Mahfud MD: Negara Tidak Wajib Mengganti Kerugian Korban First Travel

Mahfud MD. (Antara)

Oleh: / YUD | Senin, 21 Agustus 2017 | 20:27 WIB

Jakarta - Pakar Hukum Tata Negara dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Mahfud MD menegaskan tidak ada kewajiban negara untuk mengganti kerugian korban dugaan penipuan yang dilakukan oleh First Travel yang gagal memberangkatkan umrah.

"Negara tidak berkewajiban, kewajiban hukumnya tetap kepada yang menipu, kalau yang menipu tidak cukup, yaitu yang menjadi korban, makanya dihukum dia," kata Mahfud di Jakarta, Senin (21/8).

"Negara tidak harus bergantung, kecuali negara berbaik hati. Tetapi kewajiban negara tidak ada, kalau negara berbaik hati kita pujilah," ucapnya.

Dalam kesempatan itu Mahfud juga bercerita pernah menjalin kerja sama dengan First Travel pada tahun 2011 saat dirinya menjadi Ketua Alumni Universitas Islam Indonesia (UII). Namun hubungan tersebut akhirnya ia putus karena melihat gelagat yang tidak baik dari jasa travel tersebut.

"Saya dulu Ketua Alumni UII, tahun 2011 membawa peserta 750 orang, murah sekali waktu itu Rp 12 juta lancar, berikutnya saya bawa lagi 500 orang itu sampai di Jakarta penerbangannya ditunda, ini sudah dari seluruh Indonesia, sampai di bandara ini ditunda tiga hari, padahal orang sudah cuti dan harus mengurus sendiri di situ, masih bisa berangkat," ceritanya.

Kemudian, pada rombongan yang ketiga, menurut dia, jemaah diberangkatkan secara terpisah.

"Suaminya terbang ke Jeddah, istrinya terbang lewat mana, itu sehingga di Mekah pun menjadi terpisah-pisah, sehingga umrah menjadi kurang menyenangkan, 2011, 2012, 2013, akhirnya saya putus tidak boleh kerja sama dengan First Travel karena ini akan terjadi sesuatu, dan sekarang sesuatunya itu terjadi betul," katanya.

Ia mengatakan, operasi First Travel tersebut seperti meniup balon, dengan mengumpulkan dana-dana para jemaah untuk memberangkatkan jemaah sebelumnya.

"Jadi dana yang dikumpulkan sekarang itu untuk membiayai orang yang diambil kemarin, orang yang diambil kemarin untuk sebelumnya lagi, itu kan membengkak terus, akhirnya sampai sekarang 72 ribu, saya waktu itu langsung putus, saya tidak mau lagi dengan First Travel, dia juga karena tidak mau mengeluaran secarik kertaspun, bahwa Anda (sudah) bayar," katanya.




Sumber: ANTARA
ARTIKEL TERKAIT