Di Purwakarta, Pelajar Kurang Mampu Dikecualikan dari Wajib Seragam Sekolah

Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi. (Suara Pembaruan/Fana Suparman)

Oleh: Fana Suparman / FMB | Senin, 17 Juli 2017 | 15:21 WIB

Jakarta - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi memperbolehkan pelajar dari tingkat SD dan SMP yang berasal dari keluarga kurang mampu untuk tidak mengenakan seragam sekolah. Kebijakan itu disampaikan Dedi di sela kegiatan Sapa Pelajar di Hari Pertama Masuk Sekolah yang dilaksanakan di Bale Paseban Pendopo Purwakarta, Jalan Gandanegara No. 25, Senin (17/7).

Kang Dedi, sapaan Dedi Mulyadi mengungkapkan, seragam dan peralatan sekolah kerap menjadi persoalan bagi orangtua terutama menjelang tahun ajaran baru. Padahal pendidikan merupakan hak bagi setiap anak tanpa melihat strata ekonomi. Untuk itu, Dedi menegaskan, tidak ada paksaan bagi pelajar kurang mampu mengenakan seragam sekolah.

"Cukup banyak keluhan dari orangtua yang tidak mampu membeli seragam, sepatu dan peralatan sekolah yang lain. Saya sampaikan, tidak ada paksaan untuk mengenakan seragam," kata Dedi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Senin (17/7).

Untuk menerapkan kebijakan ini, Dedi meminta pihak sekolah mengidentifikasi keadaan ekonomi setiap pelajar. Gerakan empati kepada pelajar kurang mampu ia serukan untuk segera dilakukan. Pelajar dari keluarga mampu membantu pelajar yang kurang mampu.

"Hari ini pihak sekolah harus melakukan identifikasi, berapa pelajar yang keadaan ekonominya mapan, dan berapa pelajar yang keadaan ekonominya rawan. Kita gotong-royong saja untuk membantu yang kurang mampu. Nanti pelajar yang ekonomi keluarganya dinilai mampu itu membantu pelajar yang keadaan ekonominya kurang mampu," kata pria yang kini kerap mengenakan kemeja putih dan peci hitam.

Selain itu, Dedi juga meminta orangtua pelajar kurang mampu membuat pernyataan keadaan ekonomi keluarganya membutuhkan bantuan sehingga tidak mampu membeli seragam maupun peralatan sekolah. Hal ini lantaran banyak keluarga yang mengaku tak mampu membeli seragam dan peralatan sekolah, tetapi menggunakan perhiasan mewah.

"Di kita ini sering ada kebiasaan jelek, ngakunya keluarga kurang mampu tetapi gelang emasnya banyak sekali. Ini kan aneh, makanya saya minta pernyataan tertulis di atas materai bahwa memang benar keluarganya perlu dibantu," katanya.

Dedi menegaskan, esensi pendidikan adalah membangun peradaban. Sementara empati merupakan salah satu ruh peradaban yang harus terbangun. Untuk itu, kepada pelajar yang hadir, Dedi meminta diterapkannya sikap empati agar tidak ada lagi pelajar yang minder saat menjalani kegiatan belajar di sekolah.

"Pelajar yang berasal dari keluarga mampu jangan suka pamer, pelajar yang berasal dari keluarga kurang mampu tidak perlu minder, ada empati. Itulah pendidikan, saling tolong, saling bantu," tegasnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT