Kematian Saksi Kunci E-KTP Jangan Ganggu Proses Hukum

Tempat kejadian peristiwa (TKP) tewasnya Johannes Marlie akibat tembakan bunuh diri di kawasan Beverly Grove, Los Angeles, AS, 10 Agustus 2017. (WeHo Ville)

Oleh: Yeremia Sukoyo / YUD | Minggu, 13 Agustus 2017 | 07:41 WIB

Jakarta - Salah satu saksi kunci kasus KTP elektronik (e-KTP) Johannes Marliem ditemukan tewas di Amerika Serikat. Kabar ini sempat menghebohkan lantaran di Indonesia sendiri kasus e-KTP tengah digarap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Seperti diketahui, Johannes merupakan penyedia alat automatic fingerprint identification system (AFIS) dalam proyek e-KTP dan belum sempat dihadirkan untuk bersaksi di persidangan.

Anggota DPR RI Komisi III Ahmad Sahroni berharap kabar kematian Johannes jangan sampai mengganggu jalannya proses penegakan hukum kasus korupsi e-KTP di KPK.

"Kami ucapkan bela sungkawa yang mendalam atas meninggalnya Johannes. Kami juga berharap semoga kasus E KTP yang ditangani KPK tetap tuntas," kata Ahmad Sahroni, Minggu (13/8) di Jakarta.

Menurut Sahroni, untuk saksi-saksi kasus besar memang sebaiknya diberikan perlindungan khusus oleh lembaga penegak hukum. Langkah demikian dilakukan untuk mencegah agar kejadian yang sama tidak kembali terulang.

"Seharusnya, saksi penting mendapatkan perlindungan khusus. Bukan malah mempublikasikan saksi-saksi tersebut kemana-mana sehingga nyawanya bisa terancam," ucap Sahroni.

Terkait kematian Johannes, KPK sendiri belum bisa memastikan apakah yang bersangkutan tewas bunuh diri atau dibunuh. Sebab, terdapat kabar yang menyebutkan terdengar beberapa suara tembakan sesaat sebelum pengusaha itu ditemukan tewas.

‎Disebutkan, penyelidikan tewasnya Johannes Marliem merupakan domain polisi AS. Pihaknya belum dapat memastikan seberapa jauh implikasi tewasnya Johannes dengan penanganan perkara e-KTP.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT