Fenomena El Nino Picu Kekeringan di NTT

Ilustrasi badai El Nino ()

Oleh: / WBP | Minggu, 8 Oktober 2017 | 14:04 WIB

Kupang - Pengamat Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Dr Ir Leta Rafael Levis, M.Rur.Mnt, mengatakan fenomena El Nino memicu kekeringan di 14 kabupaten dari 22 kabupaten di Nusa Tenggara Timur.

"Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melaporkan meluasnya pemutihan (bleaching) terumbu karang di seluruh perairan Indonesia di 2015 hingga pengujung 2016 disebabkan peningkatan suhu air laut akibat anomali cuaca El Nino," katanya di Kupang, Minggu (8/10).

Ia mengatakan secara rata-rata, berdasarkan hasil monitoring jangka panjang (sejak 1993), terjadi kecenderungan peningkatan kondisi terumbu karang Indonesia ke arah yang lebih baik, walaupun di pengujung 2016 terjadi sedikit penurunan.

Penurunan kondisi terumbu karang tersebut disebabkan pada 2015 dan 2016 hampir di seluruh perairan Indonesia dilaporkan terjadi pemutihan karang yang diikuti dengan infeksi penyakit dan serangan hama.

Ketua Penyuluh Pertanian NTT itu menjelaskan pemutihan karang ini disebabkan oleh kenaikan suhu air laut akibat fenomena anomali cuaca El Nino, dan para ahli memperkirakan pemutihan karang akan sering terjadi di masa yang akan datang akibat kombinasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global.

Pada sisi lain, ia mengatakan hasil pengamatan di lapangan pada beberapa lokasi masih ditemukan aktivitas merusak, seperti penangkapan ikan menggunakan bom, pencemaran dan peningkatan pengembangan di wilayah pesisir. "Kalau pada September diprediksi hanya akan melanda sekitar 270 desa bisa mencapai 315 dari total 3.248 desa di NTT, maka saat ini Oktober bisa lebih meluas lagi akibat El Nino," katanya.

"Artinya, hanya ada 315 dari 3.248 desa/kelurahan yang tersebar di 303 kecamatan dalam 21 kabupaten provinsi ini yang telah dilanda kekeringan akibat El Nino," katanya.

Ia mengatakan musim hujan pada muim tanam tahun ini sulit diprediksi karena selain hujan yang sifatnya sporadis, belakangan ini justru terjadi panas berkepanjangan dimusim hujan karena berbagai macam faktor penyebab.

Sebelumnya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nusa Tenggara Timur melaporkan sebanyak 14 dari 22 kabupaten/kota di Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan dilanda kekeringan. Daerah yang dilanda kekeringan yakni kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Malaka, Belu, Lembata, Flores Timur, Sikka, Manggarai Barat, Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat Daya (SBD), Rote Ndao dan Sabu Raijua.

Sedangkan tiga kabupaten, pemerintah daerah setempat sudah melakukan antisipasi dengan anggaran di APBD masing masing di tahun 2017, yaitu Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) dan Kabupaten Sumba Barat.




Sumber: ANTARA
ARTIKEL TERKAIT