Megawati: Politik Pendidikan Harus Berorientasi Pembangunan Karakter Pancasila

Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri (kiri) berfoto bersama Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), Ganefri. Megawati mendapatkan Doktor Kehormatan (Doctor Honoris Causa) dari Universitas Negeri Padang, Rabu, 27 September 2017. (Twitter Universitas Negeri Padang)

Oleh: Markus Junianto Sihaloho / YS | Rabu, 27 September 2017 | 14:24 WIB

Padang - Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri menegaskan, politik pendidikan yang harus dibangun adalah yang berorientasi pada pembangunan mental dan karakter bangsa, nation and character building. Dan pembangunan ‎karakter itu haruslah berbasis Pancasila.

Hal itu disampaikannya dalam orasi ilmiah untuk memperoleh gelar Doktor Kehormatan (Honoris Causa) Bidang Politik Pendidikan dari Universitas Negeri Padang (UNP), Rabu (27/9).

Dalam pidato ilmiahnya yang berjudul "Politik Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan", Megawati menekankan bahwa ilmu pengetahuan tidak berdiri sendiri. Selalu ada relasi antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan.

Bagi Megawati kekuasaan yang tercermin dalam politik pendidikan Indonesia harus tetap berpijak dan tidak boleh bergeser dari Pancasila. Karena Pancasila "way of life" Bangsa Indonesia.

"Way of life dalam Pendidikan untuk membebaskan rakyat dari kebodohan, keterbelakangan dan kemelaratan. Way of life dalam pendidikan untuk mewujudkan kemakmuran dan keadilan sosial," tegas Megawati.

Bagi Megawati pendidikan tidak hanya berguna untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berilmu dan memiliki daya siang. Pendidikan dibutuhkan untuk melahirkan manusia yg berkarakter, bersikap kritis dan memperjuangkan ilmu, tidak hanya untuk ilmu.

Untuk menggambarkan itu, Megawati bercerita soal Pendiri RI Soekarno yang sudah berdialektika sejak berumur 29 tahun di tahun 1930. Dia tidak tunduk pada intimidasi penjajah yang melarang pembentukan organisasi politik, Partai Nasional Indonesia.

Di sel penjara Banceuy, Bung Karno menulis pembelaan politik, sebuah gugatan atas nama rakyat Indonesia, 'Indonesia Menggugat'. Bung Karno bukan hanya mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Gugatan ilmiah yang tajam dilontarkannya pula kepada imperialisme dan kapitalisme internasional yang menciptakan tragedi kemanusiaan.

Indonesia Menggugat adalah kaya akan literatur dan referensi ilmiah. Bung Karno mensitir 60 pemikir dunia, mulai dari yang beraliran nasionalis, marxis, hingga humanis radikal. Pisau analisa yang digunakannya adalah pemikiran dari Mustafa Kamil, Sun Yat Sen, Naidu, Karl Kautsy, Karl Marx, Sneevliet, hingga Jean Jaures. Menyitir satrawan August de Wit, termasuk ekonom Rudolf Hilferding, dan sebagainya.

"Hal penting yang diajarkan Bung Karno ialah, boleh saja kita pelajari berbagai pemikiran tokoh dunia, boleh saja kita mengenyam pendidikan di luar negeri, namun jangan pernah lari dari jati diri dan karakter bangsa sendiri," kata Megawati.

Menurut Megawati, Pancasila adalah dasar dan ideologi negara. Karena itu, politik pendidikan Indonesia tidak boleh bergeser dan harus tetap berpijak pada Pancasila.

Pancasila merupakan satu-satunya pedoman, penuntun, cita-cita dan tujuan politik pendidikan Indonesia.




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT