Ayin Beberkan Korupsi SKL BLBI ke KPK

Artalyta Suryani (Antara/Hafidz Mubarak)

Oleh: Fana Suparman / YUD | Rabu, 13 September 2017 | 15:43 WIB

Jakarta - Pemilik PT Alam Surya Artalyta Suryani alias Ayin rampung diperiksa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (13/9). Ayin diperiksa sebagai saksi kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (SKL BLBI) kepada pemegang saham pengendali Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Sjamsul Nursalim.

Keterangan Ayin yang merupakan kerabat Sjamsul ini dipergunakan penyidik KPK untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung.

Ayin mengaku sudah membeberkan seluruh hal yang diketahuinya terkait kasus ini kepada penyidik KPK yang memeriksanya selama sekitar tiga jam. Namun, Ayin masih enggan membeberkan mengenai materi pemeriksaannya ini.

"Semua sudah disampaikan ke penyidik yah," kata Ayin usai diperiksa penyidik di Gedung KPK, Jakarta, Rabu (13/9).

Untuk itu, Ayin meminta awak media mengonfirmasi mengenai materi pemeriksaannya kali ini kepada KPK. "Tanya saja penyidik," katanya.

Selanjutnya, Ayin enggan berkomentar apapun lagi. Dengan dikawal tiga orang bertubuh tegap, Ayin menerobos awak media menuju mobil yang telah menunggunya di pelataran Gedung KPK.

Jubir KPK, Febri Diansyah mengatakan, pemeriksaan terhadap Ayin untuk melengkapi berkas penyidikan dengan tersangka Syafruddin. Pemeriksaan ini merupakan penjadwalan ulang lantaran Ayin mangkir dari pemanggilan sebelumnya pada Selasa (5/9).
"Penjadwalan ulang dari pemeriksaan 5 September lalu. Diperiksa untuk tersangka SAT (Syafruddin Arsjad Temenggung)," kata Febri.

Pemeriksaan ini diduga dilakukan penyidik untuk mendalami keterkaitan antara Artalyta dengan pendiri PT Gajah Tunggal Tbk Sjamsul Nursalim. Kasus suap terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan yang membuat Ayin divonis 5 tahun penjara diketahui terkait dengan penanganan kasus BLBI Sjamsul Nursalim yang dilakukan Kejaksaan Agung. Sementara, kasus yang menjerat Syafruddin terkait dengan SKL BLBI yang diterbitkan BPPN kepada Sjamsul selaku pemegang saham pengendali Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI).

Dalam kasus ini, Syafruddin diduga telah menguntungkan diri sendiri, atau orang lain atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara dalam penerbitan SKL kepada Sjamsul. Padahal, Sjamsul masih memiliki kewajiban sebesar Rp 3,7 triliun. Akibatnya, keuangan negara ditaksir menderita kerugian hingga Rp 3,7 triliun.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Syafruddin disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Dalam pengusutan kasus ini, KPK telah dua kali memanggil Sjamsul dan istrinya, Itjih Nursalim untuk diperiksa. Namun, bos Gajah Tunggal Tbk itu tak pernah memenuhi panggilan alias mangkir. Padahal, sebagai obligor, Sjamsul diduga mengetahui banyak hal mengenai kasus korupsi ini.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT