282 Taruna Lolos Akpol secara Clear and Clean

Taruna dan taruni di Akademi Kepolisian (Akpol) Semarang, Jawa Tengah. (B1/Farouk Arnaz)

Oleh: Farouk Arnaz / AB | Kamis, 3 Agustus 2017 | 11:34 WIB

Semarang - Sebanyak 282 orang dinyatakan lulus sebagai taruna dan taruni Akademi Kepolisian (Akpol) tahun ajaran 2017. Jumlah tersebut melampaui rencana semula yang hanya 275 orang, terdiri dari 240 taruna dan 35 taruni. Alasan penambahan tujuh lulusan untuk mengakomodasi keterwakilan taruna dari tiap daerah atau provinsi. Semua proses penerimaan di Akpol clear and clean.

"Dari hasil rekapitulasi akhir ternyata ada Polda yang tidak terwakili karena nilainya tidak masuk ranking 1-240. Akhirnya, atas kebijakan pimpinan Polri, ditambahlah tujuh seat (untuk taruna)," kata Asisten SDM Kapolri Irjen Arief Sulistyanto di Graha Cendekia Akpol, Semarang, Kamis (3/8).

Arief menegaskan sebagai ketua panitia pusat seleksi Akpol, dirinya harus memilih taruna dengan ketat dan objektif karena kesadaran bahwa mereka akan memimpin Polri 30-an tahun ke depan.

"30 tahunan ke depan, dari kalian, diproyeksikan ada yang jadi kapolri, kalemdiklat, dan kapolda. Kalau hari ini salah memilih, maka 30 tahun ke depan ada pemimpin yang tidak baik," lanjut Arief.

Mantan kapolda Kalbar itu menambahkan selama 21 hari--saat tanggung jawab seleksi pusat ada di pundaknya--dirinya menjadi "manusia asosial" karena menutup diri dari pihak luar.

"Meski itu teman saya sendiri, saya tidak mau dihubungi (kalau mau titip-titip). Saya punya tanggung jawab moral. Ini soal 32 tahun Polri ke depan mau jadi apa," sambungnya.

Arief juga berterima kasih kepada calon taruna dan orangtua yang menaati aturan seleksi dengan tidak melakukan lobi dan menitip taruna pada dirinya.

"Ada yang takut mendekati saya, lalu mendekati pejabat lain. Percuma saja. Saya akan pegang teguh sumpah itu, sehingga seluruh tahapan seleksi dari awal sampai hari ini kami pegang komitmen pertahankan integritas," tegasnya disambut tepuk tangan.

Arief menjamin seluruh nilai didapat secara objektif dan tidak ada permainan. Sistem penilaian yang dilakukan lewat komputer diawasi Lembaga Sandi Negara.

"Kami clear and clean dan ini dapat dukungan dari pimpinan Polri yang memang menghendaki atmosfer ini," tambahnya.

Kalemdikpol Komjen Moechgiyarto mengamini bahwa panitia seleksi tahun ini sangat baik. Baru tahun ini sistim Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (Betah) dapat dijalankan dengan baik.

"Pimpinan Polri memang berkomitmen ingin mencari kulitas untuk mencari bibit unggul ke depan," katanya.

Jenderal bintang tiga ini mengakui masih ada pihak-pihak yang mencoba melobi dirinya untuk menitipkan anak agar diluluskan.

"Ada teman saya yang cari-cari saya sampai di hotel, dia mau menghadap. Saya jawab untuk apa? Kita cari calon yang berkualitas, tidak soal dia anaknya siapa," tegasnya.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT