Andy Purnomo.

Anak Bupati Akui Jual-Beli Jabatan Jadi Tradisi di Klaten

Andy Purnomo. (Antara)

Jakarta - Andy Purnomo, anak dari Bupati Klaten, Sri Hartini, mengakui jual beli jabatan merupakan tradisi di lingkungan Pemkab Klaten. Hal itu diungkapkan Andy yang juga anggota DPRD Klaten seusai diperiksa sebagai saksi kasus dugaan suap promosi dan mutasi jabatan di Pemkab Klaten yang menjerat ibunya sebagai tersangka.

"Iya," kata Andy sambil menganggukan kepala seusai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Senin (20/3) malam.

Meski demikian, Andy enggan menjelaskan lebih jauh mengenai tradisi jual beli jabatan ini. Andy pun enggan menjawab saat disinggung mengenai uang Rp 3 miliar yang disita penyidik KPK saat menggeledah kamarnya beberapa waktu lalu, termasuk dugaan uang tersebut merupakan bagian dari dana aspirasi dan bantuan keuangan Pemkab Klaten yang sedang didalami penyidik.

"Tanya penyidik saja," katanya singkat.

Andy hanya mengaku dicecar sekitar 30 pertanyaan dalam pemeriksaan kali ini. Penyidik, kata Andy lebih banyak mencecarnya mengenai kronologi suap yang diterima sang ibu.

"Sama kayak kemarin. Sekitar 30 (pertanyaan), lebih fokus di kronologi," katanya.

Seperti diberitakan, KPK menetapkan Bupati Klaten, Sri Hartini, dan Kepala Seksi SMP Dinas Pendidikan Klaten, Suramlan, sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait promosi dan mutasi jabatan di lingkungan Pemkab Klaten.

Sri Hartini yang menjadi tersangka penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP juncto Pasal 65 Ayat (1) KUHP.

Sedangkan Suramlan selaku pemberi disangka melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a dan b atau Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Dalam penggeledahan di rumah dinas bupati Klaten, Minggu (1/1), tim penyidik menyita uang senilai Rp 3 miliar dari lemari yang berada di kamar Andy Purnomo, anak Hartini yang juga ketua Komisi IV DPRD Klaten. Sementara Rp 200 juta disita dari lemari di kamar Hartini. KPK menyebut uang Rp 3 miliar yang disita penyidik dari kamar Andy Purnomo ini tidak terkait dengan kasus suap. KPK meyakini uang tersebut berkaitan dengan kasus lain.

Dalam pengembangan kasus ini, KPK mendalami program dana aspirasi dan bantuan keuangan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Klaten. Pendalaman tersebut dilakukan penyidik dengan memeriksa sejumlah saksi.

Selain Andy, untuk mendalami hal tersebut, penyidik memeriksa wakil bupati Klaten, Sri Mulyani, serta dua orang ajudan, Edy Dwi Hananto dan Nina Puspitasari.

"Selain pemeriksaan dan pendalaman materi terkait kasusnya (kasus dugaan suap jual beli jabatan, Red), kami juga mengonfirmasi lebih lanjut informasi tentang dana aspirasi dan bantuan keuangan Pemerintah Kabupaten Klaten," kata Jubir KPK, Febri Diansyah, Senin (20/3) malam. 



Suara Pembaruan

Fana Suparman/AB

Suara Pembaruan