Mendagri Ziarah ke Makam Orangtua di Semarang

Mendagri Ziarah ke Makam Orangtua di Semarang
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo berziarah ke makam orangtuanya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu, 12 November 2016. ( Foto: SuaraPembaruan/Carlos Paath )
Carlos KY Paath / CAH Sabtu, 12 November 2016 | 16:56 WIB

Semarang - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo berziarah ke makam orangtuanya di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Bergota, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Sabtu (12/11). Tiba menjelang pukul 12.00 WIB, Tjahjo duduk bersimpuh di makam ayahnya, almarhum Letnan Satu LVRI Bambang Soebandiono.

"Ini makam ayah saya," kata Tjahjo.

Tjahjo menundukkan kepala seraya memejamkan mata dan memanjatkan doa. Makam ibundanya, almarhum Siti Toeti Slemoon berada di sebelah ayahanda Tjahjo. "Banyak kenangan dengan ayah saya," kata Tjahjo.

Di sekitar juga dimakamkan adik-adik ibunda mantan Sekjen PDIP ini. Tjahjo kemudian berjalan sedikit ke atas, menuju makam kakeknya, almarhum R Ronosudirdjo. "Ini makam kakek dan nenek saya," ucapnya.

Sekadar diketahui, ziarah menjadi penutup agenda kunjungan kerja Mendagri di Jateng. Sebelumnya, pada Jumat (11/11), Tjahjo melakukan kunker.

Tjahjo sempat blusukan ke beberapa Kantor Kecamatan Demak dan Grobogan, Jateng. Kantor Kecamatan Mranggen, Demak, Jateng, menjadi tempat pertama yang dituju.

"Kecamatan ini paling jauh dengan ibu kota kabupaten, sekitar 29 kilometer. Kecamatan ini berbatasan dengan Kota Semarang, masyarakatnya banyak yang kerja di Semarang," kata Tjahjo, kemarin.

Blusukan kembali berlanjut ke Kantor Kecamatan Karangawen yang masih berlokasi di Demak. Setelah dari itu, Tjahjo mampir di Kantor Kecamatan Tegowanu, Grobogan. Dari Tegowanu, Tjahjo menuju Kantor Kecamatan Gubug dan Godong, Grobogan.

Nostalgia

Tjahjo juga mengunjungi Desa Putasari yang dulu bernama Desa Babadan, Grobogan. Di desa tersebut, Tjahjo singgah di rumah mantan Kepala Desa (kades) Babadan, almarhum Sutedjo.

Ternyata, Desa Babadan merupakan lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tjahjo, ketika masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jateng. Tjahjo menempati rumah Sutedjo semasa KKN. "Saya tiga bulan di sini tahun 1983," kata Tjahjo.

Istri Sutedjo, Jasiyem tampak bahagia atas kedatangan Tjahjo. Foto-foto saat Tjahjo KKN, masih disimpan oleh Jasiyem. "Dulu rambut saya masih gondrong, masih main band," ujar Tjahjo setelah melihat-lihat album foto.

"Kalau ke sini dulu, naik motor bebek dari Semarang."

Pada kesempatan itu, Jasiyem sama sekali tak menyangka, Tjahjo menyempatkan waktu singgah. "Enggak nyangka. Nda bisa dikata-kata. Nda nyangka bisa ketemu Pak Menteri," kata Jasiyem sewaktu ditanya perasaannya oleh wartawan.

Setelah mengenang masa-masa KKN tempo dulu, Tjahjo pun berpamitan. "Saya mau Jumatan. Saya senang ke sini, ketemu Ibu. Insha Allah bisa mampir lagi," kata Tjahjo kepada Jasiyem.

Tjahjo pun menjabat tangan serta mencium pipi kiri dan kanan Jasiyem. Tjahjo juga berfoto bersama Jasiyem dan keluarga, termasuk beberapa masyarakat yang hadir.

Tjahjo didampingi Wakil Gubernur Jateng, Heru Sudjatmoko dan Bupati Grobogan, Sri Sumarni. Tjahjo dan rombongan kemudian menuju Masjid Baitul Makmur, Purwodadi untuk melaksanakan ibadah salat Jumat.

Lebih lanjut Tjahjo berharap agar pemerintah daerah (pemda) menerapkan prinsip membangun daerah, bukan membangun di daerah. Sebab, kedua hal tersebut dinilai merupakan sesuatu yang berbeda. "Membangun Grobogan, Jawa Tengah (Jateng) dengan membangun di Grobogan itu beda. Kalau membangun di Grobogan itu berarti orang dari luar bisa masuk, tapi membangun Grobogan maknanya ialah pembangunan harus berdasar budaya, adat, geografis Grobogan," kata Tjahjo

Hal itu disampaikannya saat memberikan Pengarahan kepada Jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Grobogan, di Pendopo Kantor Bupati Grobogan, Jumat (11/11).

"Itu juga yang saya cermati kenapa pembangunan Papua ribet, karena yang selama ini terjadi yaitu membangun di Papua. Tanah-tanah Papua habis oleh pengusaha Jakarta, tapi enggak dibangun-bangun," tukas Tjahjo.

Tjahjo mengingatkan bahwa pemda kabupaten tidak hanya bupati, wakil bupati, sekretaris kabupaten, satuan kerja perangkat daerah (SKPD) hingga camat, lurah dan kepala desa. "Ingat, ada juga DPRD kabupaten. Hukumnya wajib menyusun RAPBD (Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) bersama DPRD. Perangkat pemda menyerap aspirasi masyarakat, perjuangkan aspirasi masyarakat, DPRD juga demikian," katanya.

Dia menambahkan, di kabupaten juga terdapat kepolisian, TNI, kejaksaan serta pengadilan negeri. Keseluruhan itu, menurutnya, juga bagian dari pemda. "Apakah ini cukup? Belum. Dalam setiap pengambilan keputusan politik pembangunan, seorang kepala daerah tidak cukup berkoordinasi dengan Forkopimda. Ada tokoh masyarakat, adat, agama, itu semua harus dilibatkan dengan baik," imbuhnya.



Sumber: Suara Pembaruan
CLOSE