Buwas: Malaysia Support Masuknya Narkotika ke Indonesia

Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso dan Bea Cukai mengungkap dua kasus jaringan Malaysia dengan barang bukti 57,54 kg sabu-sabu, di Markas BNN, Cawang Jakarta Timur pada Rabu (23/8/2017) pagi. (sp/carlos roy barus)

Oleh: Carlos Roy Fajarta / BW | Rabu, 23 Agustus 2017 | 10:38 WIB

Jakarta- Badan Narkotika Nasional (BNN) menilai Malaysia sengaja memberi akses masuk bagi narkotika untuk keluar dari negara tersebut dan masuk ke Indonesia. Pada 6 Agustus lalu, BNN menyita 17,54 kg narkotika jenis sabu-sabu dan dua pelakunya tewas di Kalimantan Barat. Kemudian, pada 18 Agustus BNN menyita 40 kg sabu-sabu di perairan Aceh dan salah satu pelakunya merupakan oknum anggota TNI.

Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso (Buwas) menyatakan saat ini hampir sebagian besar narkotika yang masuk ke Indonesia dari luar negeri berasal dari negara tetangga Malaysia, baik melalui jalur laut maupun jalur perbatasan darat. Sekitar 100 kg narkotika jenis sabu-sabu setiap bulan masuk ke Indonesia berasal dari Malaysia dengan misi untuk menghancurkan generasi muda Indonesia.

"Dua jaringan (narkotika, Red) melibatkan negara tetangga kita Malaysia. Saya bisa katakan bahwa Malaysia masih men-support lancarnya narkotika masuk ke negara kita," tegas Budi Waseso di kantor pusat BNN di Cawang, Jakarta.

Dikatakan, sindikat narkotika yang ditangkap merupakan jaringan Malaysia yang sudah berkali-kali beraksi memasukkan narkotika ke Indonesia. Bahkan, yang ditangkap di Kalimantan Barat, setelah ditelusuri bersama Bea Cukai memiliki hubungan dengan sabu-sabu 1 ton di Anyer.

"Tahun 2016 kita memusnahkan 3,5 ton sabu-sabu, tetapi tahun ini jumlah narkotika jenis sabu-sabu yang masuk ke Indonesia semakin meningkat drastis. Saya sejak Kabareskrim, sudah sering saya mengurus anak buah untuk mengungkap jaringan di sana," tuturnya.

Namun, setelah bekerja sama dengan kepolisian Malaysia, jaringan tersebut hilang dan tak terendus keberadaannya.

"Negara tetangga kita memang sengaja membiarkan para bandar narkoba mereka yang steril dari menggunakan narkoba untuk memanfaatkan daerah perbatasan. Mereka juga memasukkan tidak dalam jumlah besar sekaligus, satu ton bisa dibagi ke beberapa titik di wilayah Indonesia," kata Buwas.

Sementara itu, Dirjen Bea Cukai Kementerian Keuangan, Heru Pambudi mengatakan pihaknya saat ini sudah mencermati para pemasok narkoba memanfaatkan pelabuhan tikus.

"Kita lakukan pengawasan intensif dengan seluruh instansi terkait untuk menghentikan peredaran narkotika yang masuk ke Indonesia," ujar Heru.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT