11 Sukhoi Baru Tiba 2019, Kemhan Ingin Tambah

Pesawat jet tempur Sukhoi MK-35 melakukan akrobatik dalam puncak acara Sail Tomini 2015 di Pantai Kayu Bura, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, 19 September 2015. (Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao)

Oleh: Robertus Wardi / HA | Rabu, 23 Agustus 2017 | 16:10 WIB

Jakarta - Pemerintah Indonesia telah resmi membeli 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 dari Rusia. Pesawat tersebut akan tiba tahun 2019 karena baru dipesan tahun 2017 ini.

Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengemukakan pembelian 11 pesawat tersebut masih kurang, karena kebutuhannya adalah satu skuadron atau 16 pesawat.

"Harusnya kalau mau beli satu skuadron, itu masih kurang. Pelan-pelan bisa tambah lagi," kata Ryamizard di Kementerian Pertahanan (Kemhan), Jakarta, Rabu (23/8).

Ia menjelaskan meskipun pembelian tersebut belum sepenuhnya memenuhi ‎kebutuhan, namun tambahan 11 pesawat sudah bisa mengatasi kekurangan saat ini. Apalagi pesawat yang ada sekarang sudah tua dan tertinggal teknologinya.

Pembelian Sukhoi Su-35 dimaksudkan untuk menggantikan pesawat F-5 yang sudah tua.

Saat ditanya apakah pemotongan anggaran Kemenhan menganggu perencanaan, dia tegaskan sama sekali tidak menganggu. Pihaknya akan memprioritaskan kebutuhan-kebutuhan yang mendesak.

"‎Nanti meski turun (anggarannya) kan kalau ada uangnya ditambah lagi pasti," tegas Ryamizard.

Sebagaimana diketahui, pembelian 11 pesawat tempur Sukhoi SU-35 itu dilakukan dengan mekanisme imbal beli antar dua negara. Dari pembelian tersebut, Indonesia membayar 50 persen dalam bentuk ekspor komoditas senilai US$ 570 juta.

"Pemerintah Indonesia membeli SU-35 dari Rusia dan Rusia sebagai negara penjual berkewajiban membeli sejumlah komoditas ekspor Indonesia. Dengan skema imbal beli tersebut, Indonesia mendapat potensi ekspor sebesar 50 persen dari nilai pembelian SU-35. Dengan demikian, Indonesia mendapatkan nilai ekspor sebesar US$ 570 juta dari US$ 1,14 miliar ‎pengadaan SU-35,” tutup Ryamizard.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT