usaha kulinernya di daerah Nagreg, perbatasan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut.

“Bayangkan berapa banyak Asep yang bisa bekerja di sana? Tidak sebatas pemilik nama Asep tapi juga orang dengan nama-nama yang lain. Kalau hal seperti ini kita gabungkan jadi potensi besar untuk membantu bangsa,” terang Kambali.

Pendiri Komunitas Historia yang menghimpun para penggemar sejarah, Kambali menjelaskan, awalnya paguyuban itu untuk membangun komunikasi antara pemilik nama Asep.

“Banyak yang namanya Asep tidak percaya diri. Justru kita berusaha membangun kepercayaan diri dan potensi masing-masing,” kata Kambali lagi.

Apalagi, sambung dia, nama Asep sudah jarang diberikan sebagai nama anak. Makanya, nama Asep itu perlu dilestarikan karena tidak identik dengan nama Indonesia tapi juga menunjukkan identitas suka Sunda. Indonesia merupakan negara dengan penduduk hampir 250 juta orang. Komposisinya lebih dari 1.200 etnis dan 750-an bahasa daerah.

“Keragaman itu potensi dan kekuatan besar bangsa Indonesia. Karena tidak mungkin kita memiliki penopang yang besar jika tidak melestarikan kebudayaan sendiri,” imbuh Kambali.

Berdasarkan data panitia, pemilik nama Asep yang hadir paling jauh adalah Asep Rifal Munawar dari Kairo yang sedang menjalani kuliah.

“Ada juga yang datang dari Medan, Pangkal Pinang, Bontang, dan Bali,” terang Asep Tutuy Turyana, yang jadi penanggung jawab KAA di Bandung.

Pemilihan lokasi konferensi ini disesuaikan dengan kedekatan budaya pemilik Asep yang identik dengan suku Sunda.

“Kebetulan saja KAA yang lain Konferensi Asia Afrika digelar di Bandung juga,” imbuh Tutuy. [153]

CLOSE