Tingkatkan Pengawasan Orang Asing

Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta Gelar Operasi Senyap

Petugas Imigrasi sedang memeriksa paspor salah salah penumpang pesawat. (bandarasoekarnohatta.com)

Oleh: Gardi Gazarin / PCN | Sabtu, 7 Oktober 2017 | 14:31 WIB

Jakarta- Kepala Imigrasi Kelas 1 Khusus Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten, Enang Supriyadi Syamsi SH menegaskan, pihanya akan meningkatkan pengawasan terhadap pergerakan orang asing melalui bandara internasional tersebut. Langkah tersebut ditempuh untuk mencegah perdagangan manusia yang dilakukan oleh sindikat internasional. Untuk itu, pihaknya menggelar operasi senyap dengan sasaran warga negara asing (WNA) di bandara terbesar di Indonesia tersebut.

Enang Supriyadi Syamsi yang ditemui SP di ruang kerjanya, Jumat (6/10) sore mengatakan, operasi senyap ini merupakan salah satu program 100 hari dirinya yang baru dilantik sebagai Kepala Imigrasi kelas 1 Khusus Bandara Soekarno-Hatta. Mantan ajudan Jaksa Agung Baharuddin Lopa ini mengatakan, para sindikat internasional  ini kerap memanfaatkan kelengahan petugas di saat "jam mati" yakni sekitar pukul 24.00 hingga dini hari untuk melakukan aksinya.

Dikatakan, para pelaku biasa memanfaatkan "jam mati" ini untuk terbang ke negara tujuan, karena mereka tahu pada saat tersebut petugas biasanya kurang awas setelah bertugas seharian. Karena itu, dengan dilakukan operasi senyap ini, dia berharap, aksi sindikat ini bisa dibasmi.

Mantan Atase di Kedubes RI Malaysia tersebut menjelaskan, pelaku dan korban sama-sama orang asing, namun mereka menjadikan Indonesia sebagai negara transit, sebelum menuju ke negara tujuan utama mereka, seperti negara-negara di Eropa. Enang menyebutkan, sindikat dan korban ini di antaranya berasal dari  Nepal, Bangladesh, dan India.

Ia mengatakan, mereka masuk ke Indonesia secara resmi, kemudian dokumennya dibuang. Selanjutnya, dengan dokumen palsu yang sudah disiapkan, mereka berangkat ke Eropa. "Dokumen yang digunakan ini mereka pesan dari sindikat pemalsu dokumen di Malaysia. Kini Imigrasi berkoordinasi dengan Interpol Polri untuk mengusut tuntas kasus tersebut," tandasnya.

Disebutkan, untuk mencegah aksi sindikat ini, pihaknya juga menurunkan sejumlah petugas intelijen khusus yang berpakaian preman untuk membantu petugas Imigrasi melacak dan memberantas aksi sindikat internasional tersebut.

Enang mengungkapkan, hasil operasi senyap yang dilakukan ini sudah terlihat hasilnya di mana dalam satu bulan terakhir ini pihaknya berhasil mengungkap 20 kasus pemalsuan dokumen. Sedangkan, terkait kasus penjualan orang, pihaknya berhasil mengamankan lima orang yang hendak terbang ke Eropa. Dari lima orang tersebut, dua di antaranya pelaku dan tiga orang lainnya adalah korban.

Selain persoalan sindikat perdagangan orang, pihak Imigrasi Bandara Soekarno-Hatta juga menghadapi berbagai modus orang asing yang ingin mengelabui petugas dengan memanfaatkan kesibukan Bandara Soekarno-Hatta dan juga kelengahan petugas.

Disebutkan, dalam sebulan terakhir ini, pihak Imigrasi menolak puluhan warga asing yang hendak masuk ke Indonesia karena dokumennya bermasalah.

Selain itu, ada juga dua warga negara Sudan yang hendak masuk ke Indonesia untuk mencari suaka. Awalnya kedua orang itu masuk menggunakan dokumen wisatawan. Dua hari kemudian mereka mendatangi UNHCR untuk minta bantuan suaka. Dokumen untuk suaka sendiri sudah mereka persiapkan dari negaranya. Hal ini juga yang menjadi alasan Menko Polhukam Wiranto meminta UNHCR agar tidak terlalu gampang mengabulkan permintaan suaka warga negara asing dalam waktu singkat. Hal ini penting untuk mencegah sedini mungkin masuknya WNA yang ingin meminta suaka.

"Kesibukan di bandara yang menjadi kebanggaan Indonesia ini memang sungguh luar biasa. Dalam satu bulan sekitar 300.000 wisatawan asing masuk ke Indonesia melalui Bandara Soekarno-Hatta. Yang paling banyak dari Tiongkok disusul negara-negara Arab. Begitu juga warga negara Indonesia yang berangkat keluar negeri setiap bulan tercatat 300.000 lebih lebih. Jadi, kesibukannya memang luar biasa. Makanya, wajar saja, ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi ini. Itulah mengapa perlu dilakukan operasi senyap," paparnya.

Terkait operasi senyap ini, beberapa waktu lalu, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta menggelar pengarahan tengah malam untuk memberikan motivasi kepada para pegawai Imigrasi guna membangun jiwa dan semangat pelayanan.

Rapat pengarahan, penguatan, serta pelaksanaan tugas dan fungsi keimigrasian ini dimulai pukul 23.35 WIB dan berakhir pada pukul 00.30 WIB. Rapat yang digelar pada Rabu (4/10) dini hari tersebut dihadiri oleh Direktur Intelijen Direktorat Jenderal Imigrasi, Yudi Kurniadi, Kepala Kanwil DKI Jakarta, Bambang Sumardiono, dan Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil DKI Jakarta Agus Widjaja. Rapat ini juga dihadiri oleh 215 peserta yang meliputi pejabat struktural dan pegawai unit A, B, dan C.

Enang menegaskan, rapat pengarahan dan penguatan tugas ini tidak terlepas dari nilai strategis Bandara Soekarno-Hatta sebagai gerbang utama negara yang sekaligus menjadi etalase bangsa.

Pembenahan Internal

Sementara itu, terkait pembenahan internal, Enang Supriyadi Syamsi SH mengatakan ia akan fokus membenahi dan memperkuat soliditas internal, perbaikan manajemen, dan pemantaban sumber daya manusia.

"Selama saya mengabdi dalam pekerjaan, saya selalu mengutamakan soliditas dengan kekompakan, disiplin bekerja yang merupakan tanggung jawab bersama dan yang harus dipatuhi untuk menghasilkan kinerja baik. Selain itu, kita juga harus menjalankan amanah sesuai tuntutan masyarajat," ujar Enang Supriyadi Syamsi.

Menurut Enang, sebagai kepala atau pimpinan itu ibarat peran sebagai seorang ayah untuk memberi motivasi dan semangat kerja kepada 600 pegawai Imigrasi Khusus Kelas 1 Bandara Soekarno-Hatta. Tugas utama lainnya, lanjut Enang, adalah memastkan agar ratusan buahnya itu harus benar-benar bertugas sebagai penjaga pintu terakhir keluar masuk manusia dalam dan luar Indonesia via Imigrasi kelas satu khusus Bandara Soekarno-Hatta.

Menurut Enang, untuk memenuhi kinarja yang baik tidak cukup hanya disiplin saja, namun dibutuhkan sikap kebapakan dalam memimpin. Karena itu, Enang tidak segan-segan menjewer anak buahnya yang nakal, tetapi haram baginya membunuh karir anak buah.

"Saya berprinsip sebandel apa pun anak buah pasti akan menurut ketika disentuh hati nuraninya. Perlakukan anak buah seperti anak dengan seorang ayah. Jangan mentang-mentang pimpinan terus kita bertindak kasar terhadap anak buah," paparnya.

Ia meyakini, dengan melakukan semua hal tersebut di atas maka niscaya segala pekerjaan akan beres. Sebagai pimpinan, tuturnya, harus selalu berada di tengah-tengah anak buah agar sama-sama bisa merasakan suka duka di lapangan. Lebih dari itu, ujarnya, jangan ada rasa sakit hati, apalagi dendam terhadap anak buah yang melakukan kesalahan.

"Sentuh hati nuraninya pasti dia akan berubah. Sebaliknya, jika pimpinan menjadikan anak buah sebagai musuh maka otomatis hasil kerja pun akan berantakan," ungkap Enang.

 




Sumber: Suara Pembaruan
ARTIKEL TERKAIT