Salah satu spesies ikan baru bernama Siphamia, sebagai contoh kayanya keanekaragaman hayati Indonesia.
Salah satu spesies ikan baru bernama Siphamia, sebagai contoh kayanya keanekaragaman hayati Indonesia. (sumber: AFP Photo/HO/Conservation International Indonesia)
Tujuan Kehati Award di antaranya menumbuhkan rasa peduli keanekaragaman hayati.

Sebuah ajang penghargaan yang diberikan kepada para pahlawan lingkungan kembali digelar. KEHATI Award yang ke-7 kali ini mengangkat tema “Keanekaragaman Hayati, Perempuan dan Pangan”.

Setelah melalui proses penilaian yang ketat, pengumuman nama-nama pemenang akan dilakukan pada 29 Februari nanti.

Kehati Award sendiri merupakan penghargaan tertinggi yang diberikan oleh Yayasan Kehati kepada perorangan maupun kelompok yang telah melakukan upaya dan karya dalam mendukung pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia

Tema kali ini dianggap sangat penting. Tejo Wahyu Jatmiko, koordinator Aliansi Desa Sejahtera yang juga menjadi salah satu penggiat di Kehati Award, mengatakan bahwa keanekaragaman hayati di Indonesia memang tidak bisa dipungkiri. Terdapat lebih dari 800 spesies tumbuhan, 77 jenis karbohidrat, 75 jenis lemak atau minyak, 26 kacang-kacangan dan lebih dari 389 buah ditemukan.

Tapi menurut Tejo politik pangan pemerintah selama ini selalu berfokus pada beras sebagai sumber karbohidrat utama masyarakat sehingga menyebabkan ketergantungan yang sangat tinggi (hampir 100 persen), kecuali bagi masyarakat di Maluku dan Papua hanya tingkat ketergantungan pada beras mencapai 80 persen.

“Kalaupun terjadi diversifikasi terjadi salah kaprah karena tidak berdasar pada pangan lokal. Konsumsi pangan lokal yang beragam beralih ke beras, terigu dan pangan olahan. Padahal Indonesia kaya keanekaragaman hayati terkait sumber pangan. Tak cuma itu pemerintah juga membuka keran impor pangan,” ujar Tejo, Selasa (21/2).

Tejo mengingatkan, diversifikasi pangan tidak hanya pada karbohidrat tapi sumber protein dan vitamin. Menurutnya, kemandirian pangan yang baik harus berbasis komunitas.

Pihak di balik penyelenggaraan penghargaan ini adalah Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (Yayasan Kehati). Didirikan di Jakarta pada tahun 1994, Yayasan Kehati adalah organisasi nirlaba yang berjuang untuk membantu upaya pelestarian dan pemanfaatan keanekaragamaan hayati secara berkesinambungan di Indonesia.

Pada pelaksanaan berbagai aktivitas di berbagai daerah di Indonesia, Yayasan Kehati selalu bertindak sebagai katalisator untuk membantu pihak-pihak yang terkait menemukan cara-cara kreatif dalam mengelola dan memanfaatkan keanekaragaman hayati.

Organisasi bekerja sama dengan berbagai institusi seperti lembaga swadaya masyarakat, perguruan tinggi, pemerintah daerah, asosiasi profesi, dan komunitas bisnis.

Salah satu tujuan dari Kehati Award adalah menumbuhkan dan mendorong minat seluruh lapisan masyarakat untuk lebih perduli, mencintai, dan mengambil peran dalam mendukung keanekaragaman hayati. Selain itu para pemenang penghargaan ini diharapkan mampu mendorong pihak lain untuk mengikuti jejak yang sama.

Ajang penghargaan yang diadakan setiap dua tahun sekali ini mulai diadakan sejak tahun 2000. Ada enam kategori yang dilombakan di ajang penghargaan ke-7 ini, yaitu Prakarsa Lestari Kehati, Pendorong Lestari Kehati, Peduli Lestari Kehati, Cipta Lestari Kehati, Citra Lestari Kehati dan Tunas Lestari Kehati.

Program ekstra kulikuler SMA Negeri 3 Denpasar bernama Madyapadma menjadi salah satu nominator pemenang Kehati Award. Madyapadma adalah kegiatan jurnalisme sekolah yang secara aktif menyebarkan berbagai informasi penting berkaitan kegiatan kepada para murid. Kelompok ekstra kulikuler ini juga aktif di bidang lainnya seperti film, televisi, radio dan online.