RI-Uni Eropa Tingkatkan Kerja Sama Pendidikan dan Pelatihan Pertahanan

Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan (FMP) Universitas Pertahanan (Unhan) Laksamana Muda Amarulla Octavian berbincang dengan Wakil Duta Besar Uni Eropa Charles Michel Geurtz pada acara "European Union Defense Attaches Meeting" yang digelar di Jakarta, Rabu, 13 September 2017. (Istimewa/Asni Ovier/Istimewa)

Oleh: Asni Ovier / AO | Rabu, 13 September 2017 | 21:36 WIB

Jakarta - Indonesia dan Uni Eropa bertekad untuk meningkatkan kerja sama pendidikan dan pelatihan di bidang pertahanan. Bagi Indonesia, kerja sama itu bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan profesionalitas TNI.

Hal itu diungkapkan Dekan Fakultas Manajemen Pertahanan (FMP) Universitas Pertahanan (Unhan) Laksamana Muda Amarulla Octavian pada acara "European Union Defense Attaches Meeting" yang digelar di Jakarta, Rabu (13/9).

Acara itu dihadiri Wakil Duta Besar Uni Eropa Charles Michel Geurtz dan 15 atase pertahanan dari negara-negara anggota Uni Eropa. Paparan Dekan Unhan yang berjudul "International Cooperation in the Area of Defense Education and Training: Indonesia Perspective" banyak membahas peluang peningkatan kerja sama antara Unhan dengan seluruh negara anggota Uni Eropa dalam kerangka ASEAN Political-Security Community. Kerja sama itu juga untuk pencapaian akreditasi internasional Unhan sebagai "World Class Defense University" pada 2024.

Pertemuan tersebut membahas kerja sama pertahanan ke depan dan juga dimaksudkan sebagai bentuk tindak lanjut kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Brussels pada 21 April 2016. Beberapa rencana kerja sama juga selaras dengan hasil pertemuan pertama Komite Bersama dalam kerangka Partnership and Cooperation Agreement (PCA) antara Indonesia dan Uni Eropa yang juga diselenggarakan di Brussels pada 28 dan 29 Novmber 2016.

"Kerja sama internasional dalam rangka pendidikan dan latihan lebih diarahkan untuk meningkatkan profesionalitas prajurit TNI sekaligus membangun Confidence Building Measures (CBM). Untuk meningkatkan mutu pendidikan, fokusnya adalah mencapai tingkat kesetaraan ilmu pertahanan melalui pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian bersama, penyelenggaraan bersama seminar-seminar internasional, dan publikasi ilmiah," ujar Octavian.

Sementara, ujarnya, untuk meningkatkan pelatihan, fokusnya adalah standarisasi kompetensi dan kapasitas militer melalui penetapan parameter kompetensi bintara-tamtama. Selain itu, peningkatan kapasitas perwira, efektifitas operasi militer, efisiensi latihan militer, dan dukungan logistik.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT