Rektor UGM: Masyarakat Harus Selalu Mewaspadai Bencana

Prof Dwikorita Karnawati ()

Oleh: Paulus Nitbani / PCN | Senin, 20 Maret 2017 | 22:59 WIB

Jakarta- Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM) Profesor Dwikorita Karnawati mengingatkan masyarakat untuk selalu mewaspadai bencana. Sebab, kondisi geologi Indonesia yang berada pada pertemuan tiga lempeng dunia, menyebabkan negeri ini sering mengalami getaran atau guncangan.

"Bahkan tidak hanya gempa, namun juga banjir, tanah longsor, tsunami, dan juga puting beliung. Longsor di Cianjur beberapa waktu lalu hanya sedikit contoh," kata Dwikorita dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (20/3).

Dikatakan, dalam kondisi di mana Indonesia berada pada daerah rawan bencana itulah, secara periodik, gunung berapi akan mengalami erupsi. Akibatnya, akan membuat lereng-lereng curam yang tersusun oleh batuan rapuh dan tanah gembur, akan menjadi labil. Hal demikian, lanjut dia, secara alamiah akan membuat pergerakan tanah.

Dwikorita menjelaskan, tanah labil tersebut akan bergerak dan menyebabkan longsor jika ada pemicu. Prosesnya bisa disebabkan hujan deras atau hujan yang tidak terlalu deras namun dalam waktu cukup lama. Pemicu lain adalah karena getaran gempa. "Interaksi kondisi alam dan curah hujan atau getaran gempa ini membuat tanah labil bergerak," kata dia.

Kondisi alam yang labil dan rapuh tersebut diperparah aktivitas manusia. Misalnya, pembukaan lahan secara tak terkendali dengan memangkas atau membongkar tanah yang dalam kondisi rapuh. Termasuk juga banjir di berbagai daerah, tidak lepas dari perilaku manusia yang kurang menjaga lingkungan.

Terkait itulah, Dwikorita mengingatkan, tentang pentingnya mitigasi. Melalui mitigasi, korban dan kerugian akibat bencana bisa ditekan semaksimal mungkin. "Silakan alam berproses, namun jangan sampai menimbulkan korban dan kerugian. Artinya, meski gempa atau tsunami tidak bisa dicegah, namun kerugian akibat bencana itulah yang seharusnya dicegah," tuturnya

Terkait mitigasi, UGM juga melakukan berbagai upaya. Bahkan, menurut Dwikorita, upaya tersebut sudah dilakukan sebelum tahun 2000 melalui riset dan penelitian. "Hasil riset perlu untuk diaplikasikan dan itu kami lakukan. Upaya pemelliharaan lereng, penataan lahan, hingga mitigasi risiko bencana, semua dilakukan berbasis riset," tutur penyandang gelar master dan doktor bidang geologi dari Universitas Leeds, Inggris ini.

Dwikorita mencontohkan, UGM telah melakukan penelitian dan pemetaan di daerah rawan longsor untuk tata guna lahan. Selain itu, pengembangan sistem peringatan dini bencana banjir dan longsor yang telah berstandar dunia dan digunakan pula oleh Tiongkok dan Myanmar. "Aplikasi penelitian UGM berbasis teknologi lokal dan melibatkan komunitas masyarakat," katanya.

Bukan hanya mengandalkan peralatan berbasis riset teknologi, ia memaparkan bahwa tidak kalah penting UGM juga mengandalkan kearifan lokal masyarakat seperti adanya ilmu titen. Ilmu ini berkaitan dengan kepekaan warga mengenali potensi bencana tanpa alat di daerahnya sendiri.

Terkait kondisi Indonesia yang rawan bencana, sebelumnya juga dibenarkan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho. Sutopo juga mengatakan, bencana hidrometeorologi, seperti banjir, longsor, dan puting beliung, masih terus mengancam hingga musim akhir penghujan. "Masyarakat memang harus selalu waspada," kata dia.

Sutopo menambahkan, berdasarkan data sementara yang dihimpun Pusdalops BNPB, selama 2017 terjadi 654 bencana di seluruh Indonesia. Dampaknya, 61 jiwa meninggal dunia dan hilang, 174 luka, dan 584.173 jiwa menderita dan mengungsi. Dampak lain, 5.534 rumah rusak dan 87.234 rumah terendam banjir. Dari jumlah rumah rusak tersebut, 1.192 rusak berat, 990 rusak sedang, dan 3.352 rusak ringan.








Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT