Uskup Agung Semarang: Jaga Kedamaian, Persaudaraan, dan Kekeluargaan

Mgr Robertus Rubiyatmoko. (Antara)

Oleh: Novy Lumanauw / AB | Jumat, 19 Mei 2017 | 20:59 WIB

Semarang - Monsinyur (Mgr)‎ Robertus Rubiyatmoko Pr, pada Jumat (19/5), secara resmi ditahbiskan sebagai uskup agung Semarang berkedudukan di Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Prosesi penahbisan yang dipimpin Uskup Agung Jakarta Mgr Ignatius Suharyo berlangsung secara khidmat disaksikan sekitar 15.000 umat katolik dari 100 paroki dan 37 uskup da‎ri berbagai daerah di Tanah Air. Sebagai pendamping Uskup Bandung, Mgr Antonius Subianto Bunyamin OSC dan Uskup Malang, Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm.

Setelah penahbisan, romo Rubi--sapaan akrab Mgr ‎ Robertus Rubiyatmoko Pr--mengajak seluruh umat katolik untuk bersama pemerintah dan seluruh warga masyarakat mengupayakan terjaganya kedamaian, persaudaraan, dan kekeluargaan di persada Indonesia. Dia meyakini bahwa dengan hidup bersama yang dipenuhi semangat persaudaraan, kekeluargaan, kasih, dan perhatian satu sama lain, akan tercipta sikap saling menghormati dan menghargai perbedaan serta kemajemukan.

"Kita bangsa Indonesia sejak dulu terbentuk dan terbangun oleh dan dalam kehinekaan. Karena itu, kebinekaan ini jangan menjadi sumber perpecahan, sebaliknya menjadi kekayaan yang menyatukan seluruh rakyat," katanya. 

‎Romo Rubi mengaku pengutusan itu diterimanya setelah lama berdoa dan menimbang-nimbang di hadapan Tuhan Yesus yang tersalib dan bersemayam dalam tabernakel.

"Saya merasa dikuatkan untuk menyerah dan ber‎pasrah pada kehendak Allah. Tuhan, kalau memang Engkau menghendaki menjadi gembala umat-Mu, buatlah hamba-Mu berserah pada kehendak-Mu. Dan, berilah hamba-Mu ini kebijaksanaan, kerendahan hati, dan semangat untuk melayani demi keselamatan kawananMu," kata romo Rubi.

Tokoh Katolik, Purnomo Yusgiantoro menyalami Mgr Robertus Rubiyatmoko Pr.

Romo Rubi mengaku terus mencari, mengenali maksud dan kehendak Tuhan atas kepercayaan yang diberikan Paus Fransiskus kepadanya untuk memimpin Keuskupan Agung Semarang. Pada 18 Maret 2017 lalu, Sri Paus menetapkan romo Rubi sebagai pemimpin Keuskupan Agung Semarang, ‎setelah mengalami kekosongan sejak Mgr Johannes Pujasumarta meninggal pada 10 November 2015.

‎"Saya hanya bisa berucap syukur kepada Tuhan yang telah berkenan memilih hamba-Nya yang tidak pantas ini, yang penuh kekurangan dan kerapuhan ini untuk dijadikan alat-Nya. Hanya kesediaan dan kesanggupan untuk menjadi alat-Nya inilah yang dapat saya persemba‎hkan kepada Tuhan," kata romo Rubi.

Dia mengatakan, Allah ‎ telah berkarya dengan menggunakannya agar menjadi alat Tuhan yang secara khusus terlibat dalam karya penyelamatan.

"Saya siap untuk membantu, mencari dan menyelamatkan kawanan atau umat-Nya, khususnya mereka yang tersesat dan hilang, baik yang ada dalam lingkup Gereja Katolik, maupun di tengah-tengah masyarakat pada umumnya," katanya.

Mengutip pengalaman Zakeus dan keluar‎ganya‎ yang bersukacita karena dijumpai dan diselamatkan oleh Tuhan Yesus, sebagaimana tertulis dalam Injil Lukas. 19:1-10, romo Rubi mengatakan kisah itu telah menjadi inspirasi baginya untuk menentukan arah pengembalaan Keuskupan Agung Semarang.

"Sebagaimana Yesus datang untuk mencari dan menyelamatkan, kita juga terpanggil untuk terlibat dalam karya pencarian dan penyelamatan. Bukan hanya umat Katolik saja ‎yang harus dicari dan diselamatkan. Namun, siapa pun mereka itu.
‎Siapa pun mereka tanpa membedakan agama, suku, bahasa, dan bangsa, mesti dicari dan diselamatkan agar mengalami sukacita dan kesejahteraan sejati," kata romo Rubi.






Sumber: Investor Daily
ARTIKEL TERKAIT