Ilustrasi digital ginjal. (123RF)
Seorang anak asal Indonesia ditemukan di Jepang dan diduga kehilangan satu ginjal.

Bukan hanya pulang tanpa nyawa, tiga pahlawan devisa Indonesia pun dicurigai kehilangan organ tubuhnya. Diduga, mereka menjadi korban perdagangan ilegal organ tubuh di negeri jiran.

Tiga WNI yang diduga menjadi korban perdagangan organ tubuh manusia di Malaysia itu adalah Herman, 32, Abdul Kadir Jaelani, 25, dan Mad Noon, 28. Ketiganya ditembak mati polisi Malaysia di negara bagian Negeri Sembilan pada 25 Maret 2012.

Otoritas Malaysia mengklaim penembakan itu sebagai upaya bela diri karena ketiganya, yang disebut memakai masker dan membawa parang, melawan ketika didekati.

Jenazah ketiga WNI itu tiba di kampung halamannya pada 5 April 2012. Oleh keluarga, ketiga jenazah langsung dimakamkan tanpa diotopsi terlebih dulu dengan alasan sudah dimandikan dan dikafani.  

Sebelumnya, pada Jumat (30/3), Wildan dan Hirman yang merupakan kakak kandung Abdul Kadir sempat datang ke rumah sakit milik pemerintah di Port Dickson, Negeri Sembilan. Di sana, keduanya mendapati ketiga korban sudah meninggal dunia.

Saat itu diketahui, kondisi ketiga jenazah telah dijahit pada kedua mata masing-masing jenazah dan jahitan horisontal di dada dan perut bagian bawah, yang terhubung dengan jahitan vertikal sepanjang dada hingga perut.

Sedangkan, dalam dokumen kematian disebutkan, ketiganya meninggal karena luka tembakan berganda. Berbekal informasi tersebut, pada 14 April 2012, pihak keluarga di Indonesia meminta bantuan Koslata, sebuah LSM setempat, untuk mengadvokasi kasus tersebut.

Anak pun jadi incaran

Dugaan adanya jaringan penjualan organ tubuh manusia bukan baru merebak saat ini. Kemungkinan adanya tindak ilegal tersebut juga santer diberitakan pada 2010. Bahkan, saat itu ditengarai anak-anaklah yang dijadikan target oleh pelaku.

Seorang gadis mungil berusia sekitar 12 tahun asal Indonesia ditemukan di Jepang. Dia yang kemudian dikenal dengan nama Melati itu ditengarai juga menjadi korban penculikan dengan sasaran perdagangan organ tubuh.

"Anak itu hilang saat usia 8 tahun. Sekarang umurnya sudah 12 tahun," ujar Sekjen Komnas Perlindungan Anak (PA) Arist Merdeka Sirait, saat itu.

Lidah Melati tidak sempurna, diduga karena dipotong oleh penculiknya dengan tujuan untuk menghilangkan jejak. Luka potongan terlihat sudah lama. Selain lidahnya, ditemukan juga luka lainnya ditemukan di pinggang bagian belakang. "Kemungkinan dia kehilangan satu ginjal," papar Arist.

Perdagangan organ, khususnya yang melibatkan anak, diduga tidak hanya terjadi di luar negeri. Pada tahun yang sama, Arist juga mengungkapkan maraknya modus serupa di di berbagai wilayah di Indonesia.

“Setidaknya, sudah terjadi di tiga daerah, di Bogor, Jawa Tengah, dan Tangerang. Para korban penculikan itu dikembalikan dengan kondisi tubuh yang tidak lagi lengkap, sekaligus diberikan uang,” ungkapnya, saat itu.

Di Jawa Tengah, ada anak yang diculik lalu dikembalikan tanpa organ dan mulut tersumpal uang Rp1 juta. Sedangkan, seorang bocah laki-laki berusia 10 tahun kembali kepada keluarganya di daerah perbatasan Jayanti, Tangerang, dan Cikande, Serang, beberapa waktu lalu tanpa ginjal dan jantung.

"Ginjal dan jantungnya hilang, juga ada uang Rp200 ribu," ujar Arist, akhir Agustus 2010.

Kejahatan terorganisir

Oleh Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB), kegiatan jual beli organ tubuh itu dikategorikan sebagai kejahatan terorganisir. Biasanya, para pencari korban  melibatkan kurir, staf RS/klinik dan pusat kesehatan lain, tenaga medis profesional, perantara dan kontraktor, pembeli, serta bank tempat penyimpanan organ.

Berkaitan dengan tindak kejahatan itu, PBB mengindentifikasi tiga modus yang acap dilancarkan pelakunya. Yakni, pertama, pemaksaan atau penipuan terhadap korban agar bersedia memberikan organnya. Kedua, iming-iming kepada korban agar secara formal maupun informal menyetujui adanya perdagangan organ tubuhnya. Sedangkan ketiga, tipuan penyakit terhadap calon korban.

Sejauh ini Cina dikenal sebagai negara yang melegalkan pengambilan organ tubuh manusia untuk dijadikan sebagai donor. Biasanya, organ diambil dari para tahanan.

Namun belakangan, Cina telah mempublikasikan tekadnya untuk menghentikan praktek tersebut. Untuk memenuhi kebutuhan donor organ pada lima tahun mendatang, mereka akan mengandalkan pada sumbangan secara sukarela.

Diketahui, angka resmi dari Kementerian Kesehatan Cina menyebutkan setiap tahunnya, sekitar 1,5 juta orang di Cina membutuhkan transplantasi. Namun, hanya 10.000 saja yang bisa dipenuhi.

Apakah kedua kondisi itu, yakni maraknya perdagangan ilegal organ tubuh manusia dan tingginya kebutuhan atas donor organ, saling mempengaruhi, memang perlu ditelisik lebih jauh.
 
Hanya yang pasti, pemerintah tidak bisa lagi menganggap dugaan itu sebagai rumor belaka. Mereka harus bergerak cepat dan serius menanggapi adanya kemungkinan tersebut. Sehingga tercipta perlindungan maksimal bagi warga negara Indonesia, baik yang ada di luar negeri ataupun di dalam negeri, dari cengkraman mafia perdagangan organ ilegal.

Penulis: