Saatnya Indonesia Integrasikan 5 Pilar Ketahanan Bangsa

Dede Farhan Aulawi. (Istimewa)

Oleh: Gardi Gazarin / PCN | Kamis, 24 Agustus 2017 | 08:39 WIB

Jakarta- Dalam menghadapi persaingan global dewasa ini, setidaknya ada lima pilar ketahanan yang harus disiapkan oleh sebuah bangsa. Mau tatau idak mau, siap atau tidak siap, kelima pilar ini yakni ketahanan militer, ketahanan pangan, ketahanan energi, ketahanan kesehatan, dan ketahanan mental spiritual tetap harus dipersiapkan.

Demikian dikatakan Komisioner Kompolnas Dede Farhan Aulawi dalam percakapan dengan SP di Jakarta, Kamis (24/8) pagi.

Ia mengatakan, kelima ketahanan ini merupakan ketahanan kontemporer yang berbasis pada fakta persaingan antarbangsa yang terjadi saat ini.

Pertama, ketahanan militer. Meskipun probabilitas persaingan dengan menggunakan kekuatan militer cenderung semakin kecil, tetapi tetap tidak bisa dinafikan bahwa kemungkinan perang itu akan selalu ada. Oleh karena itulah sering bicara soal gelar kekuatan militer, baik gelar kekuatan matra darat, matra laut, maupun matra udara.

Di sini bicara soal postur kekuatan, mulai soal alokasi anggaran militer, jumlah personel militer, dan komposisi persenjataan yang dimiliki. Mulai dari senjata ringan sampai senjata berat, bahkan sampai senjata yang memiliki hulu ledak nuklir. Begitulah setiap bangsa terus berlomba membuat persenjataan dengan teknologi mutakhirnya, bahkan sering kali sengaja dipertontonkan sebagai show of force. Padahal, di saat yang bersamaan, berbagai lembaga dan komunitas internasional mengadakan seminar, FGD, konferensi, dan sebagainya untuk bersatu membuat peradaban dunia yang aman dan damai. Sebuah anomali fakta yang sulit dibantahkan.

Kedua, ketahanan pangan. Luas daratan lama kelamaan semakin mengecil. Bisa karena erosi sungai, abrasi laut, maupun pemanasan global yang menyebabkan mencairnya es di kutub bumi. Volume air laut meningkat dan daratan pun sedikit demi sedikit terendam. Di saat yang bersamaan populasi manusia terus bertambah yang praktis menyebabkan peningkatan kebutuhan akan pangan dan kebutuhan lahan untuk tempat tinggal terus meningkat.

Di sini hukum ekonomi akan berlaku, yaitu saat supply berkurang sementara demand meningkat, maka harga-harga otomatis akan mahal. Lihatlah fakta empirik di mana harga-harga sembako semakin mahal. Lihat juga realitas bahwa harga tanah di berbagai daerah semakin mahal. Harga mahal kalau diimbangi dengan peningkatan daya beli tentu tidak masalah. Tetapi, harga mahal saat daya beli menurun maka berpotensi menimbulkan kerawanan dan kriminalitas.

Bahkan, beberapa ahli menyampaikan bahwa suatu saat akan sangat dimungkinkan banyak konflik sosial sampai peperangan dikarenakan sengketa lahan, pangan, dan air.

Ketiga, ketahanan energi. Suatu kemajuan dapat diukur dengan berbagai parameter, seperti jumlah kendaraan, gedung- gedung yang besar, dan lain-lain yang tentu membutuhkan sumber daya energi yang luar biasa. Sementara itu, sumber daya energi tentu terbatas sekali, apalagi kalau dikaitkan dengan sumber daya alam, seperti batu bara, minyak bumi, dan sebagainya.

Cadangan sumber daya alam yang menurun, tetapi kebutuhan meningkat bisa menimbulkan "syahwat kolonialisme" kembali lahir meskipun dengan format yang menyesuaikan. Sengketa wilayah perbatasan, perebutan suatu daerah sering kali bermuara karena suatu alasan untuk penguasaan sumber daya alam.

Keempat, ketahanan kesehatan. Di balik semua profil ketahanan yang disampaikan di atas, ada lagi penentu akhir kalkulasi kekuatan pertahanan, yaitu tingkat kesehatan manusianya. Sehebat apa pun senjata dan peralatan, jika manusianya sakit- sakitan maka senjata tersebut tidak bisa digunakan secara optimal.

Bagaimana militansi tempur akan terjaga, jika ksatria-ksatria penjaganya tergeletak di atas ranjang rumah sakit. Lahirnya konsep senjata biologis untuk membobol pertahanan negara lain dengan menciptakan "penyakit" yang membuat manusianya lemah. Tidakkah kita melihat banyaknya peringatan dini, tatkala banyak penyakit baru yang muncul akhir-akhir ini. Apakah model berpikir kita masih seperti anak polos yang hanya menduga sekadar pancaroba musim dengan menisbikan variabel- variabel lain dari upaya pelemahan kekuatan.

Kelima, ketahanan mental spiritual. Di samping soal kesehatan fisik yang harus diperhatikan, juga masalah kesehatan mental spiritual. Berapa pun besar jumlah rakyatnya kalau mental spiritualnya tidak sehat justru akan merusak ketahanan dari dalam. Contohnya, berapa banyak uang negara yang hilang di tangan para koruptor yang secara fisik mereka sehat dan pintar, tapi karena mental spiritualnya tidak sehat maka negara bisa rusak.

Uang Negara yang seharusnya dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan warganya, malah digunakan untuk kepentingan sendiri. Betapa banyak rakyat yang menderita karena ulah mereka. Mereka berpesta di atas derita dan air mata rakyatnya sendiri.

Karea itu, tandasnya, sudah saatnya bangsa Indonesia mengintegrasikan lima pilar ketahanan ini agar negara Indonesia tetap jaya. "Ada pepatah jangan coba-coba bangunkan macan tidur, tapi juga harus ingat jangan biarkan macannya tidur keterusan," tegasnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT