Kehidupan di Balik Rumah Detensi Imigrasi

Kehidupan di Balik Rumah Detensi Imigrasi
Ilustrasi ( Foto: Antara )
Minggu, 1 April 2012 | 11:42 WIB
Tak cuma bapak-bapak, anak kecil, Ibu-Ibu, remaja dan bahwa orang renta ikut mengerubungi para tamu dari Jakarta

Belasan pria putih berwajah Arab serempak berdiri ketika mendengar desingan suara besi gerbang yang dibuka.

Tak berekspresi, mereka hanya berdiri ketika Kepala Rumah Detensi Imigrasi Belawan Sumatera Utara, Muhartono masuk ke rumah mereka.

Mata mereka memandang lekat-lekat muka-muka baru yang datang bersama Muhartono.

Mereka mendengarkan (meski tak mengerti) setiap penjelasan Muhartono kepada wartawan yang saat itu berkunjung ke rumah yang difungsikan sebagai tempat penampungan imigran gelap yang masuk ke wilayah Indonesia.

Awalnya hanya belasan, kini puluhan dari mereka ikut menyaksikan inspeksi mendadak (sidak) Humas Direktorat Jenderal Imigrasi dan lima media dari Jakarta.

Tak cuma bapak-bapak, anak kecil, Ibu-Ibu, remaja dan bahwa orang renta ikut mengerubungi para tamu dari Jakarta. Mereka adalah imigran gelap dari negara-negara yang tengah dilanda konflik.

Muhartono mengatakan umumnya mereka berasal dari Afganistan, Myanmar, Sri Lanka, Pakistan dan Bangladesh.

Para imigran gelap itu berada di Rumah Detensi Imigrasi lantaran tertangkap tidak memiliki dokumen yang lengkap ketika masuk ke Wilayah Kedaulatan Negara Republik Indonesia.

Hampir setiap minggu, rumah detensi ini kedatangan penghuni baru. Muhartono mengatakan pihaknya kerap mendapat kiriman imigran gelap dari Lampung dan Aceh.

Biasanya, Muhartoyo mengatakan mereka tertangkap saat ingin melakukan penerbangan domestik menuju Jakarta. Ada pula yang berhasil diselamatkan dari peristiwa tenggelamnya kapal imigran gelap yang berlayar menuju negara ketiga, yaitu Australia.

"Penghuninya ada sekitar 141 orang. Nanti sore datang 17 orang (imigran gelap) lagi dari Lampung," kata Muhartono, Rabu (28/3) silam.

Menurut Muhartono, rumah detensi ini sudah melebihi batas maksimal penghuninya.

Imigrasi hanya menyediakan 30 kamar. Maksimal jumlah penghuni rumah tersebut adalah 120 orang.

"Ukuran kamarnya hanya 2 X 2,5 meter persegi. Sekamar isinya empat atau lima orang. Kalau enam itu kebayang kan bagaimana sempitnya," kata Muhartono.

Jumlah kamar yang terbatas dan penghuni yang terus bertambah, kata Muhartono, tidak dibarengi dengan jumlah imigran gelap yang keluar. Rumah Detensi pun semakin penuh sesak dan tak cukup lagi untuk menampung imigran tak berdokumen itu.

Muhartono mengatakan para imigran gelap itu bahkan sudah ada yang menetap di Rumah Detensi selama dua tahun.

Pihaknya tidak bisa melakukan apapun kecuali menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi dan organisasi imigrasi internasional (IOM).

Jika berdasarkan hasil pemeriksaan, imigran tersebut tergolong sebagai pengungsi, maka dalam waktu yang tak lama mereka akan segera diberangkatkan menuju negara ketiga. Akan tetapi, tetap saja, penetapan waktu pemindahan mereka ditentukan oleh negara ketiga yang akan menampung mereka.

Kabur

Muhartono mengatakan Rumah Detensi kerap diidentikan dengan penjara bagi para imigran gelap. Sebenarnya, kata Muhartono, pihaknya hanya memberi pengamanan supaya para imigran gelap tidak bertindak secara liar.

"Kami di sini sistemnya bukan penjara.Sistemnya camp tapi terbatas," kata Muhartono.

Para Imigran gelap diberikan kebebasan untuk melakukan kegiatan normal mereka. Akan tetapi, mereka dibatasi hanya bisa berkegiatan sampai batas wilayah yang sudah ditentukan.

Muhartono menceritakan pukul 09.00 WIB, mereka akan membuka pintu gerbang dan membiarkan para penghuni untuk berkegiatan. Hingga pukul 22.00 WIB ketiga gerbang ditutup, para imigran akan diberikan kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka ke depan.

"Mereka bebas bergerak. Bisa olahraga, renang, senam, voli, belajar Bahasa Inggris, belajar Bahasa Indonesia.

Pihaknya pun, kata Muhartono tidak membatasi mereka dalam menjalankan ibadah agamanya. Meski mayoritas penghuni beragama Islam, namun Muhartono terdapat perbedaan dalam melakukan ibadah.

"Kalau tiap jumat, saya ajak beberapa yang mau ikut untuk shalat Jumat di luar rumah detensi," kata Muhartono.

Sementara itu, Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Rumah Detensi Imigrasi Belawan, Sumatera Utara, Yusuf Umar Dani mengatakan kehidupan para imigran gelap di rumah detensi tegolong enak dibandingkan masyarakat miskin Indonesia.

Yusuf mencontohkan, setiap hari mereka mendapat asupan gizi yang baik. Paling tidak, kata Yusuf mereka makan daging, ayam atau ikan dua kali sehari.

Untuk pakaian pun, kata Yusuf mereka mendapat sumbangan dari LSM yang peduli masalah pengungsi.

Meski sudah diperlakukan dengan baik, Yusuf mengatakan para imigran terutama pria kerap memberontak dan  berusaha kabur dari rumah detensi.

"Dulu, sewaktu tembok masih rendah, mereka sering kabur lewat situ. Untungnya sekarang sudah ditinggikan," kata Yusuf.

Menurut Yusuf, para imigran berusaha kabur, karena tak betah berlama-lama menunggu ketidakpastian soal pemindahan mereka ke negara idaman mereka, Australia.

Biasanya, kata Yusuf, mereka akan menggunakan fasilitas telekomunikasi yang bisa mereka pakai untuk menghubungi keluarga mereka.

Akan tetapi, fasilitas itu justru disalahgunakan untuk menelpon agen yang bisa memasukan mereka ke Australia.

"Mereka akan minta dijemput di luar rumah detensi. Di situ sudah ada agen yang menunggu dan siap membawa kabur mereka," kata  Yusuf.

Hanya Sepuluh Persen

Yusuf mengatakan, dari sekian banyak imigran yang ada di rumah detensi, hanya sekitar sepuluh persen yang akan mendapat status pengungsi dan dipindahkan ke negara ketiga.

"Misalnya ada 300 orang, maka yang bisa ke Australia hanya tiga orang," kata Yusuf.

Walaupun hanya sepuluh persen yang berhasil menggapai impian tinggal di negara ketiga, menurut Yusuf, IOM yang bertugas menyeleksi imigran akan mengeluarkan beberapa imigran dari rumah detensi apabila mereka tergolong pengungsi.

"Kan ada pengungsi benaran dan bohong-bohongan. Misalnya yang berkonflik di wilayah a suatu negara, tapi kok malah penduduk wilayah b yang mengungsi. Itu kan nggak benar," kata Yusuf.

Menurut Yusuf, bagi imigran yang tergolong pengungsi, IOM akan memberikan bekal hidup sebesar Rp1,2 juta per orangnya.

Bagi mereka yang tak tergolong pengungsi, Yusuf mengatakan mereka akan tetap tinggal di Rumah Detensi Imigrasi.

Sebenarnya, kata Yusuf, para imigran gelap itu bisa saja dikembalikan ke negaranya. Pemerintah Indonesia pun mempunyai anggaran khusus yang sengaja dialokasikan untuk mengembalikan para imigran gelap ke negara asalnya.

"Kami akan lapor ke Direktorat Jenderal Imigrasi. Nanti mereka yang akan menentukan apakah akan dikembalikan ke negaranya atau tidak," kata Yusuf.

Ditipu

Ismatollah Hozaini pria berkebangsaan Afghanistan sudah delapan bulan tinggal di Rumah Detensi Imigrasi Belawan, Sumatera Utara. Ia mengatakan kepergiannya dari Afghanistan karena negaranya sudah tidak aman lagi untuk ditinggali.

"Kami terpaksa mengungsi karena negara kami sudah tak aman lagi," kata Ismatollah.

Dengan modal yang cukup besar, yaitu US$12 ribu untuk membayar agen, ia meninggalkan Afghanistan dengan tujuan menetap di Australia.

Tapi nasib berkata lain. Ismatollah yanga pergi seorang diri itu malah terdampar di Indonesia. Agen menipunya. Uang belasan ribu dollar dibawa kabur oleh agen yang berjanji untuk membawanya ke Australia.

Ismatollah mengatakan pihak IOM sudah mewawancarainya dan berjanji mau membawa hasil wawancara dalam waktu tiga hari. Akan tetapi, berhari-hari kemudian hingga berbulan-bulan tidak ada kabar dan ia terpaksa menetap di Rumah Detensi Imigrasi.

"Mau bagaimana lagi?" kata Ismatollah.

Ia tak tahu nasibnya ke depan. Entah harus berapa lama lagi dia harus tinggal di Rumah Detensi. Pilihan untuk kembali ke negara asalnya, menurut Ismatollah bukanlah pilihan yang tetap. Ia berkeras hati ingin ke Australia membangun kehidupan baru yang aman dan damai.


CLOSE