Pasca-Bom Kampung Melayu, 31 Terduga Teroris Dibekuk

Ilustrasi terduga teroris. (Antara)

Oleh: Farouk Arnaz / HA | Senin, 19 Juni 2017 | 23:31 WIB

Jakarta - Polri tak ingin lagi kecolongan dengan aksi maut seperti kasus bom yang meledak di Kampung Melayu pada 24 Mei lalu.

Sabtu (17/6) lalu, polisi berhasil menangkap dua orang terduga teroris di Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (16/6), yang diduga berencana menyerang Polsek Woha, Bima.

Dengan demikian total sudah 31 orang ditangkap terkait terorisme sejak serangan di Kampung Melayu yang menewaskan tiga anggota polisi tersebut.

Keduanya diduga berkomunikasi langsung dengan WNI tokoh Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) Bahrun Naim yang kini berada di Suriah. Naim diketahui sebagai dalang aksi teror belakangan ini.

"Sabtu malam kemarin (Polsek Woha) mau diserang tapi karena sudah ketahuan ya nggak jadi," kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto di silang Monas, Jakarta (19/6)

Setyo menduga mereka menyasar Polsek Woha karena penjagaan di sana lemah. Namun, aksi tersebut berhasil digagalkan Densus 88.

Naim Tokoh Sentral
Di tempat yang sama Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan kepada seluruh jajarannya untuk proaktif dalam menangani terorisme.

"Kita tidak ingin kecolongan ada tindak aksi teror selama bulan Ramadan. Sekarang sudah ditangkap sebanyak 31 orang ditahan, baik di Medan, Jambi, Jabar, Jateng, Jatim, Sulawesi Selatan, sampai ke daerah Bima," tambahnya.

Tito menerangkan tidak semua yang ditangkap itu terkait dengan bom Kampung Melayu, namun hampir semua menggunakan bahan peledak TATP (triacetone triperoxide).

Bom ini juga diperoleh dari terduga tersangka teroris di Bima yang lokasinya memang rawan penyerangan polisi.

"Kita ketahui di Bima ada beberapa kali kejadian beberapa tahun belakangan ada anggota polisi yang meninggal ditembak dan lain-lain di sana," imbuh Tito.

Tito menambahkan kedua tersangka di Bima itu berafiliasi dengan Jamaah Ansharu Daulah. Karena itulah ada sejumlah kemiripan antara rencana aksi pengeboman di Bima dengan pengeboman Kampung Melayu.

Dua pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu, INS dan AS, juga dipastikan berkomunikasi dengan Naim. Demikian juga dengan di Bima, di mana mereka belajar dari Naim melalui komunikasi daring.

Ideologi Takfiri
Tito mengatakan pengikut ISIS memegang ideologi takfiri yakni ideologi yang berdasarkan prinsip tauhid yang berbeda dengan Al Qaeda.

Dalam pandangan ISIS mereka mengenal takfiri yakni mengharamkan apapun yang bukan berasal dari Tuhan. Kalau ada kelompok yang bukan bagian mereka, termasuk muslim sekalipun, boleh dibunuh.

Contohnya kasus pengeboman masjid Mapolres Cirebon yang dianggap masjid dhiror. Kala itu Kapolres Cirebon AKBP Herukotjo dan puluhan orang lain ikut menjadi korban luka akibat serangan bom bunuh diri.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT