Kopri Dorong Kampanye Perlindungan Perempuan dan Anak

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani mendampingi Presiden Joko Widodo membuka secara resmi Kongres XIX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Auditorium Masjid Agung Darussalam, Kota Palu, Sulawesi Tengah, Selasa, 16 Mei 2017. (Istimewa/Asni Ovier)

Oleh: Feriawan Hidayat / FER | Jumat, 19 Mei 2017 | 20:11 WIB

Jakarta - Kongres XIX Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Palu, Sulawesi Tengah, telah memasuki hari kelima. Salah satu hal yang dibahas dalam kongres ini adalah kaderisasi Korps PMII Putri (Kopri) untuk mengatasi berbagai persoalan bangsa, terutama kasus kekerasan pada perempuan dan anak yang marak belakangan ini.

Kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Kopri, Liazul Kholifah, mengatakan, ke depan Kopri akan berhadapan dengan permasalahan perempuan dan anak yang makin kompleks. Globalisasi dan modernisasi telah membawa perubahan yang sangat cepat dan berpengaruh pada kehidupan perempuan dan anak.

"Sebagai sayap gerakan perempuan PMII, Kopri ke depan harus dapat memposisikan dirinya secara kelembagaan yang dapat mengampanyekan isu-isu berkaitan dengan masalah perempuan dan anak," kata Liazul melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (19/5).

Liazul menjelaskan, masalah-masalah perempuan yang membutuhkan respon cepat dari Kopri, antara lain kekerasan terhadap anak dan perempuan, perkawinan usia anak, masalah buruh, advokasi petani dan lain-lain. Untuk menyiapkan kader-kader yang siap terjun di masyarakat, Kopri harus mengoptimalkan diri sebagai organisasi kader.

"Bagi kami, setiap hari adalah pengkaderan. Setiap hari kader berinteraksi dan komunikasi dengan kader lain yang berbeda pemikiran, di sinilah terjadi transformasi gagasan. Ini yang kami sebut kaderisasi informal," kata Liazul.

Jika nantinya terpilih sebagai Ketua Umum PB Kopri, Liazul bertekad untuk mewujudkan kader intelektual yang memahami persoalan keummatan, khususnya masalah perempuan dan anak.

Sebagaimana diketahui, Kongres PMII 2017 yang mengusung tema "Meneguhkan Konsensus Bernegara Untuk Indonesia Berkeadaban" dibuka Presiden Joko Widodo pada 15 Mei dan akan ditutup Jumat (19/5).

Keberadaan PMII sangat strategis untuk menempatkan anggotanya, yakni mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, sebagai agen perubahan dan agen kontrol di masyarakat.

Sejak organisasi ini didirikan pada 17 April 1960, anggota PMII memiliki kepedulian yang tinggi terhadap permasalahan perempuan dan anak. Sebagai sayap gerakan perempuan PMII, Kopri telah banyak melakukan kampanye tentang perlindungan perempuan dan anak.

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT