KPK Akui Kesulitan Tuntaskan Kasus RJ Lino

Tersangka korupsi pengadaan quay container crane (QCC) di Pelindo II tahun 2010 Richard Joost Lino. (Antara/ Akbar Nugroho)

Oleh: Fana Suparman / YUD | Senin, 17 Juli 2017 | 16:48 WIB

Jakarta - Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Rahardjo mengakui pihaknya kesulitan menuntaskan kasus dugaan korupsi pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) di PT Pelindo II. Hal itu diungkapkan Agus usai bertemu dengan Panitia Khusus (Pansus) tentang Pelindo II, Senin (17/7).

Dikatakan Agus, pihaknya telah menetapkan mantan Dirut PT Pelindo II, RJ Lino sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan tiga unit Quay Container Crane (QCC) sejak akhir 2015. Namun, Agus mengakui pihaknya mengalami sejumlah hambatan dalam menuntaskan kasus yang telah berjalan nyaris dua tahun tersebut.

"Kami menindaklanjuti dengan menersangkakan RJL (RJ Lino). Dan kemudian juga mengungkapkan perkembangannya sampai hari ini dan masih ada beberapa hal yang masih kami hadapi permasalahannya," kata Agus di Gedung KPK, Jakarta, Senin (17/7).

Meski demikian, Agus berjanji akan berupaya menuntaskan kasus tersebut. Apalagi, katanya, Pansus Angket Pelindo II telah menyerahkan data dan informasi terkait, termasuk mengenai sejumlah dugaan korupsi di Pelindo II lainnya.

"Temuan yang paling baru ternyata ada data banyak sekali," katanya.

Sebelumnya, Ketua Panitia Khusus (Pansus) Angket Pelindo II, Rieke Diah Pitaloka meminta KPK menindaklanjuti audit investigatif BPK mengenai perpanjangan kontrak JICT. Audit investigatif yang dilakukan BPK menemukan adanya pelanggaran hukum dalam perpanjangan kontrak JICT yang dilakukan PT Pelindo II dengan Hutchison Port Holding.

"Kami hari ini menyampaikan hasil audit  BPK ke KPK agar kemudian dilanjutkan proses hukumnya," katanya.

Diketahui, KPK telah menetapkan mantan Dirut PT Pelindo II, Richard Joost Lini sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan tiga unit QCC di PT Pelindo II sejak akhir 2015 lalu. Namun, penanganan kasus ini seolah jalan di tempat. RJ Lino hingga kini belum ditahan penyidik. Bahkan, Lino yang kini menjadi Komisaris PT JICT terakhir kali diperiksa penyidik sebagai tersangka pada 5 Februari lalu.

Jubir KPK, Febri Diansyah sebelumnya mengatakan, pihaknya saat ini masih menghitung kerugian keuangan negara dalam kasus dugaan korupsi QCC. Selain itu, KPK juga masih berupaya mengumpulkan bukti-bukti terkait kasus ini. Hal ini lantaran pelaksana proyek QCC di PT Pelindo II merupakan perusahaan asal Tiongkok, Wuxi Huangdong Heavy Machinery (HDHM).

Diberitakan KPK menyangka Lino telah melawan hukum dan menyalahgunakan wewenangnya sebagai Dirut PT Pelindo II untuk memperkaya diri sendiri, orang lain dan atau korporasi dengan memerintahkan penunjukan langsung perusahaan asal Tiongkok, HDHM sebagai pelaksana proyek pengadaan tiga unit QCC di PT Pelindo II. Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Lino disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) dan atau Pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT