Rano Karno: Kemiskinan di Banten Turun 5,3 Persen i

Rano Karno (kiri) saat menghadiri HUT PDI-P Ke-44 di Jakarta, Selasa 10 Januari 2016.

Oleh: Yudo Dahono / YUD | Rabu, 11 Januari 2017 | 09:19 WIB

Jakarta - Calon Gubernur Banten, Rano Karno menegaskan, selama memimpin provinsi di ujung Barat Pulau Jawa ini, banyak prestasi yang dicapai. Prestasi itu tidak terlepas dari kerja keras semua pihak untuk menjadikan rakyat Banten sejahtera.

“Bila akibat persoalan di masa lalu Banten menyandang citra yang tak terlalu menggembirakan, kini opini keuangan Banten sudah bergeser menjadi wajar dengan pengecualian (WDP). KPK pun sudah kita minta berkantor di KP3B (Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten),” kata Rano kepada pers di Jakarta, Rabu (11/1).

Lebih lanjut politisi PDIP itu mengatakan, banyak yang mengeritik bahwa derajat kesejahteraan Banten menurun. Tetapi mereka lupa bahwa data yang disajikan Badan Pusat Statistik (BPS) Banten berbicara lain.

“Alhamdulillah, di penghujung masa jabatan saya pada September 2016, kemiskinan menurun pada angka 5,36% dengan jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan sebanyak 657 ribu jiwa. Ini mengantarkan Banten sebagai provinsi dengan prosentase kemiskinan terendah/terkecil ke-5 se-Indonesia,” kata dia.

Rano juga mengatakan, tingkat pengangguran terbuka Banten pernah mencapai angka 19% pada tahun 2006. Tapi karena memiliki magnet investasi, usaha, dan industri, maka sepuluh tahun kemudian tingkat pengangguran terbuka Banten, terutama sepanjang 2016 ini mencatat rekor terendah sepanjang Banten berdiri.

“Pada Maret 2016 mencapai angka 7,95% dan September 8,92% atau turun 10%. Hal ini tak lepas dengan rekor yang ditorehkan oleh penanaman modal Banten, di mana pada tahun 2015 telah mencapai lebih Rp 45 triliun dan memuncak pada tahun 2016 yang pada laporan triwulan III mencapai Rp 42,5 triliun atau 85% dari target nasional dan 301,42% dari target yang telah ditetapkan dalam RPJMD,” katanya.

Prestasi ini, lanjut Rano, telah mengantarkan Banten sebagai daerah tujuan investasi ke-3 terbesar se-Indonesia. Setelah selama ini impor Banten selalu lebih tinggi dibanding ekspor, pada tahun 2016 Banten mencatatkan surplus perdagangan sebesar US$ 0,49 juta.

Pertumbuhan ekonomi pun menunjukkan konsistensi di atas rata-rata nasional dan Pulau Jawa. Tingkat inflasi yang pernah mencapai 10,2% pada tahun 2014, mencapai rekor terendah bagi Banten pada tahun 2016 yaitu hanya 2,94%. Gini rasio Banten yang sempat melebihi 0,4 sepanjang 2012-2014, pada 2015-2016 kembali turun ke angka 0,38. Bahkan ekspos BPS menunjukkan bahwa Banten memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi inklusif (pertumbuhan ekonomi yang berpihak pada kaum dhuafa) terbaik se-Indonesia.

Meski demikian, kata Rano, sejumlah kasus gizi buruk, anak manusia yang dipasung, kaum dhuafa yang terpinggirkan masih bisa ditemukan di sejumlah wilayah di Banten.

“Dengan segala upaya kita tangani dengan subsidi iuran BPJS melalui Jamkesda, bantuan tunai melalui Jamsosratu, subsidi beras untuk keluarga sejahtera (rastra), pemanfaatan dana tak terduga untuk kejadian luar biasa dan dukungan Kartu Indonesia Pintar dan Kartu Indonesia Sehat, serta penanganan kemiskinan by name by address berbasiskan data TNP2K,” katanya.

Banten Harus Bangkit
Rano lebih jauh mengatakan, berbagai upaya untuk mengatasi ketimpangan telah ditempuh, misalnya melalui kemitraan harmonis dengan pemerintah Jokowi-JK melalui proyek strategis nasional yang ada di Banten.

“Kami berikhtiar sampai tahun 2022 motor vibrasi ekonomi Banten tengah melalui jalan tol Serang-Panimbang tuntas terbangun untuk menghadirkan sentra industri kecil agro pada setiap interchange yang dilalui. Tol Serpong-Balaraja bisa segera diselesaikan agar bisa menghadirkan sentra industri kreatif pada setiap interchange-nya. TPST regional terbangun di Tangerang agar tidak lagi menyisakan keluhan sampah warga Tangerang," papar Rano.

Kemudian Bendungan Karian dan Sindangheula bisa dituntaskan hingga tidak lagi menyisakan kekurangan air khususnya bagi industri sehingga bisa meningkatkan daya saing industri Banten. Lalu KEK Tanjung Lesung dengan Bandar Udara terbangun supaya bisa menjadi motor ekonomi wisata Banten.

Terminal LPG Banten tuntas demi mengurangi horor ketergantungan impor Banten untuk bahan baku industri petrokimia serta infrastruktur pengangkutan massal perlahan dikembangkan seperti reaktivasi jalur kereta api Rangkasbitung-Labuan dan Saketi-Bayah terwujud sehingga akan mengurai kemacetan yang sebelumnya dirasakan.

“Demi pemberdayaan ekonomi masyarakat, dengan kekuatan UU No 3 Tahun 2014, kami akan bermitra dengan Kawasan Industri untuk mengalokasikan 2% dari luas lahannya untuk Sentra Industri Kecil dengan didorong penciptaan ribuan wirausaha muda kreatif,” kata dia.

Di bidang pendidikan, kata dia, Banten sudah mengembangkan akademi komunitas, SMK yang terintegrasi dengan dunia kerja, SMU inklusif dan unggul, serta BLKI Provinsi yang modern dan antisipatif terhadap perkembangan dunia usaha.

“Tidak ada alasan bagi Banten untuk tidak maju dengan segenap modal potensi alam, geografis dan sumber daya manusia yang dimiliki. Yang dibutuhkan Banten hanyalah pemimpin yang baik. Dengan meminjam analogi ikan yang dituturkan Bapak Taufiequrrachman Ruki, mantan ketua KPK, kepala ikan tidak boleh busuk supaya ikannya tidak busuk,” kata Rano.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT