Kowani Usulkan Laksamana Malahayati sebagai Pahlawan Nasional i

Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) Giwo Rubianto Wiyogo

Oleh: Dina Manafe / FER | Jumat, 26 Mei 2017 | 15:13 WIB

Jakarta - Kongres Wanita Indonesia (Kowani) mengusulkan gelar pahlawan nasional kepada Laksamana Keumalahayati. Bila dikabulkan oleh pemerintah, Keumalahayati akan menjadi pahlawan nasional perempuan pertama dari Angkatan Laut Indonesia.

Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo, mengatakan, dari catatan sejarah lokal, nasional maupun internasional, dokumen-dokumen dan cerita para pewarisanya, Keumalahayati atau lebih dikenal dengan Laksamana Malahayati sangat layak dijadikan salah satu pahlawan nasional perempuan di Indonesia. Malahayati merupakan laksamana perempuan pertama di dunia.

"Dari dokumen sejarah yang kami pelajari, buku-buku dan cerita dari para ahli waris, kami tidak ragu-ragu untuk mengatakan bahwa Laksamana Malahayati sangat layak mendapat penghargaan sebagai pahlawan nasional," kata Giwo Rubianto saat menerima ahli waris Laksamana Malahayati di Jakarta, Kamis (25/5).

Untuk itu, lanjut Giwo, Kowani sudah mulai melakukan berbagai upaya untuk memenuhi syarat usulan kepahlawanan tersebut. Mulai dari pengumpulan dokumen, foto-foto, wawancara ahli waris, wawancara tokoh masyarakat, tokoh adat dan tokoh agama terutama di daerah di mana Malahayati lahir, tinggal dan berjuang. Juga mengumpulkan catatan sejarah lokal maupun dokumen dari Eropa, dan buku-buku yang mengisahkan tentang Malahayati.

Sebelumnya Kowani juga telah mengusulkan dan bertemu dengan Menteri Sosial (Mensos), Khofifah Indar Parawansa, meminta dukungan dari Menko Kemaritiman, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, pemda Aceh, dan instansi terkait. Kowani juga akan menggelar seminar nasional tentang perjalanan hidup Malahayati.

Untuk memperkuat data sejarah terkait sepak terjang Laksamana Malahayati dan nilai kepahlawanannya, Kowani menghadirkan ahli waris ke 47 dari Malahayati, yakni Sultanah Putroe Safiatuddin Cahaya Nur'alam bin Twk Raja Ibrahim.

Dalam pertemuan di Kowani, Bundo Putroe membeberkan silsilah ketokohan Laksamana Malahayati yang hidup kurun abad 16-17 Masehi.

Ahli waris berharap selaih gelar pahlawan nasional, ketokohan Malahayati juga masuk dalam dunia pendidikan menjadi pelajaran sejarah di sekolah-sekolah agar perjuangan untuk bangsa ini tetap dikenang dan menginspirasi generasi muda.

Sementara itu, Kepala Subdinas Sejarah Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut, Kolonel Syarif Thoyib, mengatakan, Malahayati adalah aset negara, khususnya bagi Angkatan Laut. Malahayati bukan cerita legenda yang turun temurun di masyarakat Aceh, melainkan tokoh nyata dalam sejarah yang bisa ditelusuri melalui berbagai data.

"Bagi Angkatan Laut, Laksamana Malahayati adalah tokoh sejarah yang nyata dan hidup. Karena pejuang di zaman dahulu rata-rata berasal dari kaum bangsawan. Juga banyak data lokal yang mengisahkan perjalanan hidupnya, dan diperkuat dengan data-data dari Eropa," kata Syarif.

Syarif mengatakan, Angkatan Laut akan memberikan rekomendasi untuk memperkuat usulan Kowani. Setelah syarat-syarat untuk usulan kepahlawanan dilengkapi, tim inisiator akan mengusulkan ke Pemda Aceh.

Data-data ini akan dinilai oleh badan penilaian gelar pahlawan hingga di tingkat provinsi, dimana akan terlibat di dalamnya tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan sudah pasti sejarahwan.

Embie C Noer dari Yayasan Karya Budaya Nusantara mengatakan, berdasarkan data-data yang ada, pihaknya akan membawa kisah kepahlawanan Malahayati ke dalam sebuah film layar lebar.

Menurut Embie, Malayahati bukan saja tokoh yang memukau dan pemberani, tetapi akan menjadi catatan sejarah bahwa perempuan di zaman dahulu berperan penting dalam peradaban bangsa Indonesia.

"Bila nanti kami berhasil memfilmkan dengan sebaik-baiknya, kisah ini akan menjadi perhatian dunia internasional. Bahwa tidak benar dalam segala aspek hanya didominasi oleh laki-laki, ternyata peran perempuan luar biasa," kata dia.

Embie mengatakan, kisah tokoh Malahayati akan menjadi salah satu bukti Indonesia kembali tampil di kancah internasional terkait kebudayaan, dimana perempuan menjadi salah satu figur penting.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT