Ilustrasi sekolah rusak.

951 Ruang Kelas SD di Batanghari Rusak

Ilustrasi sekolah rusak. (Antara)

Jambi - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batanghari, Jambi selama tiga tahun terakhir belum melakukan penanganan kerusakan gedung sekolah. Hal tersebut tercermin dari semakin banyaknya ruang kelas sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang rusak di daerah tersebut.

Hingga kini sedikitnya sekitar 1.258 ruang kelas SD dan SMP di Kabupaten Batanghari yang mengalami rusak. Ruang kelas yang mengalami rusak ringan sekitar 1.206 ruangan dan rusak berat sebanyak 52 ruangan.

Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batanghari, Deni Eko Purwanto kepada wartawan di Muarabulian, Batanghari, Jambi, Jumat (19/5) menjelaskan, jumlah ruang kelas atau ruang belajar SD yang rusak di Kabupaten Batanghari hingga tahun ini cukup banyak, yakni mencapai 951 ruangan.

“Kerusakan ruang kelas tersebut sekitar 70 persen dari total 1.348 ruang kelas di 212 SD di Kabupaten Batanghari. Ruang kelas yang rusak berat sekitar 29 ruangan dan ruang kelas rusak ringan 922 ruangan. Seluruh ruang kelas yang rusak tersebut masih digunakan untuk kegiatan belajar,”katanya.

Dijelaskan, ruang kelas SMP yang juga rusak di Batanghari saat ini cukup tinggi, yakni 307 ruangan. Sekitar 284 ruang kelas rusak ringan dan 23 ruang kelas rusak berat. Kerusakan ruang kelas itu terdapat di 54 SMP. Baik SMP yang berada di ibu kota kabupaten maupun di kecamatan-kecamatan.

Sementara itu data yang dihimpun Suara Pembaruan di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batanghari, jumlah ruang kelas SD dan SMP yang rusak di Kabupaten Batanghari tersebut meningkat drastis. Ruang kelas SD yang rusak di Batanghari tahun 2015 sekitar 142 ruangan dan kini sudah mencapai 951 ruangan. Ruang kelas SD yang rusak ringan meningkat dari 130 ruangan menjadi 922 ruangan. Kemudian ruang kelas rusak berat meningkat dari 12 ruangan menjadi 29 ruangan.

Sedangkan ruang kelas SMP yang rusak di kabupaten tersebut meningkat dari 71 ruangan (2015) menjadi 284 ruangan (2017). Jumlah ruang kelas SMP yang rusak ringan meningkat dari 56 ruangan menjadi 284 ruangan. Ruang kelas yang rusak berat meningkat dari lima ruangan menjadi 23 ruangan.

Meningkatnya jumlah ruang kelas yang mengalami kerusakan di Batanghari selama tiga tahun ini, lanjut Deni, karena di setiap sekolah hanya dilakukan pemeliharaan gedung sekolah. Sedangkan perbaikan atau rehabilitasi total kerusakan gedung sekolah tidak ada. Kemudian pemeliharaan gedung sekolah juga tidak dilakukan di semua sekolah.

“Pola perbaikan kerusakan ruang kelas seperti ini tidak efektif. Ketika pemeliharaan kerusakan ruang kelas di beberapa sekolah dilakukan, kerusakan ruang kelas di sekolah lain bertambah. Kondisi tersebut tidak bisa dihindari karena jumlah ruang kelas yang rusak dan jumlah sekolah cukup banyak,”katanya.

Dikatakan, pihaknya sudah mengusulkan agar pihak sekolah SD dan SMP di Batanghari melakukan perbaikan kerusakan ruang kelas di sekolah masing-masing. Pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batanghari sudah melakukan pemetaan mengenai sekolah-sekolah yang perlu mendapatkan prioritas perbaikan ruang kelas.

Sementara itu, Kepala Seksi (Kasi) Kelembagaan dan Sarana Prasarana Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Batanghari, Yantoni mengatakan, perbaikan kerusakan sebagian ruang kelas di daerah itu masih bisa dilakukan sekolah tanpa menggunakan bantuan dana. Pihak sekolah bisa menggunakan dana biaya operasional sekolah (BOS) penanganan secara darurat kerusakan ruang kelas di sekolah masing-masing.

“Pihak sekolah masih bisa memperbaiki kerusakan plafon, ruang kelas, lantai, jamban dan atap yang kondisi kerusakannya masih tergolong ringan. Untuk perbaikan kerusakan ruang kelas dan gedung sekolah yang kondisinya masuk kategori berat, kami akan mengusahakan bantuan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batanghari,” katanya.



Suara Pembaruan

Radesman Saragih/JAS

Suara Pembaruan