Sindikat Perdagangan Manusia dari NTT Perlakukan Korbannya Seperti Budak i

Kapolda NTT, Brigjen Polisi Drs. Eustaceus Widyo Sunaryo, didampingi Direskrim Umum Polda NTT, Kombes Pol Yudi A B Sinlaeloe.

Oleh: Yoseph A Kelen / FMB | Selasa, 23 Agustus 2016 | 16:22 WIB

Kupang - Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Nusa Tenggara Timur (NTT), Brigjen Polisi Drs. Eustaceus Widyo Sunaryo, menyayangkan perekrutan dan pengiriman Tenaga Kerja Wanita (TKW) untuk menjadi tenaga kerja di luar negeri karena seperti jual ternak sapi.

Hal itu disampaikan Brigjen Pol. Drs. Eustaceus Widyo Sunaryo, pada saat melakukan jumpa pers di Markas Polda NTT, Senin, (22/8) sore, terkait penangkap 13 orang pelaku pedagangan manusia yang beroperasi di desa-desa di wilayah NTT sejak 2015 hingga 2016.

Para pelaku yang ditangkap di wilayah Kota Kupang dan sekitarnya sebanyak 12 orang dan satu orang sedang dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara Kupang, karena sakit. Para pelaku tersebut diperlihatkan kepada wartawan dalam jumpa pers di Polda NTT.

Para pelaku berasal dari berbagai profesi antara lain petugas groundhandling Bandara El Tari Kupang, pembuat kartu tanda penduduk, akte kelahiran (palsu) serta pengurusan paspor bukan menjadi TKI melainkan paspor kunjungan atau paspor 48 dan pengiriman TKW, melalui Surabaya, Medan, Batam dan seturusnya dikirim ke luar negeri dengan harga yang mahal.

“Para tersangka juga memiliki tujuh kelompok jaringan yang bekerja mulai dari merekrut dan mengurus keberangkatan korban ke tempat tujuan, mencetak kartu tanda penduduk (KTP) palsu hingga akta kelahiran palsu. Polisi terus bekerja untuk menangkap para pelaku perekrutan TKW ilegal yang selama ini berkeliaran di desa-desa di NTT,” kata Sunaryo.

Kapolda NTT Brigjen Eustaceus Widyo Sunaryo, mengatakan para pelaku 13 orang itu tergabung dalam tujuh jaringan pelaku perdagangan manusia. Mereka juga masih memiliki jaringan yang sama dengan 14 tersangka pelaku perdagangan manusia lainnya yang saat ditahan Mabes Polri pekan lalu.

Salah satu jaringan adalah YLR, petugas outsourcing bandara El Tari Kupang, berperan sebagai agen perekrut PT CSA di Medan, Sumatera Utara. Selama dua tahun terakhir, YLR telah memberangkatkan 941 orang TKW sebagai korban perdagangan manusia.

Jumlah itu merupakan bagian dari 1.667 orang TKW korban perdagangan manusia yang diberangkatkan ke Malaysia dan Medan oleh tujuh jaringan tersebut.

Menurutnya, Jaringan YLR yang memberangkatkan Yufrinda Selan, TKI asal Kecamatan Batu Putih, Kabupaten Timor Tengah Selatan dipulangkan dalam kondisi tidak bernyawa pada 9 Juli 2016 lalu.

“Saat ini polisi sudah berhasil menyelamatkan 16 korban perdagangan manusia lainnya,” ungkap Sunaryo.

Satu korban bernama Anita dipertemukan bersama ibunya di sela-sela jumpa pers tersebut. Jaringan lain dalam kasus perdagangan manusia di NTT adalah EL, pensiunan polisi asal Polres Lembata yang sebelumnya ditangkap Mabes Polri.

Menurutnya EL ditahan Mabes Polri karena beroperasi di dua wilayah Polda yakni Polda NTT dan Polda Sumatera Utara.
Menurut Brigjen Sunaryo, polisi tetap fokus melakukan pemberantasan masalah perdagangan manusia di NTT. Perintah Presiden untuk menuntaskan masalah perdagangan manusia di NTT.

“Seperti kita ketahui bersama bahwa NTT merupakan salah satu lumbung calon korban human trafficking. Namun tugas Polisi adalah penindakan,” ujarnya.

Kapolda NTT, Sunaryo menyebut kasus perdagangan orang (human trafficking) ada tawar menawar harga seperti jual beli sapi di pasaran.

“Perdagangan orang NTT sama seperti orang jual beli barang dagangan di pasar. Ada saling tawar menawar harga yang dijual. Kalau harganya mahal dijual, kalau murah ditawarkan ke orang lain,” kita sayangkan perbuatan ini.

Selama tahun 2015 dan 2016, terang Sunaryo, sebanyak 1.667 orang NTT (korban) yang diberangkatkan ke Malaysia dan Medan oleh para pelaku. Hingga saat ini, Polres Kupang Kota telah mengidentifikasi 16 orang yang beroperasi di wilayah hukum Polda NTT, yaitu DN, DT. A, SN, EK, LN. MM. FNK. MB. R, Y, YN, SM, AR, AT dan UO.

“Ada 16 orang yang diidentifikasi itu, 13 orang sudah ditangkap dan ditahan. Dari 13 orang tersebut, satu orang sakit dan dirawat di RS. Bayangkara. Dia dikenakan wajib lapor,” terangnya menambahkan bahwa barang bukti yang berhasil disita, antara lain Tas, Paspor, KTP, printer, handphone, mobil Xenia, buku tabungan di beberapa bank dan lain-lain dari tangan pelaku penjualan orang di NTT.

Selanjutnya, Kepala Direskrim Umum Polda NTT, Kombes Pol Yudi A B Sinlaloe, menjelaskan bahwa untuk kasus ADolfina Abuk sudah tiga orang tersangka yang ditahan. Dia meminta Forum Masyarakat Peduli Kemanusiaan NTT harus terus mengawal hingga kejaksaan. Pasalnya, kasus human trafficking sering mentok di kejaksaan.

Selama ini, ungkap Yudi , beberapa kasus tindak pidana perdagangan orang selalu berujung buntu di kejaksaan. Akibatnya, tidak memberikan efek jera bagi pelaku, akhirnya sering muncul muka yang sama dengan masalah yang sama juga. “Saya minta forum atau pemerhati masalah kemanusiaan di NTT terus mengawal hingga ke kejaksaan. Kami kekurangan anggaran untuk bekerja cepat menuntaskan kasus-kasus human trafficking,” katanya.

Menanggapi kasus-kasus human trafficking, Koordinator Forum Mahasiswa Peduli Kemanusiaan (FMPK) NTT, Naitio, menegaskan bahwa terbongkarnya jaringan mafia perdagangan orang, kasus Yufrinda menjadi pintu masuk untuk membongkar kasus kematian Adolfina Abuk dan Yuliana Kana.

“Kita berharap semoga pihak Polda NTT terus membongkar jaringan mafia perdagangan orang NTT di tahun-tahun sebelumnya yang belum diusut tuntas. Selama ini yang ditangkap hanyalah perekrut lapangan. Semoga pihak kepolisian terus bekerja sama dengan gerakan rakyat agar mafia besar ini terus terbongkar hingga tuntas,” tegas Naitio.

Sementara itu, Kepala Bidang Advokasi Hukum dan HAM SINODE GMIT Kupang, Pdt. Emi Shaertian, memberikan dorongan besar agar Polda NTT terus bekerja ekstra keras membongkar dan menangkap para pelaku human trafficking. Dia juga memberikan apresiasi yang tinggi kepada jajaran Polda NTT dan Mabes Polri.

“Atas nama Gereja, saya sampaikan terima kasih kepada pihak kepolisian yang sudah bekerja maksimal. Semoga pihak kepolisian terus melindungi dan mengayomi masyarakat sehingga memberikan rasa aman,” ungkapnya.

Hadir dalam jumpa pers itu, anggota Komisi V DPRD, Aleta Baun dan Ismail Semau, Pdt. Emil Shaertian dari SINODE GMIT Kupang, Jaringan Perempuan Indonesia Timur (JPIT), Jaringan Relawan Kemanusiaan (JERUK) NTT, IRGSC dan Forum Mahasiswa Peduli Kemanusiaan (FMPK NTT).

Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Kupang, Tato Tirang mengharapkan pengungkapan kasus human trafficking dengan modus pengiriman calon tenaga kerja ilegal yang dilakukan polisi tidak hangat-hangat tai ayam. Pasalnya ia menduga masih banyak jaringan yang belum terungkap sampai saat ini.

"Saya kira masih banyak jaringan yang belum ungkap. Yang penting jangan panas-panas tahi ayam. Polisi lebih tahu peraturan dari saya. Bukan saya kasih saran," ujar Kepala BP3TKI Kupang, Tato Tirang.

Ia juga mempertanyakan upaya polisi yang baru membongkar jaringan human trafficking yang bermodus pengiriman TKI ilegal. Padahal persoalan itu sudah ada sejak dahulu sebelum diungkap. "Kenapa baru tangkap sekarang. Sedangkan dari dahulu sudah ada. Korban-korban sudah berjatuhan baru bilang ada," kata Tato.


Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT