Bupati Anas Batalkan Aturan Diskriminatif di SMPN 3 Genteng

SMPN 3 Genteng, Banyuwangi. (Kemdikbud)

Oleh: Feriawan Hidayat / FER | Minggu, 16 Juli 2017 | 17:44 WIB

Banyuwangi - Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, langsung meminta kepala dinas pendidikan (Disdik) Banyuwangi, untuk membatalkan aturan wajib berjilbab yang diterapkan berdasarkan inisiatif pimpinan SMPN 3 Genteng. Aturan tersebut, dinilainya diterapkan secara serampangan karena tanpa melihat latar belakang agama siswa, sehingga berpotensi mendiskriminasi pelajar beragama selain Islam.

"Saya dapat info itu kaget dan marah sekali. Saya telepon Pak Sulihtiyono (kepala dinas pendidikan-red), dan minta itu dicek. Ternyata itu aturan inisiatif pimpinan sekolahnya. Terus terang saya sangat marah dan kecewa. Kita ini pontang-panting jaga kerukunan umat, kok masih ada paradigma seperti ini. Kalau berjilbab untuk pelajar muslim kan tidak masalah, tapi ini diterapkan secara menggeneralisasi tanpa melihat latar belakang agama pelajarnya. Saya sudah minta batalkan aturan itu. Batalkan detik ini juga," kata Anas, saat dikonfirmasi Beritasatu.com, Minggu (16/7).

Anas menambahkan, penerapan aturan ini bakal menjadi pertimbangan serius bagi pihaknya untuk mengevaluasi kinerja kepala sekolah yang bersangkutan. "Saya minta kepala dinas untuk mengkaji pemberian peringatan dan sanksi kepada pimpinan sekolah yang menerapkan aturan itu," tegas Anas.

Sementara itu, kepala dinas pendidikan (Disdik) Kabupaten Banyuwangi, Sulihtiyono, mengatakan, pihaknya sudah menginstruksikan kepala sekolah untuk menghapus aturan yang dinilai diskriminatif tersebut.

"Sesuai perintah Bupati Anas, kita instruksikan kepala sekolah untuk menghapus aturan itu saat ini juga," kata Sulihtiyono.

Seperti diketahui, terdapat kejadian kurang mengenakkan yang menimpa NWA, salah seorang pelajar perempuan dari Kecamatan Genteng. Pelajar itu urung masuk SMPN 3 Genteng karena ada aturan pewajiban seluruh siswi mengenakan jilbab tanpa terkecuali.

Sulihtiyono menjelaskan, terdapat tiga skema pendaftaran siswa baru. Yang pertama sistem zona dan siswa dari keluarga kurang mampu. Kedua, pendaftaran berbasis online. Ketiga, jalur minat, bakat, dan prestasi.

NWA mendaftar melalui online dengan dua pilihan, yaitu SMPN 1 Genteng dan SMPN 3 Genteng. Yang bersangkutan kemudian diterima di SMPN 3 Genteng, namun urung masuk karena adanya aturan kewajiban berjilbab. Akhirnya, NWA mencoba melalui jalur minat, bakat, dan prestasi, sehingga diterima di SMPN 1 Genteng.

"Pelajar yang bersangkutan sudah diberi penjelasan tetap bisa diterima di SMPN 3 Genteng, karena aturan sudah dibatalkan atas perintah Pak Bupati. Namun, NWA tetap memilih SMPN 1 Genteng. Kami memohon maaf atas kejadian ini, dan saya pastikan tidak akan ada lagi permasalahan serupa terjadi di kemudian hari," tegas Sulihtiyono.

 




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT