Rawat Terus Komitmen Kebangsaan

Ketua Umum Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) Hargo Mandirahardjo bersalaman dengan Uskup Agung Samarinda, Mgr Y Hardjosusanto MSF dalam suatu acara, baru-baru ini. (Istimewa /Istimewa)

Oleh: Asni Ovier / AO | Jumat, 19 Mei 2017 | 21:46 WIB

Jakarta - Seluruh warga negara Indonesia, apa pun suku, agama, ras, dan golonganya harus merawat komitmen kebangsaan. Tanpa ada komitmen itu, sebagai bangsa, Indonesia akan terus berada dalam situasi kacau dan galau serta carut marut.

Langkah utama yang harus diambil adalah tetap menjadikan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia. Bangsa ini juga tidak boleh membiarkan nilai-nilai yang bertentangan dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika tumbuh subur.

Hal itu ditegaskan oleh Ketua Umum Presidium Pusat Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (PP ISKA) Hargo Mandirahardjo dalam pernyataannya terkait peringatan Hari Kebangkitan Nasional, di Jakarta, Jumat (19/5).

“Dasar negara Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai falsafah hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara harus senantiasa dirawat. Kedua falsafah hidup bangsa itu harus dirawat dengan komitmen dan sekaligus kita harus memiliki komitmen untuk merawat. Itu adalah warisan yang tidak boleh dijual atau ditukar dengan nilai apa pun. Karena, begitu Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika dapat ditukar atau dijual dengan nilai yang lain, yang namanya Indonesia sebagai bangsa akan hilang dan kembali terpecah belah,” kata Hargo.

Dikatakan, peringatan Kebangkitan Nasional tahun ini menemukan momentumnya setelah bangsa Indonesia secara langsung atau tidak terbelah, karena dinamika Pilgub DKI Jakarta serta rencana pembubaran kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

“Semua warga negara, apa pun suku, agama, ras, dan golongannya memiliki hak yang sama untuk hidup di Indonesia. Tidak ada kelompok mayoritas yang lebih memiliki hak atau minoritas yang boleh diabaikan haknya dalam Pancasila. Ketika kepercayaan menjadi faktor penentu nilai mayoritas dan minoritas, faktor ini kemudian akan diikuti dengan suku mayoritas dan minoritas, atau golongan mayoritas atau minoritas. Kekuatan Pancasila sebagai dasar negara menjadi jelas, ketika baik kelompok mayoritas dan minoritas menjadi satu bangsa. Nilai kebangsaan Indonesia terletak pada Bhinneka Tunggal Ika dan bukan asas yang lain,” ujar Hargo.

Bangsa Indonesia, katanya, tidak mungkin menjadi bangsa besar dan kemudian mampu memenangi Perang Generasi ke-4 (The Fourth Generation Warfare) atau sering disebut proxy war jika cara berpikirnya masih berlandaskan nilai mayoritas dan minoritas. Di setiap pikiran warga negara Indonesia harus ada yang namanya “bangsa yang besar dan kuat” serta ditakdirkan untuk memenangkan perang tersebut.

Perang Generasi ke-4 diawali dengan adanya pengaburan garis antara perang dan politik serta tentara dan sipil, sehingga sulit menentukan metode perang yang akan digunakan. Dalam perang ini, perbedaan antara situasi perang dan situasi damai menjadi kabur.

Sehingga, katanya, akan sulit membedakan antara pasukan militer dan sipil. Aksi-aksi dapat dilakukan secara serentak dan diam-diam dengan menggunakan ekonomi, pendidikan, atau budaya. Oleh karena itu, Perang ini bukan perang senjata super canggih (hard power), tetapi justru menemukan bentuk baru dengan menyerang kelemahan pihak musuh (bangsa).

Ciri utama Perang Generasi ke-4 adalah menurunnya loyalitas terhadap negara dan sebagai gantinya adalah meningkatnya loyalitas alternatif, seperti kepada agama, suku, etnis, geng, kelompok, atau ideologi tertentu.

“Hanya dengan merawat komitmen kebangsaan, Indonesia dapat memenangkan perang ini. Negara ini aslinya merupakan pinjaman dari generasi mendatang, yakni anak dan cucu kita. Jika saat ini kita tidak dapat menjamin bahwa Tanah Air dan negara Indonesia dengan segala kekayaannya adalah milik generasi mendatang, artinya kita semua adalah para pihak yang berada dalam Perang Generasi ke-4 itu. Yang akan memenangkan perang itu bukan bangsa Indonesia, tetapi bangsa asing yang menggunakan diri kita sebagai alatnya,” tegas Hargo.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT