Penahbisan Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko Pr

Mengubah Pemeras Menjadi Pembagi Berkat

Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo (ketiga kiri) bersama Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko (kedua kiri) melaksanakan prosesi penahbisan uskup agung Semarang di Semarang, Jawa Tengah, Jumat 19 Mei 2017. (Antara/R. Rekotomo)

Oleh: Stefi Thenu / AB | Jumat, 19 Mei 2017 | 20:36 WIB

Semarang - Monsinyur (Mgr) Robertus Rubiyatmoko Pr, Jumat (19/5), secara resmi ditahbiskan sebagai uskup pada Keuskupan Agung Semarang (KAS). Upacara penahbisan episkopal itu diselenggarakan di Lapangan Tribrata, Kompleks Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang dan dihadiri sedikitnya 15.000 umat yang datang dari berbagai daerah.

Penahbisan episkopal dipimpin Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo didampingi Mgr Antonius Subianto Bunjamin OSC (Uskup Bandung) dan Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm (Uskup Malang). Penahbisan disaksikan Julius Kardinal Darmaatmaja SJ dan Duta Besar Vatikan Mgr Antonio Guido Filipazzi, serta 32 uskup se-Indonesia. Sejumlah pejabat, tokoh lintas agama, dan tokoh masyarakat tampak hadir, di antaranya Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Ketua DPRD Jateng yang juga ketua panitia penahbisan Ruka Setyabudi, Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo, dan Wakil Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Mgr Ignatius Suharyo menilai romo Rubi--panggilan akrab Robertus Rubiyatmoko--adalah sosok yang sejak awal selalu penuh semangat memenuhi panggilan Tuhan. Romo Rubi juga selalu taat, sendiko dawuh.

"Beliau adalah sosok hakim, pengajar hukum gereja yang lemah lembut, namun selalu penuh sukacita menjalankan karya perutusan. Watak dasarnya selalu ingin serupa dengan Yesus, sehingga membawanya pada moto perutusannya, yakni mencari dan menyelamatkan (quaerere et salvum facere). Mencari Zakeus-Zakeus zaman sekarang dan menyelamatkannya. Mengubahnya dari yang semula pemeras menjadi pembagi berkat," ujarnya.

Mgr Ignatius Suharyo juga menyampaikan kisah unik soal kumis romo Rubi. Setelah menerima kabar penunjukan sebagai uskup, romo Rubi meminta pendapatnya apakah kumisnya yang tebal itu sebaiknya dicukur atau dipertahankan.

"Selama 40 tahun saya menjalankan tugas pastoral, baru kali ini dimintai pendapat soal kumis," ujar Ignatius Suharyo disambut tawa ribuan umat.

Dia menyarankan pada romo Rubi untuk mempertahankan kumisnya dan bila perlu disemir. "Saya bilang, kalau romo Rubi tanpa kumis, ibarat Gatotkaca tanpa kapit (sayap)," kelakarnya.

Sebelum penahbisan dimulai, Duta Besar Vatikan untuk Indonesia (Nuncius) Mgr Antonio Guido Filipazzi membacakan surat penunjukan dari Tahta Suci Vatikan. Pada 18 Maret 2017, Vatikan resmi menunjuk uskup agung baru Semarang, setelah mengalami kekosongan sejak Mgr Johannes Pujasumarta meninggal pada 10 November 2015.

Paus Fransiskus melalui siaran resmi yang dilansir Radio Vatikan berbasis di Roma pada pukul 18.00 WIB menunjuk pastor Dr Robertus Rubiyatmoko, dosen moral dan hukum gereja Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sebagai uskup.

Di depan ribuan umat, romo Rubi menyampaikan komitmennya. "Saya adalah hamba Gereja. Dengan rendah hati dan penuh iman, saya berkomitmen kapan pun Gereja membutuhkan, saya siap. Apa pun yang Sri Paus minta, saya laksanakan," ujarnya mantap.

Martabat uskup, kata romo Rubi, adalah suatu anugerah istimewa yang pantas disyukuri, sekaligus suatu salib indah yang mesti ditekuni. "Panggilan ini merupakan rahmat untuk makin dekat dengan Tuhan agar makin dapat melayani Gereja-Nya. Saya menyadari kelemahan dan kerapuhan saya. Oleh karenanya, saya memohon doa dan dukungan agar bersama-sama saudara-saudari, sanggup melaksanakan perintah Tuhan," tambahnya.

Dalam pesan pastoralnya, Mgr Antonio Guido Filipazzi menyampaikan selamat atas penahbisan romo Rubi sebagai pemimpin dan gembala baru Keuskupan Agung Semarang (KAS).

"KAS memiliki peran yang sangat strategis dalam sejarah gereja di Indonesia. Untuk itu, saya harap agar uskup dapat menjalankan misi dan karya perutusan sebagai gembala untuk mencari dan menyelamatkan domba-domba-Nya yang hilang," ujar Antonio..

Monsinyur Robertus Rubiyatmoko lahir di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 10 Oktober 1963. Romo Rubi masuk Seminari Menengah Santo Petrus Canisius Mertoyudan, serta mendalami pendidikan filsafat dan‎ teologi di Fakultas Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Dia ditahbiskan menjadi imam pada 12 Agustus 1992 dan memperoleh gelar doktor hukum gereja dari Universitas Kepausan Gregoriana, Roma, Italia. Sepanjang pelayanannya, romo Rubi pernah dipercaya sebagai pastor pembantu Paroki St Maria Assumpta Pakem pada 1992-1993, dosen hukum gereja pada Fakultas Wedabhakti Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, formatur di Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (2004-2011), dan vikaris yudisial Keuskupan Agung Semarang sejak 2011.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT