Museum Bung Karno Dibuka di Bali

Museum Bung Karno Dibuka di Bali
Ketua Umum PDIP dan putri Bung Karno, Megawati Soekarnoputri meresmikan pembukaan Museum Bung Karno di Denpasar, Bali ( Foto: Beritasatu.com/Markus Junianto Sihaloho )
Markus Junianto Sihaloho / FMB Minggu, 22 November 2015 | 11:08 WIB

Denpasar, Bali - Gedung Perpustakaan Agung dan Museum Bung Karno diresmikan. Jika ada yang ingin belajar sejarah dan pernak-pernik hidup Proklamator RI itu, maka datanglah ke lokasi gedung di Jalan Raya Puputan, Denpasar, Bali, dan Anda dipastikan puas.

Peresmian Gedung Perpustakaan dan Museum itu dilaksanakan Minggu (22/11), ditandai penandatanganan prasasti oleh Putri Bung Karno sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.

Megawati hadir di acara dengan balutan baju hitam dengan garis merah di beberapa sisinya. Bersama Megawati, hadir juga Ketua DPP PDI-P Prananda Prabowo, Wasekjen PDI-P Eriko Sotarduga, Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Rieke Diah Pitaloka, Ketua DPD PDI-P Bali Wayan Koster, dan Ibu Bintang Puspayoga.

"Hari ini kita meresmikan Gedung Perpustakaan Agung dan Museum Bung Karno. Terima Kasih kepada Ibu Megawati atas kesediannya meresmikan," kata Gus Marhaen, Ketua Yayasan Perpustakaan Bung Karno, yang mengurusi barang-barang peninggalan BK.

Gedung itu bernuansa bangunan khas Bali, terdiri dari empat lantai.

Di lantai pertama, adalah perpustakaan berisi tulisan-tulisan, pidato, dan buku yang dibaca Bung Karno, maupun buku yang pernah ditulis tentang Bung Karno. Jumlahnya tak main-main, yakni 1.450.000 unit.

Di Lantai II merupakan ruangan museum berisi benda pusaka yang muncul dan mewarnai jalan hidup Bung Karno. Misalnya, barang-barang yang berada di sekitar Bung Karno saat masih kecil, kursi yang pernah dibeli dan dipakai di kediamannya, dan benda-benda lainnya.

Di lantai III, adalah koleksi lukisan berjumlah 45 unit bersama sekitar 700-an buah foto bersejarah terkait hidup Bung Karno. Ada yang asli dan ada yang hasil reproduksi. Di lantai ini, ada foto bersejarah saat Megawati baru melahirkan putra keduanya, Prananda Prabowo.

Di lantai IV adalah reproduksi tiga dimensi dari tempat peristirahatan Bung Karno dan keluarganya. Gus Marhaen mengakui bahwa pihaknya berjuang untuk mendapatkan tempat tidur Bung Karno pada 1945, saat Proklamasi RI dibacakannya bersama Moh.Hatta. Lalu ada juga meja rias Ibu Negara Fatmawati, dan miniartur Tirta Ampul.

Kata Gus Marhaen, perpustakaan dan museum itu adalah bagian dari keinginan agar masyarakat bisa belajar soal pendiri bangsanya, dan bisa merefleksikan diri soal apa yang sudah diberikan ke negara serta bangsa.

"Semoga generasi penerus bangsa dapat menikmati pemikiran dan perjalanan Bung Karno beliau yang heroik dan prinsip-prinsip yang dipegang serta dijalani semasa hidupnya," tegas Gus Marhaen.

Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE