12 Provinsi Manfaatkan Gerhana Matahari Total untuk Tarik Wisatawan

12 Provinsi Manfaatkan Gerhana Matahari Total untuk Tarik Wisatawan
Gerhana Matahari. ( Foto: Time and Date )
Hendro D Situmorang / AB Rabu, 9 Maret 2016 | 06:26 WIB

Belitung - Sebanyak 12 provinsi di Indonesia memanfaatkan peristiwa alam gerhana matahari total (GMT) hari ini untuk menarik wisatawan sebanyak mungkin ke wilayahnya.

Dalam seminar GMT di Negeri Laskar Pelangi itu, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan destinasi dalam pariwisata masa kini bukan semata-mata tempat yang bisa dipijak, bisa diraba dan kasat mata. Waktu atau public time, atau chronos juga sebuah destinasi. Karena itu, ribuan wisman asal Eropa, Amerika, Jepang, dan lainnya, berduyun-duyun ke 12 provinsi itu hanya mengejar momentum 2-3 menit GMT. Mereka tidak peduli tempatnya bagus atau tidak, wilayahnya mudah diakses atau tidak. Rumah penduduk atau home stay pun jadi. Bahkan tidur di tenda juga dijalani agar tidak kehilangan kesempatan merasakan sensasi gerhana matahari total.

"Mereka adalah pemburu-pemburu destinasi waktu! Kita beruntung, Tuhan memberi bonus GMT di Indonesia. Event utamanya diciptakan Tuhan, kita tinggal mengemas dan mempromosikan," jelas Arief Yahya yang memberikan keynote speech berjudul "Gerhana Matahari: Monumen Destinasi Waktu" itu di Belitung, Selasa (8/3).

Peristiwa gerhana matahari adalah sebuah tujuan ruang waktu. Terjadi pada waktu tertentu, pada tempat tertentu, dalam pencarian posisi dan hubungan manusia dengan alam semesta.

"Kebetulan lagi, fenomena itu melintasi Belitung, yang sedang diproyeksikan sebagai salah satu dari 10 top destinasi prioritas. Maka, serbakebetulan ini harus dimaknai sebagai salah satu tanda zaman, bahwa saatnya pariwisata menjadi andalan di masa depan," kata Arief Yahya.

"Jika Anda terbang dari Jakarta ke Belitung, Selasa (8/3), Anda seperti sedang berada di Eropa atau Amerika. Sebanyak 80 persen penumpangnya bule dan mereka membawa perlengkapan teleskop dan kamera. Mereka adalah wisman pemburu GMT. Dan mereka baru terkaget-kaget begitu melihat Belitung dengan pantai yang indah, alam yang cantik, pasir putih, laut yang bening," lanjut Arief.

Kementerian Pariwisata (Kempar) gencar mempromosikan GMT di 12 provinsi agar wisman datang. Setelah mereka melihat atraksi dan alam yang bagus, kelak mereka akan datang lagi. "Itulah mengapa kami membuat 100 event di saat GMT, biar budayanya juga ikut menjadi daya tarik yang kuat," tutur Arief.

Tugas selanjutnya adalah mengabadikan sebuah peristiwa menjadi destinasi berkelanjutan. Di sinilah pentingnya monumen yang memiliki sandaran sejarah, arkeologis, astronomi, ilmu pengetahuan, yang mengingatkan GMT 2016. Peristiwa alam yang langka dan menjadi titik balik bagi wisata "destinasi waktu".

Arief Yahya tampil berbeda pada seminar kali ini. Kalau biasanya selalu menampilkan angka-angka, destinasi, originasi, capaian, promosi, dan sebangsanya, di Belitung dia bertutur soal budaya, tradisi, sejarah dan peradaban yang dibangun sejak abad ke-7. Prasasti-prasasti kuno, doa-doa zaman dulu, yang pernah di dilakukan leluhur menjelang GMT.

Sedangkan, novelis Andrea Hirata yang hadir pada seminar itu lebih banyak menceritakan cara untuk mempromosikan Belitung melalui novel dan film Laskar Pelangi. Dia mengaku rela membiarkan siapa saja untuk menggunakan istilah "Laskar Pelangi".

"Bebas, tidak dipungut biaya royalti. Bahkan, kalau ada yang mau bayar pun saya tidak mau menerimanya," kata Andrea.

Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE