Dirjen Hubla Sebut Uang Suap Didapatkan dari Tuhan

Antonius Tonny Budiono. (Antara)

Oleh: Fana Suparman / YUD | Selasa, 12 September 2017 | 19:34 WIB

Jakarta - Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Dirjen Hubla Kemhub) Antonius Tonny Budiono rampung diperiksa sebagai tersangka kasus dugaan suap terkait perizinan dan proyek-proyek di lingkungan Ditjen Hubla, Selasa (12/9). Sejumlah awak media yang telah menunggu langsung mengonfirmasi Tonny dengan sejumlah pertanyaan. Namun, Tonny menjawab berbagai pertanyaan tersebut dengan berkelakar.

Mengenai sumber uang hingga sebesar Rp 20 miliar lebih yang ditemukan di Mess Perwira Ditjen Hubla misalnya, Tonny menyebut uang tersebut berasal dari Tuhan.

"Itu duit dari Tuhan," kata Tonny sembari tersenyum di Gedung KPK, Jakarta, Selasa (12/9).

Demikian juga halnya saat Tonny ditanya seputar sumber uang yang diduga berasal dari beberapa kepala pelabuhan. Menurut informasi, saat operasi tangkap tangan Tonny mengaku kepada Tim Satgas KPK bahwa sebagian uang dari Rp 20 miliar itu berasal dari sejumlah kepala pelabuhan.

"Syahbandar dari langit," kata Tonny sambil tertawa.

Saat menggeledah Mess Perwira Ditjen Hubla, KPK menyita sekitar 50 barang karena diduga hasil gratifikasi. Sejumlah barang yang disita itu diantaranya, lima buah keris, satu tombak, dan lebih dari lima jam tangan serta lebih dari 20 cincin serta batu akik dengan ikatan yang diduga lapis emas kuning dan emas putih. Disinggung mengenai barang-barang tersebut, Tonny pun kembali melontarkan gurauan.

"Keris itu untuk perang Bratayudha," kata Tonny.

Demikian juga halnya saat dikonfirmasi mengenai materi pemeriksaan kali ini, Tonny yang pernah menerima penghargaan Satyalancana pun kembali berkelakar.

"Pemeriksaan tentang dunia akhirat," kata Tonny.

Diketahui, Tonny diduga menerima suap dari sejumlah pihak terkait perijinan dan proyek-proyek di lingkungan Ditjen Hubla. Salah satunya, suap itu diterima Tonny dari Komisaris PT Adhi Guna Keruktama, Adiputra Kurniawan terkait pengerjaan pengerukan pasir di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, Jawa Tengah.

KPK telah menetapkan Tonny sebagai tersangka penerima suap dan gratifikasi dengan dijerat Pasal 12 huruf a dan Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Sementara Adiputra yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Tipikor juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT