Rizobakteria Milik Peran Penting Memacu Peningkatan Hasil Pertanian

Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI, Enny Sudarmonowati dalam sambutnya di Konferensi The 5th Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGRP) di Bogor, Senin (17/7). (suarapembaruan)

Oleh: Vento Saudale / YS | Senin, 17 Juli 2017 | 19:09 WIB

Bogor - Sekitar 250 peneliti mikro biologi dari 16 negara di Asia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menggelar diskusi Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGRP) di Bogor, Senin (17/7).

Dalam konferensi itu membahas peran Rizobakteri dalam memacu peningkatan hasil pertanian di Asia.

Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Enny Sudarmonowati dalam sambutnya menuturkan, konferensi dihadiri perwakilan dari Indonesia, India, Tiongkok, Taiwan, Korea, Pakistan, Kazakhstan, Jepang, Filipina, Malaysia, Saudi Arabia, Iran dan Hongkong. Selain itu dari Amerika Serikat, Jerman, Italia, Australia, Austria, dan Kanada.

“Basis penelitian dan diskusi riset tersebut sangat penting bagi komunikasi dan pertukaran hasil-hasil riset sehingga dapat membangun kerja sama antara berbagai instansi, baik dalam dan luar negeri,” paparnya, Senin (17/7).

Dijelaskan, kegiatan pertanian dan industri berbasis sumber daya alam menjadi landasan pertumbuhan ekonomi banyak negara di Asia. Dikatakannya, pertanian berkelanjutan yang mengintegrasikan kesehatan lingkungan serta kelayakan ekonomi diperlukan untuk menunjang upaya jangka panjang penuingkatan produktuvitas sumber daya alam, sehingga menunjang kualitas penghidupan ke depan.

Panitia Konferensi Sarjiya Antonius menjelaskan, secara teknis menjelaskan, Plant Growth-Promoting Rhizobacteria atau kerap disebut Rizobakteri merupakan bakteri yang berkoloni dengan perakaran dan mendukung kekebalan, pertumbuhan, dan perkembangan tanaman berkat kemampuannya dalam menghasilkan zat pengaturan tumbuh (ZPT).

Anton menjelaskan, konferensi mengupas lebih dalam peran Rizobakteri dalam memacu peningkatan hasil pertanian. Rizobakteri juga menjadi biokatalis untuk mendukung tersedianya dan asam-asam organik penting lainnya bagi tanaman.

Menurutnya, PGPR sebagai agen pelestarian lingkungan menjaga biodiversitas mikroba perakaran guna mendukung pertanian ramah lingkungan yang dapat meningkatkan hasil pertanian.

"Salah satu upaya untuk mempertahankan produktivitas pertanian adalah dengan mengaplikasikan dan komersialisasi PGPR," katanya.

Saat ini, mengaplikasikan dan komersialisasi PGPR sudah berkembang mendunia. Oleh karena itu, perlu ada kesadaran bersama dalam penataan dan pemanfaatan sumber daya biologis tersebut. Tantangan yang dihadapi saat ini adalah mengubah pola pikir masyarakat petani dari penggunaan pupuk kimia menjadi pupuk organik hayati.

"Petani masih berorientasi menggunakan pupuk kimia, padahal jika terus dibiarkan, tidak baik untuk ke depannya. Ini yang harus didorong, melalui PGPR ini bagaimana mengajak petani untuk bercocok tanam secara organik," tambah Anton.

Pendiri yang juga Ketua Asian PGPR Prof MS Reddy mengatakan, konferensi tersebut menjadi ajang bertemunya para peneliti dan pakar dari berbagai negara untuk saling bertukar informasi dan pengalaman dalam mengaplikasikan Rizobakteri di pertanian.

Ia menambahkan, konferensi Asian PGPR kali ini merupakan yang kelima kalinya. Sebelumnya juga sudah diselenggarakan di sejumlah negara di antaranya, India, Tiongkok, Vietnam, Manila, dan saat ini di Indonesia.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT