Fenomena Equinox, BMKG Palu Minta Warga Tidak Khawatir

Matahari bersinar terik saat fenomena "equinox" terlihat dari langit Kota Denpasar, Bali, Senin 21 Maret 2016. (Antara)

Oleh: John Lory / AB | Selasa, 21 Maret 2017 | 11:54 WIB

Palu - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Palu meminta warga Kota Palu tidak perlu khawatir dengan fenomena equinox. Equinox merupakan kondisi yang terjadi saat matahari berada persis di atas garis khatulistiwa atau ekuator. Ketika fenomena ini berlangsung, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi relatif sama. Saat matahari berada di titik nol ekuator, durasi siang dan malam relatif sama, yaitu 12 jam. 

“Fenomena equinox memungkinkan terjadinya suhu maksimum di daerah-daerah tertentu di Indonesia. Untuk wilayah Palu, suhu tinggi tidak terlalu berdampak kepada masyarakat yang sudah terbiasa dengan suhu tinggi,” kata Kepala Seksi Observasi dan Informasi BMKG Kota Palu, Warjono, Selasa (21/3).

Dikatakan, suhu tertinggi dan masuk dalam kategori ekstrem pernah terjadi di Kota Palu pada 2001 silam. Suhu udara mencapai 39,6 derajat Celsius. Sementara pada tanggal 17 Maret 2017--saat matahari tepat berada di ekuator--tidak berpengaruh besar terhadap perubahan suhu.

Posisi Kota Palu, kata Warjono, berada 0,9 derajat dari khatulistiwa, sehingga suhu tinggi biasanya rutin terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada 31 Maret dan 23 September. Meski demikian, kenaikan suhu itu masih pada suhu rata-rata antara 34-36 derajat Celsius atau belum masuk dalam kategori suhu ekstrem.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT