Sejumlah pemuda Dayak Kalbar berjalan saat berunjukrasa menuntut pembubaran ormas Front Pembela Islam, di sepanjang Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kamis (15/3). Dalam unjukrasa tersebut, mereka menuntut pemerintah dan aparat kepolisian untuk membubarkan FPI karena dinilai telah meresahkan masyarakat. FOTO ANTARA/Jessica Helena Wuysang/ss/nz/12
Ketua Majelis Adat Budaya Melayu Kalimantan Barat Prof Chairil Effendi menegaskan situasi di Kota Pontianak sudah kondusif.

"Suasana aman, kondusif," kata Chairil Effendi saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (16/3).

Ia mengakui, saat ini banyak informasi yang beredar di masyarakat melalui berbagai media seperti SMS, BlackBerry Messenger, atau media sosial terkait kejadian di Pontianak dalam dua hari terakhir.

Namun, lanjut dia, informasi-informasi yang beredar itu tidak dapat diyakini keakuratannya.

"Masyarakat harus pandai memilah isu-isu yang beredar," kata mantan Rektor Universitas Tanjungpura Pontianak itu.

Ia mengimbau masyarakat untuk tidak terprovokasi dengan berbagai isu yang beredar yang sifatnya memprovokasi atau menghasut.

Chairil mengajak semua pihak untuk tenang dan tetap menjaga kedamaian di Kalimantan Barat.

Forum Cinta Damai Kalbar juga meminta semua pihak menjadikan modal sosial untuk menjaga keutuhan dan ketenteraman di bumi khatulistiwa.

Koordinator Forum Cinta Damai Kalbar, Hermayani Putera juga mengharapkan ketegasan aparat dalam menindak kegiatan yang melanggar hukum.
 
Sebelumnya, Kabid Humas Polda Kalbar, AKBP Mukson Munandar menjelaskan, info kerusuhan yang marak menyebar di pesan BlackBerry dan SMS hanya dilebih-lebihkan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

"FPI dan masyarakat Dayak, hanya ribut dengan percakapan dan sifatnya hanya debat. Tidak ada tindakan anarkis. Memang, ada massa sempat turun ke jalan melakukan orasi tujuan ke markas Polda Kalbar, tapi sudah diamankan oleh aparat polisi dan TNI," katanya.

Dia menjelaskan, saat ini kondisi di lapangan sudah berjalan lancar, namun aparat keamanan tetap menjaga kota.
 
Hingga Kamis (15/3) malam, ratusan warga Dayak sempat menduduki Rumah Betang, simbol adat masyarakat Dayak Kalimantan. Mereka meradang akibat informasi ada gerakan dari Front Pembela Islam (FPI) yang mengganggu eksistensi warga setempat.

Insiden tadi malam merupakan rentetan dari peristiwa penurunan spanduk yang bertuliskan penolakan FPI yang terpampang di asrama Pangsuma di Jalan Wahid Hasyim, Kota Pontianak, Rabu (14/3) siang.
 
Keributan itu sebetulnya sudah selesai dimediasi aparat kepolisian dengan dilakukan dialog antartokoh masyarakat, perwakilan pemuda Dayak dan FPI di markas Polresta Pontianak pada malam harinya.

Namun, pada Kamis siang ratusan pemuda Dayak berdemonstrasi ke Polda Kalbar dan berlanjut hingga malam.

Polda Kalbar sebelumnya telah menurunkan sebanyak 200 personel terdiri dari 100 anggota Brimob dan 100 anggota Sabhara untuk mengamankan situasi yang terus berkembang di wilayah hukum Polresta Pontianak ini.

Sejumlah pihak meminta agar masyarakat Kalbar tetap tenang dan tidak terprovokasi isu-isu yang berkembang saat ini. 

Mereka itu di antaranya mengatasnamakan Forum Cinta Damai yang terdiri dari sejumlah pemuda berbagai etnis dan agama di Kalbar. Mereka meminta agar masyarakat Kalbar menguatkan kembali modal sosial dalam pembangunan berupa kedamaian, kerukunan, dan toleransi antaretnis, antaragama, dan antarkelompok masyarakat. 

Penulis:

Sumber:Antara