Pilgub Jabar, Golkar Serap Aspirasi

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat, Dedi Mulyadi. (Suara Pembaruan/Fana Suparman)

Oleh: Fana Suparman / JAS | Senin, 10 April 2017 | 13:39 WIB

Jakarta - Partai Golkar masih menyerap berbagai aspirasi terkait nama yang akan diusung dalam Pemilihan Gubernur Jawa Barat (Pilgub Jabar) 2018. Hal ini dilakukan karena Golkar tak ingin gegabah menghadapi kontestasi politik di tatar Sunda tersebut.

Ketua DPD Partai Golkar, Dedi Mulyadi mengatakan, pihaknya memilih mempersiapkan internal partai secara matang ketimbang terjebak dalam euforia Pilgub. Salah satunya dengan menyerap berbagai aspirasi mengenai nama-nama yang muncul yang dinilai memahami keinginan masyarakat Jawa Barat.

"Kami di Partai Golkar Jawa Barat baru sebatas menerima usulan-usulan yang berkembang, saya pribadi belum menyatakan apa pun, baru menyerap aspirasi yang ada," kata Dedi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (10/4).

Sikap kehati-hatian Golkar bukan tanpa alasan. Dalam dua kali Pilgub Jabar, calon yang diusung Golkar meraih hasil yang kurang memuaskan. Pada Pilgub Jabar 2008, pasangan Dani Setiawan dan Iwan Sulandjana yang diusung Golkar meraih suara 24,94 persen.

Jumlah tersebut jauh di bawah pasangan Agum Gumelar dan Nu’man Abdul Hakim dengan perolehan suara 34,55 persen serta pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf yang keluar sebagai pemenang dengan perolehan suara 40,50 persen.

Kekalahan Golkar di Pilgub Jabar kembali terulang pada 2013 lalu. Saat itu, pasangan Irianto MS Syaifudin yang berpasangan dengan Tatang Farhanul Hakim yang diusung Golkar hanya mampu meraup suara sebesar 12,16 persen, tertinggal jauh dari pemenang, yakni pasangan Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar yang meraih 32,38 persen.

Berkaca dari dua kali Pilgub ini, Kang Dedi, sapaan Dedi Mulyadi mengatakan, penelaahan secara mendalam mengenai psikologi pemilih di Jabar menjadi pertimbangan utama pihaknya dalam menentukan langkah politik untuk Pilgub 2018. Dikatakan Dedi, dengan jumlah pemilih terbesar di Indonesia, Pilgub Jabar selalu melahirkan kejutan. Hasil survei sejumlah lembaga pun tak dapat menjadi patokan karena kerap kali berbeda dengan hasil pemungutan suara.

"Kami telaah dulu keinginan masyarakat Jawa Barat ini seperti apa, karena di dua Pillkada sebelumnya selalu ada kejutan," ungkapnya.

Di internal Partai Golkar Jabar sendiri, arus bawah yang terdiri dari pengurus kecamatan dan pengurus daerah tingkat kabupaten sudah menyatakan dukungan dan siap memenangkan Dedi. Menanggapi dukungan tersebut, Dedi mengapresiasi dan menilai dukungan ini sebagai aspirasi yang harus diolah dalam mekanisme partai.

Namun, hingga kini, Dedi enggan membahas kesiapan dirinya maju Pilgub Jabar. Dedi mengaku, hingga saat ini masih fokus memimpin Purwakarta dan memberikan karya sosial yang nyata bagi masyarakat.

Sejumlah dukungan terhadap Dedi telah disampaikan pengurus Partai Golkar Garut dan pengurus Partai Golkar Kabupaten Bandung. Di sela-sela Rakerda DPD Golkar Kabupaten Bandung yang digelar di Hotel Sultan, Bandung, Sabtu (8/4), Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bandung, Dadang Nasser menyatakan dukungan pihaknya diberikan karena Dedi merupakan kader Golkar. Selain itu, Dedi dinilai memiliki mobilitas tinggi dalam membangun kepedulian kepada warga terutama masyarakat Jawa Barat baik konstituen maupun nonkonstituen.

"Mobilitas Kang Dedi itu tinggi untuk menyerap aspirasi masyarakat Jawa Barat. Ini yang menjadi pertimbangan kami. Hari ini kami putuskan, seluruh unsur kader dari pengurus kecamatan, DPD, dan seluruh tokoh Golkar di Kabupaten Bandung untuk mendukung beliau menjadi Gubernur Jawa Barat," tegas Dadang yang juga Bupati Bandung.

Dadang menyatakan, secara sosiologis, Kabupaten Bandung merupakan salah satu poros masyarakat Sunda. Masyarakat Kabupaten Bandung, kata Dadang, mengagumi falsafah pembangunan dan tata kelola pemerintahan yang sudah dilaksanakan oleh Dedi di Purwakarta.

Untuk itu, merupakan hal yang wajar bila masyarakat Kabupaten Bandung memberikan dukungannya kepada Dedi yang kini masih menjabat Bupati Purwakarta tersebut.

"Selain survei, kami memiliki indikator lain yakni aspek sosiologis masyarakat kami yang kental dengan kesundaan. Kang Dedi di Purwakarta menerapkan kesundaan itu dalam pembangunan dan tata kelola pemerintahan sehingga wajar saja kalau kami mendukung," ungkapnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT