Kapolri Imbau Kerja Sama Antar Negara Bendung Radikalisme

Kapolri Jenderal Tito Karnavian berbicara panjang lebar soal terrorism, cybercrime, and national security dalam 3rd International Conference on Contemporary Social and Political Affair yang diselenggarakan oleh Fakultas ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis, 7 September 2017. (Beritasatu.com/Farouk Arnaz)

Oleh: Farouk Arnaz / CAH | Kamis, 7 September 2017 | 11:53 WIB

Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian berbicara panjang lebar soal terorisme, kejahatan siber dan keamanan nasional  dalam 3rd International Conference on Contemporary Social and Political Affair yang diselenggarakan oleh Fakultas ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga, Surabaya, Kamis (7/9).

Pada konferensi yang diselenggarakan di Garden Palace Hotel Surabaya ini juga hadir pembicara lain. Diantaranya Gubernur Lemhanas Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo, Prof. Peter Grabosky (ANU College of Asia and the Pacific), Prof. Hisae Nakanishi (Global studies, Dosisha University of Kyoto), dan Dr. Robbie Peters (Director of Development Studies University of Sydney)

"Terorisme yang terjadi di Indonesia saat ini tidak terlepas dari fenomena global yang dimulai sejak berakhirnya era perang dingin antara negara Barat dengan Timur. Dalam salah satu fasenya, dalam era ini, adalah penggunaan proxy oleh negara Barat untuk membendung hegemoni Uni Sovyet di Timur Tengah," kata Tito dalam rilis yang diterima Kamis.

Caranya, proxy yang paling memungkinkan digunakan saat itu adalah "meminjam tangan" kelompok Islam oleh kelompok Barat yang dibungkus dengan isu Islam melawan penjajah komunis Sovyet.

"'Maka di Afghanistan, yang mayoritas penduduknya beragama Islam, mereka bersemangat perang melawan Komunis.

Mujahidin pun berdatangan dari segala penjuru dunia ke Afghanistan untuk memerangi Uni Soviet," urainya.

Oleh Barat, di bawah komando Amerika Serikat, mereka ini, didukung peralatan perang, dana, maupun kemampuan perang.

Setelah perang ini selesai, dengan dimenangkan Islam, dalam hal ini Mujahidin yang didukung Amerika dan sekutunya itu, kelompok Islam yang telah memiliki kemampuan perang, intelijen, dan peralatan yang diperoleh selama perang melawan Uni Sovyet itupun kembali ke khitahnya atau ke tujuan asalnya.

Di dalamnya termasuk ada Osama bin Laden yang belakangan membentuk Al Qaedah itu.

"Yakni untuk mengembalikan kejayaan Islam dengan doktrin Salafi Jihadi. Doktrin ini mengkafirkan semua orang yang berada di luar atau bertentangan dengan ide kelompoknya," sambungnya.

Mereka juga berupaya mencapai cita-cita membentuk kekhalifahan. Caranya mereka memulai dengan membentuk wilayah-wilayah yang dinamakan qoidah aminah atau wilayah aman.

Mereka berharap wilayah ini semakin hari semakin meluas. Hal ini bisa dilihat bagaimana mereka mencoba untuk membangun qoidah aminah di Poso pada akhir 90'an hingga awal 2000-an namun berhasil digagalkan oleh Polri.

Sekarang, kelompok yang terafiliasi dengan teror pun, tengah berjuang untuk membangun qoidah aminah di Marawi, Filipina, sebagai hub atau cabang qoidah aminah yang ada di Syria.

Bagi kelompok Salafi Jihadi, masih kata Tito, selain 5 rukun Islam, mereka menerapkan menambah menjadi 6, yang terakhir adalah jihad dalam arti berperang.

Para tokoh radikal yang berada di Suriah pun telah mengeluarkan fatwa untuk tidak perlu datang ke Suriah untuk melaksanakan jihad, tapi dapat dilakukan di daerah masing-masing.

Makanya di Indonesia muncul aksi teror yang terkait ISIS dan bagi yang tinggal di Asia Tenggara, bisa melaksanakannya di Marawi.

Kehadiran kemajuan teknologi dibidang informasi dan komunikasi, yang melahirkan cyber space, memberi peluang yang lebih luas bagi kegiatan terorisme ini untuk menyebarkan pengaruhnya.

Tak ayal muncul juga lone wolf yaitu individu yang berjuang atau berjihad sendiri. Mereka tidak terafiliasi secara fisik dengan kelompok radikal manapun dan mereka menjadi radikal karena terhubung dengan motivatornya melalui internet. Terorisme masuk dalam era baru.

Ini yang dikenal dengan nama self radicalization dan membentuk leaderless jihad atau jihad tanpa pemimpin maupun struktur organisasi, yang tentu tidak seperti era Jemaah Islamiyah- yang disebut Tito sebagai era first wave.

"Maka hal yang perlu dilakukan untuk membendung aksi radikal ini, kepada negara-negara, saya mengimbau perlunya meningkatkan kerja sama antar negara, baik ditingkat regional maupun internasional, juga dengan lembaga-lembaga non state, untuk menciptakan atmosfer yang lebih baik di dunia Islam, dan tidak untuk melemahkan Islam," pesannya.

Juga perlu penggunaan pendekatan yang lebih lunak, maupun upaya paksa menggunakan kekuatan secara bersamaan dan proporsional dengan didukung saling tukar informasi, best practices, dan peralatan yang didukung teknologi tinggi, diantara negara-negara di dunia.

Juga seminimal mungkin menggunakan kekuatan militer yang akan menimbulkan collateral damage, kecuali tidak ada pilihan lain.

Tito, yang berbicara selama satu jam dengan bahasa Inggris itu, tak ketinggalan mengimbau seluruh negara di dunia maupun lembaga lembaga selain negara, untuk membentuk norma-norma yang adil, dalam rangka terbentuknya aturan bersama yang lebih konstruktif.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT