Wakapolda Sumut Brigjen Pol Agus Andrianto (tengah) bersama jajarannya memperlihatkan foto tersangka Andi Lala beserta barang bukti terkait kasus pembunuhan sekeluarga, berdasarkan keterangan 12 orang saksi, di Mapolda Sumatera Utara, Medan, 11 April 2017.

Polda Sumut Dalami Motif Narkoba di Kasus Pembantaian Sadis di Medan

Wakapolda Sumut Brigjen Pol Agus Andrianto (tengah) bersama jajarannya memperlihatkan foto tersangka Andi Lala beserta barang bukti terkait kasus pembunuhan sekeluarga, berdasarkan keterangan 12 orang saksi, di Mapolda Sumatera Utara, Medan, 11 April 2017. (Antara/Septianda Perdana)

Medan - Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Polda Sumut) mendalami motif pemesanan narkoba jenis sabu - sabu seharga Rp 5 juta di balik pembantaian oleh Andi Lala terhadap satu keluarga di Jl Mangaan Gang Benteng, Kelurahan Mabar, Kecamatan Medan Deli.

"Kita tidak serta merta langsung mempercayai pengakuan tersangka meski sudah menyesali perbuatannya," ujar Kepala Sub Direktorat (Kasubdit) III Reskrimum Polda Sumut, AKBP Faisal Napitupulu di Markas Polda Sumut, Jumat (21/4).

Faisal mengatakan, penyesalan Andi Lala setelah ditangkap polisi pascapembantaian satu keluarga tersebut, bukan alasan untuk meluluhkan sikap penyidik. Soalnya, Andi Lala juga sudah pernah melakukan pembunuhan secara berencana.

"Korban pembantaian Andi Lala terhadap Suherwan selingkungan istrinya, Reni Safitri. Dalam kasus ini, Andi Lala melakukan pembunuhan dibantu Reni dan rekan Andi bernama Irvan, sudah ditahan. Artinya, Andi terbiasa membunuh," katanya.

Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait mengharapkan, Polda Sumut bersama dengan Polrestabes Medan, juga menjerat para pelaku pembantaian satu keluarga di Mabar, Kecamatan Medan Deli dan pembakaran satu keluarga di Medan Tuntungan, juga dijerat Pasal 82 Undang - undang (UU) No. 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak.

"UU Perlindungan Anak ini juga wajib dikenakan kepada para pelaku pembantaian sadis tersebut. Soalnya, ada beberapa orang anak yang menjadi korban. Tindakan pembunuhan terhadap anak merupakan kejahatan yang luar biasa. Sehingga, kasus pembunuhan di Medan Tuntungan dan Mabar, harus disikapi semua pihak dengan serius," ujar Arist Merdeka Sirait.

Arist mengapresiasi aparat kepolisian yang dengan begitu cepat berhasil mengungkap dua kasus besar pembunuhan yang sudah direncanakan tersebut. Oleh karena itu, dia meminta penyidik untuk menerapkan berbagai pasal dalam pelanggaran pidana, salah satunya UU Perlindungan Anak, guna memperberat ancaman hukuman terhadap para tersangka yang sedang diproses hukum itu.

Dalam kasus pembakaran rumah yang menewaskan satu keluarga di Medan Tuntungan, polisi menetapkan lima tersangka. Mereka adalah Jaya Mita Beru Ginting (41), warga Jalan Bunga Turi 1, Kelurahan Sidomulyo, Kecamatan Medan Tuntungan, Cari Muli Beru Ginting (45), warga Jalan Jamin Ginting, KM 14,5, Kelurahan Laucih, Kecamatan Medan Tuntungan.

Kemudian, Maju Suranta Siallangan alias Maju Ginting (36), warga Komplek Milala, Kecamatan Medan Tuntungan, Rudi Suranta Ginting (22), warga Kampung Lauchi, Dusun V, Kecamatan Pancurbatu, dan Zulpan Nitra Purba (18), warga Jalan Purba Lauchi, Kecamatan Medan Tuntungan.

Empat korban tewas akibat dibantai kemudian dibakar hidup - hidup adalah Marita Beru Sinuhaji (57) istri dari Gandhi Ginting, Frengki Riza Ginting (28), Kristin Beru Ginting (8) dan Selvi Beru Ginting (5). Dalam kasus ini hanya Gandhi Ginting (58), yang luput dari pembunuhan. Sebab, saat kejadian dia tidak di rumah.

Lima tersangka yang sudah ditahan ini dijerat Pasal 340 KUHPidana Subs Pasal 338 KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1e Jo Pasal 56 KUHPidana dan atau Pasal 187 ayat (3) KUHPidana Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1e Jo Pasal 56 KUHPidan. Hukuman terberat adalah hukuman mati.

Sementara itu, untuk kasus pembantaian yang menewaskan satu keluarga di Mabar, didalangi oleh Andi Lala dibantu Roni dan Andi Syahputra. Lima korban tewas adalah Harianto alias Riyanto, (40) kepala keluarga, Sri Ariyani (35) istri, Naya (13), Gilang (8) dan Sumarni (60) metua Riyanto.

Sedangkan Kinara (4), anak paling kecil masih kritis karena luka pada bagian mata dan kepala. Ariyani merupakan kakak ipar, sedang Sumarni merupakan ibu kandung istri Andi Lala, Reni Safitri selingkuhan Suherwan (tewas).



/CAH

BeritaSatu.com