Jenazah Maria Yeane Agustuti, juru warta wanita asal Ruteng, Flores NTT, disemayamkan di rumah duka, kampung Redong Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, 20 Maret 2017. Maria ditemukan meninggal di kamar kosnya di Palu, Sulawesi Tengah.

Jenazah Maria Yeane Tiba di Ruteng

Jenazah Maria Yeane Agustuti, juru warta wanita asal Ruteng, Flores NTT, disemayamkan di rumah duka, kampung Redong Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, 20 Maret 2017. Maria ditemukan meninggal di kamar kosnya di Palu, Sulawesi Tengah. (Willy Grasias/ Beritasatu.com)

Ruteng, NTT - Jenazah Maria Yeane Agustuti tiba di rumah kediaman orang tuanya di kampung Redong Kelurahan Wali, Kecamatan Langke Rembong, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (20/3) malam.

Maria, atau biasa dipanggil Tuti oleh keluarganya, adalah juru warta asal Ruteng, Flores, NTT, yang ditemukan meninggal di kamar kosnya di Palu, Sulawesi Tengah. Polisi menduga dia dibunuh oleh suaminya sendiri.

“Saya menerima kematian ini sebagai kehendak Yang Kuasa. Melalui tangan-tangan kasih dari semua pihak yang membantu maka jasad anak saya bisa dikuburkan tempat ini,” kata ibu korban Lusia Riza Madho, 65.

Kakak kandung korban Pater Quirinus Soetrisno turut mendampingi jenazah mulai dari Palu sampai ke Ruteng. Dia nampak tegar saat ditemui awak media di rumah duka.

“Perjalanan yang kami lakukan sangat panjang, dari Palu kami ke Ujung Pandang (Makassar) lalu ke Denpasar dan terus ke Labuan Bajo. Semua lancar berkat bantuan semua pihak, terutama para awak media yang mempublikaskan peristiwa kematian yang tidak wajar ini secara meluas. Ini terjadi mungkin karena adik saya Tuti ini seorang warawati," kata Pater.

“Peristiwa ini adalah sebuah kekerasan terhadap perempuan. Tuti dalam tugasnya sebagai juru warta perempuan sering melakukan reportase tentang kaumnya. Namun apa mau dikata justru dia sendiri yang mengalami kekekarasan," kata Pater, imam Katolik yang sekarang bertugas di kepulauan Mentawai, Sumatera utara.

Pantauan Beritasatu.com di rumah duka, kehadiran jenazah disambut tangisan dari keluarga, dan para pelayat berbondong-bondong datang untuk menyampaikan bela sungkawa.

Sesuai dengan tata upacara kematian menurut adat Manggarai, beberapa saat setelah jenazah disemayamkan dilakukan upacara Tokong Bako yang bermakna sebagai pembuka dari seluruh rangkaian tata upacara kematian.

Ritual Tokong Bako ini dimaknai bahwa arwah dan jasad mendiang sedang dijaga oleh kerabat keluarga. Di samping itu juga melindungi mendiang agar tidak dirasuki roh jahat.

Hewan persembahan untuk upacara ini adalah seekor ayam jantan yang dipotong dan selanjutnya dibakar. Bagian tertentu seperti hati ayam, isi paha dan dada dibuatkan sesaji dalam sebuah piring dan dipersembahkan kepada roh mendiang.

Menurut rencana Upacara pemakaman dilakukan Selasa (21/3) pukul 11.00 WITA, didahului ritual adat Haeng Nai (pelepasan roh), Poe bokong (menahan harta) dan Tekang Tanah (menggali tanah).



Willy Grasias/HA

BeritaSatu.com