Hari Ini Kembali Produksi, Aksi Protes ke Freeport Masih Marak

Sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) melakukan aksi di depan kantor Freeport Indonesia, Jakarta, 20 Maret 2017. (BeritaSatu Photo/Joanito De Saojoao)

Oleh: Heriyanto / HS | Selasa, 21 Maret 2017 | 07:43 WIB

Jakarta - PT Freeport Indonesia (FI) mulai produksi konsentrat tembaga hari Selasa (21/3) ini. Hal itu seiring dengan beroperasinya PT Smelting di Gresik, Jawa Timur yang memurnikan konsentrat milik Freeport.

Juru bicara PT FI Riza Pratama mengatakan, pengapalan konsentrat ke Gresik sudah berlangsung sejak pekan lalu. Pasalnya aksi mogok di Smelting sudah berakhir. Dia menuturkan penggerusan bijih tembaga sudah dimulai sejak 17 Maret kemarin.

Namun, aksi protes terkait keberadaan PT FI masih terus berlangsung dan diprediksi meningkat. Dalam beberapa pekan terakhir, tercatat sejumlah aksi yang marak di beberapa kota di Papua dan daratan Pulau Jawa, seperti Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya.

Kemarin di Timika, sekelompok masa yang mengatasnamakan Masyarakat Adat Independen menggelar demonstrasi di Bundaran Timika Indah, Jalan Budi Utomo, Timika, Papua, dengan agenda menuntut PT FI segera ditutup.
Vinsen Oniyoma juru bicara demonstran mengatakan kekisruhan antara Pemerintah dan PT Freeport telah berdampak luas pada dunia, Indonesia, Papua dan Kabupaten Mimika.

Dia mengatakan sejak masuknya Freeport di Timika pada tahun 1967 di Indonesia, tidak pernah melibatkan dan menghargai hak-hak masyarakat adat dua suku besar Amungme dan Kamoro sebagai pemilik hak ulayat. Ketika kesadaran masyarakat adat muncul dengan aksi pada tahun 1996 di Timika yang mengorbankan nyawa manusia dan materi barulah dana corporate social responsibility (CSR) sebesar satu persen itu diturunkan untuk menutupi pelanggaran PT FI selama ini.

Selain itu, pelanggaran-pelanggaran kerusakan lingkungan akibat Iimbah, pelanggaran HAM, konflik sosial dan rusaknya tatanan hidup masyarakat yang sampai saat ini masih dirasakan meninggalkan goresan luka di hati masyarakat adat.

"CSR atau dana satu persen yang diberikan pun tidak membuahkan kesejahteraan melainkan menimbulkan konflik internal di kalangan masyarakat akar rumput karena para elit manfaatkan untuk kepentingannya tertentu," tuturnya.

Selain di Timika, aksi yang sama juga digelar di Jayapura dan di Jakarta yang diikuti ratusan mahasiswa dan pemuda. Sekitar 400-an mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Jayapura, Papua. Ratusan mahasiswa itu datang dan berkumpul di seberang jalan depan Kantor Pos Wilayah Papua dan Papua Barat, kemudian membentangkan sebuah spanduk berukuran besar dengan tulisan "Tutup Freeport".
"Tutup Freeport. Freeport tidak memberikan dampak yang signifikan kepada Papua," kata salah satu pendemo.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT