Pengembangan Pariwisata dan Kuliner Harus Selaras Budaya Bangsa

Sekjen PDIP, Hasto Kristiyanto (keempat dari kanan), bersama Ketua DPP PDIP bidang Pariwisata, Wiryanti Sukamdani (dua dari kiri), dalam rapat koordinasi bidang pariwisata sekaligus seminar nasional, di kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta, Sabtu (30/9). (Beritasatu Photo/Markus Junianto Sihaloho)

Oleh: Markus Junianto Sihaloho / FER | Sabtu, 30 September 2017 | 16:32 WIB

Jakarta - Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) Bidang Pariwisata sekaligus seminar nasional dalam rangka sinergi pengembangan pariwisata dan kuliner dengan program pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Rakor yang digelar di Kantor DPP PDIP ini, menghadirkan sejumlah pembicara diantaranya, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya, dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

Sekjen DPP PDIP, Hasto Kristiyanto dalam sambutan pebukaan acara meyampaikan, bicara pariwisata dan kuliner Nusantara harus berangkat dari kecintaan yang berkobar-kobar kepada negeri ini.

"Tanpa itu, pariwisata tidak akan berkembang sebagaimana kita harapkan," kata Hasto, Sabtu (30/9).

Hasto kemudian menceritakan soal keindahan pariwisata yang dituangkan Bung Karno dalam puisi Aku Melihat Indonesia. "Dalam puisi tersebut, Bung Karno menggambarkan bagaimana Indonesia begitu kaya dengan budayanya," kata Hasto.

Hasto juga menceritakan bagaimana Bung Karno begitu mengagumi kekayaan kuliner Nusantara sehingga menulis buku Mustika Rasa. Buku ini, lanjut dia, memuat ribuan aneka bahan dan resep makanan Nusantara.

"Buku itu dibuat selama tujuh tahun yang isinya penjabaran atas kekayaan Indonesia. Dalam buku itu, menampilkan bagaimana kekayaan Indonesia dari sisi budaya dan kulinernya," tambah Hasto.

Hasto mengungkapkan, hanya Indonesia sebuah negara yang begitu kaya dan dikaruniai seluruh bumbu berbagai resep makanan dan masakan. Demikian juga soal pariwisata, Indonesia dikaruniai begitu banyak keindahan alamnya.

"Bicara pariwisata dalam perspektif budaya sangat luas. Maka, mari kita gelorakan semangat berdikari dalam budaya kita, untuk pariwisata kita, untuk kuliner kita" tukasnya.

Untuk bisa mandiri, kata Hasto, semisal makan jagung dan tiwul itu bukan cermin masyarakat miskin. Tetapi itu harus menggambarkan kekuatan budaya bangsa ini daripada harus makan dari produk impor. Demikian juga soal pengembangan wisata yang harus tetap pada budaya dan kearifan lokal bangsa ini yang begitu beragam.

"Jangan sampai pariwisata kehilangan maknanya karena meninggalkan budaya," pungkasnya.




Sumber: BeritaSatu.com
ARTIKEL TERKAIT