Program Pendalaman Kitab Kuning Dinilai Terobosan Keilmuan

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta, Kiai Ahmad Syafi'i Mufid, saat menggelar pertemuan dengan Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi, di Aula Bappeda Purwakarta, Jawa Barat. (Istimewa)

Oleh: Fana Suparman / FER | Rabu, 13 September 2017 | 21:56 WIB

Jakarta - Program pendalaman kitab kuning ke dalam kurikulum muatan lokal sekolah umum di Kabupaten Purwakarta terus mendapat apresiasi.

Ketua Forum Komunikasi Umat Beragama Provinsi DKI Jakarta, Kiai Ahmad Syafi'i Mufid, menilai, program pendalaman kitab kuning ini merupakan langkah besar dalam penguatan ilmu pengetahuan agama.

"Ini langkah strategis dan tepat. Ada sinergi antara pola pendidikan di sekolah umum dengan pola pendidikan pesantren. Sangat aplikatif sekali," kata Ahmad Syafi'i dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (13/9).

Ahmad mengatakan, pola pengajaran agama di sekolah umum saat ini masih terkesan general dan tidak spesifik. Untuk itu, Ahmad menyatakan, masuknya pendalaman kitab kuning dalam kurikulum merupakan terobosan dan transfer keilmuan tradisi keislaman dapat dipahami oleh para pelajar muslim.

"Sekolah terpadu semacam ini ada, tetapi biasanya dikelola oleh swasta. Ini value-nya dimasukan ke dalam kurikulum sehingga terintegrasi, saya kira memudahkan transfer keilmuan kepada pelajar," tambahnya.

Setelah bertemu dan berdialog langsung dengan Bupati Purwakarta, Ahmad secara tegas menyatakan, Dedi Mulyadi tidak menyimpang dari ajaran Islam. Bahkan, menurut Ahmad, Dedi merupakan seorang muslim yang memiliki pemikiran luar biasa.

"Awalnya saya kira menyeramkan, ternyata tidak. Waktu bertemu, kita gali pemikirannya, kita gali programnya dalam kebijakan yang beliau lakukan ternyata beliau ini luar biasa. Saya pastikan Dedi Mulyadi sama sekali tidak musyrik,” tegasnya.

Beberapa isu terkait kereta kencana, pohon yang dibalut dengan kain hitam putih dan pembangunan aneka patung wayang menjadi topik tabayyun para tokoh Agama di DKI Jakarta tersebut. Semua isu itu terbantahkan setelah Ahmad berdialog langsung dengan Dedi.

"Semuanya kami tanyakan, kita tabayyun, tidak boleh langsung menghakimi, pohon dibalut kain itu agar tidak dipaku oleh para pemasang gambar, kereta kencana kan malah sering dipinjam oleh Istana Negara, soal patung juga itu bentuk karya seni," jelasnya.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT