Bom Samarinda, BNPT Diminta Perbaiki Program Deradikalisasi

Bom Samarinda, BNPT Diminta Perbaiki Program Deradikalisasi
Gereja Oikumene ( Foto: istimewa )
Markus Junianto Sihaloho / WBP Minggu, 13 November 2016 | 18:20 WIB

Jakarta - Politikus PDIP Eva Kusuma Sundari menyesalkan sekaligus mengutuk bom Samarinda yang menyebabkan sejumlah anak menjadi korban. Kejadian itu membuka mata bahwa radikalisme agama yang merupakan tren global menjadi ancaman serius di Indonesia.

"Kejadian ini juga membuka mata bahwa BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Terorisme) perlu memperbaiki program deradikalisasinya. Karena pelaku adalah eks napi teroris yang merupakan jaringan kelompok radikal yang terlibat pada kasus bom buku tahun 2011," kata Eva Sundari, Minggu (13/11).

Eva mengatakan, program deradikalisasi perlu dievalusi mendalam dan menyeluruh, sehingga ke depan pencegahan terorisme lebih efektif. Dari studi terakhir diketahui, ada interrelasi antara perilaku intoleransi - radikalisme - terorisme. Adanya intoleransi yang menguat dapat memicu perilaku self radicalism yang dapat berkembang menjadi tindakan terorisme.

"Salah satu strategi BNPT untuk memperbaiki program deradikalisasi adalah dengan membangun early warning system terhadap gejala intoleransi pada kelompok primordial tertentu," jelasnya.

BNPT dapat menyosialisasikan secara luas sehingga masyarakat aktif menjadi bagian dalam mekanisme pencegahan terorisme.

Eva mengatakan, insiden bom Samarinda memunculkan dugaan kekurangefektifan program pembinaan dalam lembaga pemasyarakatan (lapas). Selain itu, program pemantauan mantan napi teroris pascadibebaskan juga masih lemah. "Seharusnya pelaku penyerangan di Gereja Oikumene, Samarinda diawasi lebih ketat karena ia diketahui membawa bendera ISIS di Parepare pada tahun 2014 dan sempat ditahan oleh kepolisian," ulasnya.



Sumber: BeritaSatu.com
CLOSE