Penyidik KPK Novel Baswedan dirujuk ke RS JEC Menteng setelah disiram air keras.

Tolak Pengobatan Gratis, KPK Tak Ingin Ketergantungan

Penyidik KPK Novel Baswedan dirujuk ke RS JEC Menteng setelah disiram air keras. (Beritasatu TV)

Jakarta - Ahli kornea di Singapura berencana menggratiskan biaya pengobatan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Novel Baswedan yang diteror dua orang tak dikenal dengan disiram air keras. Namun, tawaran tersebut ditolak KPK. Lembaga antikorupsi tersebut memilih meminta bantuan pemerintah untuk membiayai perawatan Novel.

Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang menjelaskan alasan pihaknya menolak tawaran ahli kornea itu untuk menggratiskan biaya perawatan Novel. Menurut Saut, pihaknya tak ingin ketergantungan terhadap bantuan pihak lain. Apalagi, Novel merupakan penyidik KPK.

"Ya memang kiita juga kemarin konsultasi dengan Komisi III juga tidak mengehndaki. Ini resources kita. Ini orang kita dan yang dihindari dari beri-memberi itu kan ketergantungan," kata Saut di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/4).

Untuk itu, Saut menyatakan, pihaknya lebih memilih meminta bantuan pemerintah. Meski demikian, Saut mengapresiasi perhatian yang ditujukan ahli kornea Singapura tersebut.

"Oleh sebab itu kalau memang kita bisa membiayai, perhatian mereka thdp novel ini sudah cukup baik, terus kemudian kita yang membiayai semuanya," katanya.

Dokter ahli kornea di Singapura bernama Donald Tan berencana menggratiskan biaya perawatan Novel. Tawaran ini diajukan Donald sebagai bentuk simpati setelah mengetahui pekerjaan Novel sebagai penyidik KPK.

Novel diketahui diteror oleh dua orang tak dikenal dengan disiram air keras usai menjalani shalat subuh di masjid sekitar rumahnya, Selasa (11/4). Akibat peristiwa ini, dua kelopak mata dan kening Novel mengalami luka serius. Novel sempat dirawat di ICU RS Mitra Kelapa Gading, Jakarta Utara dan Rumah Sakit Jakarta Eye Centre (JEC) hingga akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit di Singapura pada Rabu (12/4) untuk dirawat intensif.



Suara Pembaruan

Fana Suparman/YUD

Suara Pembaruan