Kongres PMII Fokus Penguatan Kaderisasi i

(Kandidat Ketua Umum PB KOPRI, Mahasiswa Pascasarjana UI Fak. Kesehatan Masyarakat)

Oleh: Euis Rita Hartati / ERH | Jumat, 19 Mei 2017 | 20:47 WIB

Jakarta – Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) XIX yang diselenggarakan di Palu mengangkat tema “Meneguhkan Konsensus Bernegara Untuk Indonesia Berkeadaban” , salah satunya mengangkat masalah kaderisasi.

Sebagai organisasi kader, PMII sangat strategis menempatkan anggotanya yakni mahasiswa sebagai agent of change dan agent of control. Sejak organisasi ini didirikan pada 17 April 1960, anggota PMII memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap permasalahan perempuan dan anak. Korps PMII Putri (KOPRI) sebagai sayap gerakan perempuan PMII banyak melakukan kampanye tentang perlindungan perempuan dan anak.

Pada pelaksanaan Kongres XIX, KOPRI PMII meluncurkan lima buku berkaitan dengan materi kaderisasi baik formal maupun kaderisasi non formal. Buku-buku yang diluncurkan tersebut antara lain Modul Kaderisasi, Historiografi KOPRI : Telaah Geneologi PMII-NU, Modul Advokasi dan Modul Dakwah.

“Buku-buku tersebut diharapkan menjadi pegangan kader dalam melakukan kaderisasi di cabang-cabang. Kami ingin agar KOPRI ke depan dapat menjadi laboratorim kaderisasi anak-anak bangsa yang tidak hanya kuat ke-Islaman dan Ke-Indonesiaannya namun juga memiliki sensitifitas terhadap permasalahan umat di masyarakat,” ujar Liazul Kholifah, Kandidat Ketua Umum Pengurus Besar Korp PMII Putri.

Lia menjelaskan bahwa KOPRI ke depan berhadapan dengan permasalahan perempuan dan anak yang kian kompleks. Globalisasi dan modernisasi telah membawa perubahan yang sangat cepat dan berpengaruh pada kehidupan perempuan dan anak.

“Sebagai bagian dari elemen gerakan perempuan, KOPRI ke depan harus dapat memposisikan dirinya secara kelembagaan dapat mengkampanyekan isu-isu berkaitan dengan masalah perempuan dan anak. Secara organisasi kader, kami berharap organisasi ini dapat berfungsi menjadi laboratorium. Setiap kader dapat menyalurkan minat dan kecenderungannya di KOPRI PMII,” ujar Lia

Lia menjelaskan masalah-masalah perempuan yang membutuhkan respon cepat dari KOPRI antara lain kekerasan seksual, kekerasan anak, nikah anak, masalah buruh, advokasi petani dan lain sebagainya. Untuk menyiapkan kader-kader yang siap terjun di masyarakat itulah maka KOPRI harus mengotimalkan diri sebagai organisasi kader.

“Bagi kami setiap hari adalah pengkaderan. Setiap hari kader berinteraksi dan komunikasi dengan kader lain yang berbeda pemikiran maka terjadilah transformasi gagasan. Ini yang kami sebut kaderisasi informal. Adapun kaderisasi formal seperti kita lihat ada Mapaba, PKD, PKL, SKK dan SKKN” lanjut Lia

Jika Lia terpilih sebagai Ketua Umum PB KOPRI, ia bertekad akan mewujudkan kader intelektual yang mengerti terhadap persoalan keummatan khususnya masalah perempuan dan anak.




Sumber: PR
ARTIKEL TERKAIT