Foto Bukit dan gua Dago Pakar Bandung.
Bagian dalam gua Dago Pakar Bandung
Hasil superstring geolistrik Bukit Dago Pakar Bandung
Gua peninggalan Jepang dan Belanda di Bukit Dago Pakar, Bandung diduga memiliki fungsi selain gudang senjata. Apa itu?

Tim Katastropik Purba yang dibentuk Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana telah merampungkan studi awal benar tidaknya piramida di Gunung Padang dan Gunung Sadahurip. Kini tim yang beranggotakan DR. Danny Hilman, DR. Andang Bachtiar, DR. Didiet Ontowirjo,  DR. Wahyu Triyoso, DR. Hamzah Latief, DR. Irwan Meilano, Ir Juniardi dan Ir Wisnu Ariastika tengah melakukan kalibrasi geolistrik  gua peninggalan Jepang

Wisnu Agung Prasetya, Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana menuturkan dalam rilis Jumat (24/2). bahwa Tim Katastropik sedang meneliti keberadaan gua di Bukit Dago Pakar. Gua tersebut dibangun oleh Belanda dan Jepang yang diklaim sebagai lorong pertahanan  dan penyelamatan, penimbunan logistik, pembangkit listrik.

"Beberapa sumber menyebutkan gua Jepang dibangun tahun 1942. Sementara gua Belanda disebut dibangun tahun 1941, meski beberapa sumber yang lain menyebut Belanda membangun gua itu sejak tahun 1918," ujar Wisnu.

Tim Katastropik Purba melakukan riset di lokasi ini  mengingat lokasi ini dekat dengan patahan lembang yang membentang dari Maribaya sampai Cisarua yang akhir-akhir ini aktifitasnya meningkat. Tim Katastropoik Purba sehari sebelum hari raya Idul Fitri tahun lalu melakukan riset mendadak ke Cisarua yang dilanda gempa 3SR. Puluhan rumah rusak di atas patahan lembang di Cisarua. Tim memperoleh bukti kuat sesar ini aktif.

DR. Irwan Meilano dalam paper yang dikirim, menyatakan kecepatan pergerakan slip rate sesar Lembang sudah 6mm/ year. "Sudah makin besar dibanding data 2009-2010, yang hanya 1.5mm/ year," kata Irwan. Sesar adalah penampakan morfologis yang khas akibat proses tektonik. Suatu sesar dikatakan aktif bila mengalami deformasi dalam 10.000 tahun terakhir. Berdasarkan penelitian pada 2.000 tahun yang lalu pernah terjadi gempa di sekitar sesar Lembang dengan magnitud 6,8. Pada 500 tahun yang lalu, juga pernah terjadi gempa dengan magnitude 6,6. Hasil penelitian ini mengkonfirmasi hasil penelitian dan perkiraan-perkiraan sebelumnya.

Citra SPOT pengambilan Juli 2006 jelas gambarkan citra udara wilayah sekitar Gunung Tangkubanparahu, Sesar Lembang, dan Cekungan Bandung. Dari citra itu, interpretasi kelurusan2 menunjukkan kemungkinan adanya retakan-retakan yang terbentuk di permukaan bumi wilayah itu. Kelurusan paling mencolok tentu saja garis hampir berarah timur-barat, yaitu jalur struktural Sesar Lembang.

Namun selain itu, banyak kelurusan dapat diinterpretasi yang umumnya juga berarah barat-timur sejajar Sesar Lembang Di Perbukitan Dago (Bandung Utara),sekitar kota Lembang hingga lereng selatan jajaran G. Burangrang – G.Tangkubanparahu – G. Bukittunggul.

Para peneliti mempertanyakan apakah Belanda dan Jepang sengaja membangun ini sebagai upaya mitigasi dari gempa, mengingat fakta gua-gua itu masih berdiri tegar meski sekarang berada dalam hutan kawasan dan tempat pariwisata. Ataukah ada fungsi lain dari pembangunan gua tersebut.

Dari hasil Geolistrik awal terlihat  Gua-gua ini terlihat sebagai tubuh dengan nilai resistivitas sangat tinggi (30.000-50.000 Ohm.m), apakah gua-gua itu  menyimpan fungsi lain?  Seperti juga Gunung Sadahurip, kawasan Trowulan, Kawasan Batu Jaya dll. Bukit Dago Pakar masih memerlukan riset lanjutan. Jika dinyatakan cukup, maka tahap coring adalah tahap yang harus dilalui sebagai uji scientific.  

Wisnu mengutip hasil temuan periset Eka Hindra (peneliti independen Jugun Ianfu Indonesia), gua peninggalan Jepang yang dibangun pada saat balatentara Jepang melakukan invansi ke Bandung tahun 1942-1945. Gua Jepang terletak di Perbukitan Dago Pakar. Lokasi ini sangat tepat dipilih Jepang untuk pembangunan benteng pertahanan karena berada di dataran paling tinggi di atas kota Bandung.

Saat itu Jepang baru saja merebut Hindia Belanda (Indonesia) dari tangan Belanda yang menyerah tanpa syarat, setelah kalah dalam pertempuran hebat selama delapan hari dengan Kaigun Jepang di perairan Laut Jawa 8 Maret 1942.

Gua Jepang berada di dalam rimbunnya hutan rakyat  yang diresmikan pertama kali tanggal 23 Agustus 1965 oleh Gubernur Jawa Barat Brigjen (Purn) Mashudi dengan nama Taman Wisata. Kemudian berganti nama menjadi Taman Hutan Ir. H.Djuanda setelah diresmikan oleh Presiden Soeharto tanggal 14 Januari 1985. Taman hutan ini dibuka untuk umum sebagai lokasi wisata. Lokasi gua Jepang dapat ditempuh dengan berjalan kaki, letaknya sekitar 300 meter dari pintu gerbang utama.

Gua Belanda dibangun pada tahun 1918, tentu jauh lebih tua dibandingkan dengan gua Jepang. Uniknya di dalam gua terdapat rel kereta. Namun bukan rel kereta api seperti rel kereta komersial, melainkan rel itu adalah rel kereta barang yang kecil. Mungkin kalau dibayangkan mirip seperti yang biasa digunakan di area gua-gua pertambangan. Sejauh yang kita pahami selama ini, gua ini dulunya hanya digunakan sebagai markas militer, gudang senjata, serta tempat pembangkit listrik tenaga air.

Penulis: